
Entah mengapa, setelah pertemuannya dengan Maru kemarin sedikit mengobati rasa rindu yang ia sembunyikan selama hampir dua tahun kebelakang. Tapi, Sora harus menerima kenyataan kembali. Bahwasanya laki-laki itu sudah kembali lagi ke kota, ke rumahnya. Seharusnya dia tidak perlu merasa kecewa, bukankah dirinyalah yang meminta Maru untuk pergi.
Ya, ini benar.
Ini yang terbaik.
Aku harus memulai hidup aku kembali.
Jangan runtuh seperti kemarin.
Maria? Toh, dia juga masih berhubungan dengan wanita itu.
Haruskah aku menerima orang yang mencintaiku? Meskipun aku tidak mencintainya sama sekali?
Apakah dicintai akan lebih bahagia daripada mencintai?
“Heeeyy.... lamunin apa?” Suara Langit membuyarkan lamunannya.
“Bikin kaget aja! Siang-siang kok kesini kamu? Gak sibuk apa?” Tanya Sora.
“Gak juga, biasa aja. Gak sibuk-sibuk banget. Cuman pengen makan siang bareng aja sama kamu.” Jawabnya. “Wajah kamu sekarang lebih ceria daripada kemarin. Ada sesuatu yang baik?” Antusias.
“Gak ada. Cuman lagi bayangin jalan-jalan doang, kayaknya seru deh. Mau gak jalan-jalan ke taman bermain di kota sebelah?” Sora mengajaknya.
Langit yang merasa ada masalah dengan pendengarannya melorek santai telinganya.
“Kamu ajak aku ke taman bermain?” Ia memastikan dengan meletakkan tangannya di dadanya sendiri.
“Iya, aku ajak kamu. Aku udah ngebayangin naik viking, role coaster, naik wahana yang kayak gitu pokoknya.” Tangannya memperagakan dengan naik turun.
“Aku gak nyangka kamu ajak aku. Selama ini aku yang ajak kamu gak pernah mau.” Keluhnya.
__ADS_1
“Jadi kamu gak mau? Ya udah gak apa-apa.” Tandas Sora.
“Mau.. aku mau... kita berangkat. Kapan? Ayo...” Langit tersenyum lebar, saking lebarnya mungkin akan robek bibirnya. Ia menatap sesuatu yang ada dileher Sora.
Kalungnya masih dia pakai.
Apakah ada harapan?
Sora dan Langit berjalan-jalan mengelilingi taman bermain. Menaiki berbagai macam wahana. Tampak senyum bahagia tersirat jelas diwajah Sora. Tak terlewatkan, merekapun mencoba berbagai kuliner yang dijajajakan disana.
☆☆
Setelah seminggu berlalu. Menurut sudut pandang Langit, hubungan dirinya dan Sora mulai menunjukkan perubahan. Ia merasa bahwa wanita ini entah kapan akan menerimanya.
Aktivitas seperti biasa, sebelum pulang, Sora mampir ke warung Mba Santi. Ia menerima uang hasil jualannya. Tengah asik bercanda, suara nyaring yang menyebabkan jadi pusat perhatian, memanggil namanya.
“SO...RA....” Suara wanita yang Sora kenali terdengar begitu nyaring.
Risa berlari dari kejauhan menghampiri Sora. Keduanya berpelukan dengan sangat erat. Keduanya menangis melepas rasa rindu.
“Sora... dasar ka..mu jahat. Pergi tanpa pa.. mit..” Risa tergagap karena tangisan.
“Aku minta maaf. Aku gak ada pilihan.” Sora menjawabnya dengan terisak. Tidak lebay seperti Risa.
“Sekarang kamu jangan pergi lagi dari kita, okay?” Risa memegang wajah Sora.
“Kok kamu bisa tahu aku disini sih?” Sora heran
Risa memalingkan tubuhnya menunjuk dengan mulutnya. Terlihat segerombolan pria menuju warung Mbak Santi. Suami Risa dan anak, Rendi, Zaenal, paling terakhir muncul adalah pahlawan yang mempertemukan mereka, Maru.
Rendi memeluk Sora yang masih berpelukan dengan Risa.
__ADS_1
“Lo... udah bikin susah idup gue. Sekali lagi lo kabur gini. Gue gak bakal nyari lo lagi dah.” Gerutu Rendi dengan masih memeluk kedua wanita yang tak lain teman dekatnya.
Sora menatap Zaenal yang tidak bergeming. Dia tidak ikut bergabung dalam pelukan. Dia hanya menatap Sora dengan senyuman lemah. Kedua matanya bertemu. Sora menghampiri Zaenal, ia memeluk Zaenal. Kepalanya terbenam didada bidangnya. Tak tahan, Zaenal membalas pelukannya lebih erat. Tangisnya pecah.
“Kamu jangan pergi lagi. Kamu tahu seberapa gilanya kita cariin kamu.” Sora hanya menganggukan kepalanya yang masih berada didadanya. Hanya Maru yang tidak ia peluk.
“Kenapa kamu jadi kurus gini sih?” Risa meremas lengan Sora yang terlihat sangat kecil.
“Kurus apaan? Aku sehat kok. Kalian gimana kabarnya?” Sora berbalik bertanya.
“Kita semua sehat. Kok kamu tega sih tinggalin kita.” Risa melingkarkan tangannya ke lengan Sora.
“Oy.. nyerocos mulu. Gue juga mau ngomong kali.” Sarkas Rendi yang menggeser Risa dan langsung menempati tempat duduknya.
“Tahu gak. Kepergian lo, membuat gue, seorang Rendi menjadi detektif dadakan.” Ia menompang kepalanya menghadap Sora.
“Kok bisa?” Sora tersenyum sumringah.
“Ya iyaa lah... soalnya ni... orang-orang kurang ajar ini terus bergantian minta bantuan buat nyariin lo. Yang lebih nyebelin lagi, kok gue mau aja lagi.” Rendi merasa bodoh. “Lo jangan pergi lagi. Kalau mau pergi. Pamit dulu ama kita.” Mereka yang disana mentertawakan Rendi.
“Sekarang udah sore, kalian nginep dimana?” Tanya Sora.
“Kita nginep di penginapan tempat kamu kerja.” Kali ini Maru tak mau kalah dengan temannya yang terus ngoceh.
“Kamu juga tidur bareng kita disana, ya.. ya..? Kita udah lama kan gak ketemu. Ya...” Risa Membujuk Sora.
Sekilas Sora menatap Maru. Sepertinya keberadaannya sedikit tidak nyaman.
“Eeyyy.... mana ada aku nginep disana. Aku tidur dirumah aja. Kalau mau kamu nginep di aku aja. Biar cowok-cowok yang nginep disana. Kamu sendiri kan ceweknya.” Sora memberi saran.
“Kamu bener juga. Ayo... sekalian aku juga pengen ketemu Ibu.”
__ADS_1