
Hari ini Sora sedikit memakai aksesoris, dia memakai syal kecil dilehernya yang indah. Kesannya sangat elegan. Padahal dia menutupi semua tanda merah bekas gigitan kecil suaminya itu. Untung terlihat sangat stylish.
Sora terus berpikir bagaimana cara menghadapi Maru nanti. Dia sedikit canggung karena kejadian kemaren. Aahh... membayangkan tubuhnya dijelajahi Maru membuat dia tersipu. Ketika ingatan dia menuju ocehan dan ******* yang dikeluarkannya membuat dia malu setengah mati. Kenapa dia begitu kemarin. Mana dia masih merasa sakit di area bawahnya itu.
Jam makan siang tiba, seperti biasa Sora menuju kantin. Kali ini dia hanya makan sandwich. Tiba-tiba Zaenal sudah ada didepannya dan mengagetkan lamunannya.
“Kamu gak apa-apa, ka ?” tanya Zaenal dengan mata sedikit memancarkan kecemburuan .
“Em... aku gaka apa-apa. Emang ada apa?” dengan wajah heran.
“karena tadi malam kamu gak bales pesan dari aku, telpon juga gak diangkat terus. Kirain ada apa, kirain kalian berantem kemaren. “ berpura-pura tidak tahu.
“kamu telpon aku?”... dan dia baru ingat kalau handphonenya masih belum dia ambil.
“Aku lupa naro handphone kemaren. Nanti pulang dicari lagi deh... kamu sebenarnya mau ngapain kesini? Udah baikan?” tanyanya lagi.
“Ah.. aku mau beli barang-barang buat persiapan buka restoran lagi. Aku mau nanti sore kamu bantuin aku buat itung-itung bahan ya! Mau kondisi badan aku udah fit atau belum, harus siap-siap buka lagi. Kalau enggak, kasihan karyawan.” pintanya
“Mmmm... boleh. Nanti aku pulang kerja ke restoran kamu dulu. Coba sekarang kamu mau beli apa aja?” meminta Zaenal menyerahkan list belanjaannya.
Matanya terbelak melihat tangan Zaenal yang terluka, kanan kiri, masih terlihat sedikit darah di kedua telapak tangannya.
“ Hhaahh.. tangan kamu kenapa? Kok bisa kayak gini?” memegang dan memperhatikan tangan Zaenal dengan penuh khawatir.
“Ada barang pecah, terus lagi bersiin gak sengaja jatoh. Jadi tangan aku refleks menahan, eh tahunya aku malah memegang serpihan pecahan barang itu. Ya... jadi gini deh" membohongi wanita itu.
“Kamu pasti gak obatin kan?” masih dengan tatapan khawatir.
“gak apa-apa kok, cuman gini doang nanti juga sembuh.” Dengan senyuman hangat hangatnya.
“ Ya gak bisa gitu dong, kamu jangan sepelein. Kamu tunggu disini.”
Wanita itu beranjak dari kursinya dan segera berlari kecil menahan sedikit perih ke arah mini apotek yang ada didalam mall.
Dia kembali dengan membawa obat merah , salep dan perban. Wanita itu mulai mengobati kedua telapak tangannya dengan telaten, dan melilitkan perban ketangannya.
“Kalau tangannya begini, nanti susah aktivitas. Harusnya kamu hati-hati dong. Gimana mau siapin buat buka restoran lagi kamu? Tangannya aja kayak begini.” Omelnya.
“Makannya nanti sore kamu bantuin aku ya.” Pintanya.
Telihat Sora sedikit ragu, tapi tetap mengiyakan pinta temannya itu. Sorapun pamit karena sudah waktunya kerja.
Di parkiran mobil atas yang sepi, Zaenal melangkahkan kakinya menuju mobilnya untuk pulang. Dia berpapasan dengan Maru yang turun dari mobil menuju mall. Kedua mata itu bertemu dengan sangat tajam.
Zaenal sudah benar-benar tidak bisa menahan amarahnya, dan mulai melayangkan tonjokkan ke pipi Maru. Marupun membalas dengan tonjokkan yang tak kalah kuat. Tanpa berkata-kata keduanya terus adu jotos sampai berdarah.
__ADS_1
Akhirnya Zaenal membuka mulutnya
“Selama ini kalian tidak benar-benar menikah, kan?” dengan senyuman menungging.
“Bukan urusan lo.. kenapa emang? Gak suka?” tanyanya songong.
“Seenggaknya kalau lo gak mau sentuh dia, jangan sentuh dia sampe akhir.” Dengan nafas yang terengah.
“Cerita apa cewek itu? Ampe lo tahu segalanya? Hubungan kalian gimana sih?” masih dengan nada yang tidak mengenakan.
Zaenal kembali menarik baju Maru.
“Cewek itu? Lo anggap Sora apaan? Sampai sebut dia dengan cewek itu? Dia gak pernah cerita apapun. Tapi gue tahu semuanya. Gue juga tahu tadi malem apa yang lo lakuin ke Sora ” Teriaknya
“ooohh.. jadi selama itu lo penguntit. Penguntit gue ama istri gue?” matanya membelak.
“Istri? Istri? Dia bener-bener gak pantes jadi Istri lo. Lebih tepatnya lo yang gak pantes jadi suaminya. Lo harus pilih, pilih Maria apa Sora. Jangan bikin anak orang nangis.” Teriaknya
“Tunggu ya.. gua bakal bawa Sora dari hidup lo, gue harap lo nyesel..!”
“Kenapa lo harus bawa istri gue? Apa hak lo?” dengan menajamkan tatapan matanya.
“Bukan hak gue, tapi hak Sora. Dia berhak untuk hidup bahagia.” Teriaknya dengan terus menjotosnya.
Tiba-tiba ada laki-laki paruh baya melerai perkelahian mereka. Dan keduanya berjalan berlawanan arah. Berjalan menuju tujuan awal masing-masing.
Tadi pagi dia salah kira itu handphonenya, jadi dia memasukkan handphone keduanya kedalam tasnya.
Dia sedikit membersihkan darah diwajahnya, dengan terus heran. Kenapa Zaenal ada disini. Dan kenapa dia tahu tentang pernikahan mereka. Dan entah kenapa dia terus merasa kesal setiap melihatnya. Bahkan kata-kata yang dilontarkannya tadi benar adanya, tapi dia ingin menampik semuanya.
Maru mulai memeriksa handphone Sora. Dan terlihat panggilan masuk dari Zaenal tadi malam. Panggilan masuk yang hampir 20 menit. Dia sadar, tadi malam dia pasti mendengar mereka berdua dari panggilan itu. Dan dia langsung menghapus riwayat panggilannya.
Maru mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke kantornya. Gak mungkin dia mendatangi istrinya dalam keadaan babak belur. Namun, tak disangka dia berpapasan dengan Sora yang juga baru keluar dari toilet wanita yang berada bersebelahan dengan toilet pria.
Sora langsung panik melihat wajah suaminya yang babak belur. Dengan matanya yang memancarkan kekhawatiran, dia menarik suaminya untuk duduk. Dan bertanya kenapa bisa sampai begitu. Maru berdalih tadi dia ribut dengan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan.
Sora berlari ke toko tempatnya bekerja, dan meminta izin. Tak lupa dia membawa salep, obat merah dan perban sisa Zaenal tadi.
Sora mulai mengolesi salep ke wajah suaminya itu dengan mata yang terus terlihat khawatir. Mata Maru tidak bisa teralihkan dan terus menatap istrinya itu. Dia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Tapi entah itu apa.
“Kenapa yang datang ke aku pada luka sih?” tanyanya sedikit menitikkan air mata.
“Pada luka? Siapa yang kesini?”
Sora mulai gugup,
__ADS_1
“Zaenal, tadi dia kesini. Dia belanja buat keperluan restorannya. Dia mau mulai lagi, udah seminggu lebih kan dia tutup. Nanti sore juga dia minta bantuan aku. Makannya...” belum selesai dia mengatakan nya, dalam keadaan masih diobati Maru langsung berdiri. Dia langsung pergi tanpa pamitan.
Sora hanya bisa menatap pria itu semakin menjauhinya. Sebenarnya ada apa dengan suaminya itu? Setelah apa yang sudah dilakukannya tadi malam. Tapi sekarang bersikap seperti itu lagi. Bukankah dirinyalah yang harus marah?
Zaenal lagi... gumam Maru. Kenapa aku sangat sensitif kalau Sora ama Zaenal? Apa karena aku tahu kalau Zaenal menyukai Sora. Pikirannya berkecamuk.
Aku rasa aku mulai menyukainya? Tidak, aku masih sangat mencintai Maria. Mana mungkin.
Aahh.. tapi aku begitu kesal melihat Sora dengan laki-laki lain, terutama si Zaenal itu.
Jam saatnya pulang. Sesuai dengan janji Sora, ia datang ke restoran Zaenal untuk membantunya.
Begitu dia membuka pintu dan masuk, matanya mendapati wajah Maru yang babak belur. Dia kaget dan langsung berlari kecil kearah pria itu.
“Kamu kenapa? Kok wajah kamu...” matanya begitu khawatir
“Tadi, ada pengendara motor yang ugal-ugalan, jadi berantem deh.” Sembari tersenyum begitu hangat.
Kenapa mereka berdua sama-sama babak belur? Beneran mereka berantem sama pengendara motor itu? Apa mereka berdua berantem? Tapi, kenapa? Apa karena Zaenal tahu kalau Maru masih berhubungan Maria? Hah? Zaenal suka Maria? Hheeyy.. gak mungkin.
Sora kembali mengingat ucapan Rendi, cinta dia bertepuk sebelah tangan karena perempuan itu sudah menikah. Dan dirinya mengenal perempuan itu. Dia langsung menggelengkan kepalanya, dan mulai mengobati luka diwajah temannya itu.
Terdengar suara pintu terbuka, keduanya menoleh kearah pintu. Zani. Wanita itu datang menemui Zaenal. Keduanya langsung berdiri. Tanpa basa-basi Zani langsung memeluk Zaenal. Melihat mereka berdua sedikit membuat Sora tidak nyaman. Dan memutuskan untuk keluar meninggalkan mereka berdua, namun tangan kiri Zaenal segera meraih tangannya dengan tangan kanannya yang masih memeluk Zani.
“Maaf, aku baru bisa dateng. Aku baru dapet kabar Ibu kamu meninggal.” Timpalnya masih dalam pelukan Zaenal.
“Gak apa-apa kok, kamu udah dateng aja udah makasih banget.” Jawabnya santai.
Sora mengisyaratkan dengan matanya agar Zaenal segera melepaskan genggaman tangannya. Namun genggaman itu semakin kuat. Tangan Sora yang satunya ditarik oleh sesosok pria yang tidak diketahui kapan tibanya.
Seketika Zaenal melepaskan pelukan Zani dan menggenggam tangan Sora begitu kuat, sama dengan Maru yang semakin kuat menggenggam tangannya dan sesekali menariknya. Sora kebingungan. Apa yang dilakukan keduanya. Genggaman dan tarikan Maru mendominansi, sehingga Zaenal melepaskannya. Maru segera menariknya keluar, dan membukakan pintu mobil agar istrinya itu masuk.
“ Kamu kenapa lagi sih? Dari kemaren..” masih sedikit kaget.
“Ada kakak gue, Bang Rudi. Nanti dia bisa liat.” Dalihnya
Sora langsung celingak-celinguk mencari keberadaan kakak iparnya. Namun tak tampak oleh kedua matanya. Kok bisa kakak iparnya yang seharusnya ada diluar kota ada disini. Ya.. Kakak Maru itu menjalankan perusahaan percetakan lainnya yang berada diluar kota.
“Tadi ada, tingkah lu jangan terlalu mencolok. Relax aja.” Sambil memasangkan sabuk pengamannya. Dia berbohong. Tidak ada kakaknya disana. Dia berbohong agar Sora tidak bersama Zaenal.
Diperjalanan, Sora memberanikan diri bertanya
“ Kamu berantem kenapa ama Zaenal?” tanyanya sedikit gugup
“Aahh... dia bilang ke lu kalau kita berantem. Yaaa... dia benar-benar nyeritain semua hal ya ama lo.” Dengan sedikit mengangkat alisnya ditambah senyuman sinis.
__ADS_1
Sora langsung terdiam. Dugaannya benar, mereka berantem. Apa karena perdebatan mereka kemaren. Mereka berdua suka sama Maria? Apa Zani? Memikirkannya semakin pening kepalanya.
Setibanya , Maru mengembalikan handphone istrinya itu dan langsung turun dari mobil tanpa sepatah kata apapun. Sora terdiam sejenak, dan turun dari mobilnya.