
Rumah tangga Sora dan Maru terbilang sangat lancar jaya, tidak ada rintangan seperti pernikahan dan rumah tangga mereka yang pertama. Meskipun tetap ada sosok Langit disana yang selalu terlihat oleh Sora maupun Maru. Tapi, Maru tidak mengambil pusing dan menganggap dirinya sebagai teman biasa, tidak ada rasa cemburu atau iri seperti dahulu dia yang selalu cemburu pada Zaenal.
Guest House yang mereka kelolapun cukup ramai didatangi oleh tamu yang berdatangan untuk menginap . Terutama olah anak muda yang datang untuk berlibur kesana.
Sora sudah sangat cekatan dalam melayani tamu, entah itu persiapan, masakan, atau bahkan dalam membereskan bekas tamu. Karena memang Sora lebih memiliki pengalaman kerja tersebut.
Meskipun Sora dan Ibunya berada dikota yang sama, tapi mereka tidak bisa bertemu setiap hari karena memang jarak dan juga kesibukan Sora dan Maru. Tapi, Sora sangat rajin datang ke rumah Ibunya, entah itu satu minggu sekali ataupun dua minggu sekali.
Tak lupa, sesekali keduanya juga mendatangi rumah Mama Maya ke kota yang mereka tinggalkan itu. Tentu saja, mereka akan menemui teman-temannya yang sangat mereka rindukan.
Usia pernikahan keduanya sudah menginjak usia satu tahun lebih. Rintangan mulai dirasakan oleh Sora. Dia merasa masih belum juga diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi seorang Ibu. Padahal dirinya tidak menggunakan kontrasepsi selama pernikahannya ini.
Seperti pagi ini, Sora kembali mengecek dengan menggunakan testpack. Karena dia merasa dia telah telat dan belum juga datang bulan.
Tapi, lagi-lagi hasilnya tetap negatif. Hasilnya sedikit mengecewakan Sora.
"Kamu jangan cemberut gitu dong.." Maru memeluk Sora dari belakang dan menenangkannya, seakan sudah tahu apa yang ada didalam kepala istrinya itu.
"Aku udah coba berulang kali, kenapa hasilnya selalu negatif." Sora sedikit kesal karena hasil yang terus dia dapatkan.
"Belum waktunya aja sayang... nanti kita coba lagi.. kamu tenang aja." Maru tetap menyemangati istrinya itu.
__ADS_1
"Kita udah hampir dua tahun nikah, dan aku juga gak pake apa-apa, kita gak pake alat kontrasepsi sama sekali kan.." Sora tetap merasa kesal.
Maru mengerti akan perasaan Sora. Tapi, apa boleh buat. Semua kehendak tuhan.
"Kamu gak mau cepet-cepet punya anak apa?" Sora cemberut membalas pelukan Maru.
"Aku pengen kok punya anak, mau cepet, mau nanti juga aku fine aja. Makannya, kamu juga harus sabar. Okay?" Maru menciumi puncak kepala istrinya itu.
Sora sedikit merasa lebih tenang dengan perlakuan yang Maru berikan kepadanya.
Sebenarnya, Sora sangat ingin memeriksakan dirinya dan juga Maru ke dokter perihal kesehatannya yang memungkinkan dia sangat sulit untuk mengandung kembali. Tapi, Sora selalu mengurungkan niatnya, karena ia takut jika Maru merasa terbebani dengan keinginan Sora yang sangat ingin mempunyai keturunan, dan juga ia takut akan hasil negatif yang akan dia dapatkan nantinya.
Akhirnya Sora kembali menunggu dengan sabar, dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.
Sora yang mendapat kabar tersebut ikut menangis haru, menangis bahagia.
Setelah menutup panggilan teleponnya, raut wajah Sora sedikit berubah.
"Kenapa sayang? kenapa ekspresinya begitu.." Maru menyadari perubahan istrinya itu.
"Risa sekarang lagi hamil anak keduanya." Sora menjawabnya dengan sangat datar. Ia berjalan menuju tempat tidurnya dan merebahkan diri disamping Maru.
__ADS_1
"Kamu gak bahagia sahabat kamu hamil lagi?" Maru menanyakan pertanyaan yang jelas tidak mungkin begitu jawabannya.
"Aku seneng dia hamil lagi. Aku cuman iri, kenapa aku masih belum juga hamil." Sora hanya bisa membelakangi Maru.
"Sayang... kamu kenapa sih akhir-akhir ini selalu aja kesel, terutama menyangkut kehamilan." Maru mencoba untuk tetap tenang.
"Aku gak tahu... aku cuman... Apa aku ada masalah? sampai aku masih susah untuk hamil?" Kali ini Sora memberanikan diri untuk mengungkapkan kecurigaannya.
Maru menatap dalam mata istrinya
"Kamu mau coba kita cek dulu ke Dokter?" Maru mengerti akan perasaan istrinya.
"Apa kamu keberatan?" Sora bertanya dengan sangat hati-hati.
"Aku gak keberatan sama sekali. Ayo kita coba, kalau itu memang mau kamu." Maru sangat mendukung Sora.
"Tapi, aku juga takut kalau hasilnya mengecewakan kita. Aku takut kalau aku memang yang bersalah." Sora kembali membayangkan hal terburuk.
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu sih... Kamu jangan takut untuk kecewa.. gimana kalau ternyata aku yang bermasalah, apa kamu juga akan sangat kecewa?" Maru tetap menenangkan istrinya itu.
Sor meraa sangat egois, dengan tidak memperhatikan perasaan Maru yang mungkin saja kini diapun sedikit khawatir dengan hasilnya nanti.
__ADS_1
"Aku gak bakal kecewa. Apapun hasilnya, aku gak bakal kecewa, dan bakal nerima semuanya. Maafin aku sayang." Sora memeluk Maru dengan sangat erat.