Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
21. Status Hubungan I


__ADS_3

Meskipun masing-masing dari keduanya sudah mempunyai kehidupan rumah tangga. Maru dan Maria tetap melanjutkan hubungan diam-diam mereka. Seperti hari ini, Maru ada janji bertemu dengan wanita pujaannya. Mereka kini berada di restoran yang mempunyai tempat privasi.


Keduanya berada diruangan dengan berbagai hidangan. Keduanya duduk dengan berpelukan.


Maria terlihat sedikit menitikkan air mata.


“Aku kangen banget ama kamu. Aku gak mau pulang.” Rengeknya


“Gak boleh gitu, nanti suami kamu nyariin. Kasihan bayinya.” Timpalnya


Tiba-tiba Maria mencium pria itu. Dan dengan sigap Maru langsung membalas ciumannya. Mereka berdua berciuman dengan lembut. Tiba-tiba terlintas wajah Sora dibenak Maru. Pria itu lantas menghentikan ciumannya dan melepaskan pelukannya.


“Ayo makanannya dihabiskan dulu, kita langsung pulang.” Ajaknya...


“Kita udah lama gak ketemu, kok kamu gitu sih.” Dengan masih terus memeluknya.


“Ada rapat di kantor. Jadi agak buru-buru.” Dalihnya.


Seperti itulah hubungan mereka selama ini. Hubungan dibelakang Sora. Maru termenung mengapa dia tiba-tiba ingat Sora dan mulai merasa menyesal. Padahal sudah disebutkan diperjanjian, jangan mencampuri urusan pribadi. Sorapun tidak ikut campur urusannya. Tapi kenapa dia merasa terganggu dan juga kasihan.


Dia memikirkan ucapan Maria tadi. Wanitanya itu terus menanyakan apakah istrinya sudah hamil. Maru banyak berpikir. Apakah aku harus melakukan sampai sejauh ini? Aku kasihan. Tapi aku juga ingin... ah sudahlah...


***

__ADS_1


Sabtu ini, pasangan suami istri ini menginap dirumah orangtua Sora. Ibu Sora sakit, jadi dia meluangkan waktu untuk mengurusnya dan membantunya. Ibunya sakit karena kelelahan. Dan juga karena penyakit lain yang memang faktor usia.


“Ibu ngapain aja sih? Kok ampe kelelahan segala. Mikirin apa coba. Tenang aja Bu. Semuanya akan baik-baik aja. Kalau Ibu rajin berobat. Pasti sembuh kok.” Ucap Sora sambil menyuapi Ibunya perlahan dan memberinya obat.


“Kalau Ibu keburu mati ni.. Ibu gak bakal bisa lihat cucu Ibu. Ibu masih belum punya cucu. Ibu gak mau ninggalin kalian.” Dengan sedikit menitikkan air mata.


Mereka hanya bisa menghela nafas, dan terus menyemangati ibunya.


“Ibu, jangan ngaco kalo ngomong. Dokter bilang Ibu cuman kelelahan, pake bawa-bawa mati segala.” Sora sedikit kesal.


“Emang yang mati harus sakit dulu apa? Tuhan yang nentuin.” Balasnya


“Iya, makannya selama masih diberi kesempatan Ibu harus berusaha untuk sehat. Tuhan yang menentukan, kita yang usaha. Ya kan?” sedikit memberinya semangat.


“Kalian juga harus terus berusaha, okay?” Sedikit tersenyum, sembari menatap Maru yang sedari tadi membereskan barang bawaan mereka untuk diberikan kepada Ibu Reni, Ibu mertuanya.


Terdengar suara rintihan begitu sayup-sayup, namun terdengar begitu jelas olehnya karena Maru berada disampingnya.


Maru memeluknya dari belakang, Sora begitu terkejut dan refleks menepis tangan suaminya itu.


Tapi Maru memeluknya kembali seraya berkata


“Biarkan. Biarkan kita begini. Gue gak bisa nenangin lu dengan kata-kata. Siapa tahu lo bisa lebih tenang dengan pelukan ini.” Bisiknya

__ADS_1


Sorapun menurut, dia menerima pelukan itu. Tapi, kenapa dia menerima pelukan ini? Lagi-lagi dia terjatuh dalam pelukannya. Pria ini benar-benar terus bisa mengubah moodnya. Dengan pelukannya ini Sora sedikit merasa tenang, nyaman. Dan perlahan membuatnya tertidur.


Disampingnya, Maru tidak bisa tidur. Meskipun bukan pertama atau kedua kalinya mereka tidur di satu ranjang. Maru masih belum terbiasa. Suasananya begitu panas untuknya. Terlebih jika dia mengingat malam panas yang sebelumnya mereka lewati.


Dia heran, kenapa istrinya selalu tertidur lelap meskipun satu ranjang dengannya.


Aahh.. mungkin dia tidak memandangku sebagai laki-laki.


Apa aku melihatnya sebagai wanita? Aahh.. gak mungkin, cowok mana yang tidak resah kalau tidur disampingnya ada wanita memakai kaos yang begitu transparan. Ha.. memang otak cowok. Gumamnya


Tiba-tiba Sora membalikkan tubuhnya, sehingga kini mereka berhadapan. Maru memandang wajah istrinya, putih, mata tertutup, bibir kecil dan pipi yang sedikit tembem. Apakah dia menginginkan keturunan? Pikirnya. Tanpa sadar dia mengecup bibir Sora, lagi dan lagi. Dan akhirnya dia tersadar, ia langsung memeluk wanita itu dan memejamkan matanya.


Ia ingat dimalam mereka melakukan hubungan suami istri, besoknya mereka jadi canggung. Berharap agar kejadian itu tidak terjadi lagi.


***


Zaenal POV


Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Sora. Rasa rindu menyelimuti. Namun, di sisi lain. Zani datang lagi ke kehidupannya dan mengajaknya untuk kembali bersama. Dia meminta maaf karena dulu yang dia meninggalkannya. Seharusnya aku yang minta maaf, karena aku tidak mencintainya saat itu, saat inipun juga.


Apa ini karma? Karma karena aku menjalin hubungan dengannya tapi hati ini untuk Sora. Sekarang, Sora. Dia menikah dengan laki-laki yang tidak mencintainya, malah terus berhubungan dengan wanita lain di belakangnya.


Maafin aku Sora...

__ADS_1


Aku begitu bodoh, bodoh karena tidak menyadari apa yang dilakukan, apa yang dialami Sora selama ini. Dan selalu tertinggal langkah oleh pria itu. Okay... sekarang aku harus menyatakan perasaanku. Entah apa yang akan terjadi nanti.


Dia pergi meninggalkan restorannya menuju tempat Sora bekerja. Tapi, lagi-lagi dia tertinggal selangkah oleh pria itu. Dia dijemput suaminya.


__ADS_2