
Kini ketiganya duduk bersama di sofa empuk yang berada diruang tamu penginapan yang ditempati oleh pengunjung, yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Maria.
Untuk beberapa saat ketiganya hanya terdiam, saling membuang pandangan. Hanya ada keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut.
"Kalian apa kabar?" Maria yang tidak tahan memecah keheningan.
"Kita berdua baik-baik aja.. kamu, gimana kabarnya?" Sora ikut memecah keheningan dengan menjawab wanita yang duduk di hadapannya.
"Aku juga baik-baik aja. Aku gak tahu kalau kalian berdua yang mengelola penginapan ini." Maria merasa bingung, karena dia benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali.
"Dan... selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku gak dateng waktu itu.." Maria mencoba mencari topik.
"Tenang aja, kita udah nikah dua tahun yang lalu kok. Jadi nyantai aja, lagian juga kita udah baca surat yang kamu titip ke Rendi." Maru merasa ingin segera pergi ke rumahnya, karena dia merasa Sora yang terlihat seperti kesal.
"Ooh.. Syukurlah. Apa kalian nikah di sini?" Maria masih menunjukkan basa-basi nya.
Sora dan Maru hanya menganggukan kepalanya. Maria kini mulai merasa bahwa dirinya seakan menjadi pusat perhatian dari dua pasang mata yang terlihat sedikit tidak bersahabat.
"Kalian jangan salah paham dulu.. Aku bener-bener gak tahu kalau tempat ini punya kalian. Dan aku juga benar-benar gak tahu kalian tinggal di kota ini. Jadi jangan berpikiran buruk lagi." Maria menjelaskan setelah membaca situasi.
"Berpikiran buruk seperti apa?" Sora sangat ingin tahu.
"Ya... kali aja kalian berdua berpikiran kalau aku sengaja masuk kedalam kehidupan kalian lagi." Maria menjelaskan dengan tangan yang sibuk memberi tanda tidak.
Sora dan Maru tersadar akan siapa mereka yang sedikit berlebihan memandangi Maria, mereka hanya bersikap hati-hati.
"Kenapa kamu ada disini sendiri? Ada keperluan disini?" Tanya Sora yang sebenarnya sangat penasaran.
__ADS_1
"Aku hanya ingin jalan-jalan di sini doang kok. Refreshing lha..." Maria menjawab seadanya.
"Beneran sendirian? Kenapa gak ajak orang tua kamu aja,,," Maru ikut basa-basi, namun matanya langsung ditatap sinis oleh Sora.
Maria hanya tertawa kecil, dia meminum kaleng yang ada diatas meja.
"Mereka gak bisa ikut. Karena mereka udah gak ada." Maria berkata dengan sangat santai.
"Maksud kamu gak ada?" Maru mencoba memastikan kata-kata Maria yang sedikit ambigu.
"Mereka udah meninggal." Maria masih dengan senyumannya.
"Kenapa kamu gak bilang sama kita,, maaf... aku turut berduka cita." Maru menjadi bingung untuk bereaksi.
Sora ikut menjadi bingung, dia hanya mengatakan yang seharusnya dia ucapkan kepada orang yang berduka.
"Ya.. cerita aja.." Sora menyadari Maria yang sedikit tidak nyaman karena ekspresi yang ia tunjukkan.
"Bukan kalian aja yang pergi dari kota tercinta itu, aku juga pindah dari sana. Aku pindah ke kampung halam Ayah.. Aku gak bisa bohong, aku emang lepasin kamu untuk Sora, tapi aku butuh waktu yang lama untuk benar-benar menerimanya..." Maria membaca situasi, dan masih terbilang aman.
"Orang tua aku bilang, kalau mereka bersalah karena dulu gak restuin aku sama kamu, Maru. Makannya mereka bawa aku pergi pindah supaya aku bisa perlahan lupain kamu, lupain kalian berdua... Tapi, kamu tahu? Mereka malah meninggal karena kecelakaan mobil... dan ninggalin aku sendirian.." Kini Maria mengeluarkan air mata yang sedari tadi dia tahan.
"Maria.. Maafin aku.. maafin kita..." Maru ingin menenangkan Maria, dia tahu betul kalau saat ini Maria benar-benar sangat terpukul.
"Aku gak apa-apa kok. Kalian tenang aja, aku bukan Maria yang dulu, aku Maria yang sekarang." Maria memaksakan senyumannya.
"Terus, sekarang kamu tinggal sama siapa? Kamu sebenarnya mau apa kesini?" Sora merasa Maria sedang menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Aku tinggal sendiri. Aku kesini benar-benar cuman pengen refreshing doang, gak ada maksud apa-apa." Maria menjelaskan seadanya.
"Setelah orang tua aku meninggal, aku gak pernah diam di rumah. Aku pindah-pindah tempat tinggal, dan cari kerjaan baru. Dan niat aku kesini, buat liat-liat keadaan disini, mau mencoba peruntungan disini. Tapi, malah ketemu kalian. Kayaknya aku harus pindah lagi aja.." Maria meneguk kembali minumannya.
"Kalau kamu merasa udah merasa tenang, mending kamu pulang kerumah kamu Maria. Keluarga kamu yang lain kan masih ada, sepupu kamu, paman tante kamu.." Maru merujuk Maria.
"Aku udah gak dianggap sama mereka. Intinya mereka udah buang aku, karena mereka malu sama aku..hhaa" Tawa Maria kini semakin keras.
"Maksud kamu apa?" Sora dan Maru semakin merasa heran.
"Karena aku selalu gonta ganti pasangan, sampai tetangga disana bilang aku pelac**... aku gak bisa ngelak, karena aku emang selalu ganti pasangan.." Maria tersenyum kecut.
Sora dan Maru semakin tidak nyaman dengan suasana yang tidak bisa dia jelaskan bagaimana.
"Sebaiknya kita pulang aja, ayo Sayang.." Maru meraih tangan mungil Sora. Maru tahu kalau Sora pasti akan merasa bersalah kembali, sudah terlihat jelas dari raut wajahnya.
Keduanya pun meninggalkan Maria yang masih duduk di sofa sendirian.
Sesampainya dikamar, Sora langsung terdiam, termenung.
"Kamu kenapa sayang, kamu jangan berpikiran yang aneh." Maru mengingatkan Sora.
"Perkataan aku bener kan, kalau cinta kita berdua itu membuat orang lain tersakiti. Kamu liat sendiri kan tadi.." Air matanya lolos begitu saja dari pelupuk mata Sora.
"Sayang... itu pilihan hidup dia. Kamu, aku, kita gak turut andil dalam keputusan hidup Maria.." Maru tetap menenangkan Sora.
"Kamu denger sendiri tadi, kalau dia tidak bisa benar-benar menerima kita berdua.. dia.." Perkataan Sora dihentikan oleh bibir Maru yang langsung mendarat di bibirnya.
__ADS_1
"Aku mohon... pikirkan kita berdua saja, jangan pikirkan hidup orang lain. Cukup kita berdua aja. Okay.." Maru kembali mengecup bibir dan setiap inci wajah Sora.