
Sora telah menerima lamaran Maru, padahal keduanya telah menikah dari sejak hampir satu tahun. Namun, Sora merasa lamaran ini adalah lamaran yang sesungguhnya. Karena Kemarin-kemarin mereka hanya bermain-main, bersandiwara.
Kini keduanya hidup sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya, saling memberi kasih sayang, cinta, dan pengertian.
Menyantap sarapan berduaan, jam makan siang Maru akan pulang kerumahnya meskipun jauh. Maru selalu pulang tepat waktu, jarang kerja lembur. Dia selalu ingin bersama istrinya setiap waktu.
*
*
Syukuran empat bulanan Sora digelar. Mereka hanya mengundang orang-orang yang mereka anggap penting dan dekat saja. Risa dan suami hadir, Risa terus nempel ke Sora. Zaenalpun hadir, Sora yang mengundang. Karena dia tetap merasa Zaenal adalah orang terdekatnya, dan juga belum ada yang tahu tentang hubungan rumit ke empat orang itu, selain mereka sendiri. Dan untungnya Maru mengizinkan Zaenal untuk hadir.
“Kamu kok bisa gak sadar kamu hamil sih? Ampe usia kandungan kamu masuk 3 bulan lagi?” Risa merasa heran dan sedikit kesel pada temannya itu. Sora hanya terkekeh.
“Eemmm... ya aku kira aku baik-baik aja, toh dari dulu dateng bulan aku kan gak teratur. “ Berdalih.
Semua orang masih beranggapan bahwa Sora telat menyadari kehamilannya, padahal nyatanya dia sengaja tidak memberitahukan kepada siapapun.
“Yang penting sekarang kamu harus sehat. Jangan banyak pikiran. Perjalanan kamu masih panjang untuk jadi seorang Ibu.” Menceramahi Sora.
Meskipun tak mendapatkan undangan, wanita yang telah sejak sekian lama berlabuh di hati Maru itu datang ke acara. Maru hanya diam mematung, sesekali melirik Sora dan juga Maria. Zaenal terus memperhatikan ekspresi wajah Sora.
Setelah acara selesai, para tamu menyantap hidangan dan mengobrol sana sini. Risa pamit pulang duluan, jadi Sora harus duduk berada diantara orang-orang yang dia anggap kurang nyaman. Sora, Maru, Zaenal, dan Maria. Mereka duduk berdampingan. Beberapa saat tak ada pembicaraan dari keempatnya.
“Aku minta maaf. Waktu itu aku gak tahu kamu lagi hamil.” Maria memulai pembicaraan mengenai hari dimana mereka bersitegang.
“Gak apa-apa.” Sora menjawab seadanya.
__ADS_1
“Selamat. Aku turut bahagia. Sehat-sehat, ya.” Maria melanjutkan pembicaraannya sembari menatap tajam Sora. Dan akhirnya dia berpamitan yang diikuti Zaenal.
Maru membaca situasi dan memegang tangan Sora.
“Maafin aku. Aku gak ngundang dia kok.” Memberikan penjelasan.
“Aku gak nanya, kok.” Sora tersenyum tulus.
“Justru kamu gak nanya, dan sikap kamu biasa aja yang bikin aku khawatir. Seharusnya kamu marah sama aku.”
Sora tertawa kecil
“ Aku bener gak apa-apa kok. Kamu tenang aja. Aku juga ngerti kok. Kalian saling mencintai sudah bertahun-tahun. Mana bisa cinta kalian langsung mati begitu saja. Kalian butuh waktu juga, kan.” Sora mencoba untuk pengertian kepada suaminya itu.
“Terima kasih. Aku janji, mulai dari sekarang cuman ada kamu. Gak ada yang lain.” Seraya memeluk Sora.
“Okay. Mulai dari sekarang kita harus saling terbuka satu sama lain.”
Keduanya terus saling menatap. Maru mengecup bibir ranum Sora.
“Kamu apaan sih, banyak orang tahu.” Sora beranjak pergi dari kursinya menghampiri Ibu dan mertuanya yang sedang berbincang dengan orang-orang disana.
Maru hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
*
*
__ADS_1
~
Keluar dari halaman rumah tempat acara empat bulanan, Zaenal mengejar Maria yang berjalan begitu cepat. Dia menahan Maria, dan mengajaknya untuk sekedar berjalan-jalan.
Mereka duduk di bangku pinggiran jalan yang tidak begitu ramai.
“Lo baik-baik aja?” Tanya Zaenal.
“Menurut lo?” Maria menjawab dengan matanya yang sendu.
“Cckk.. gak baik sama sekali. Pasti perasaan lo lagi gak karuan.” Zaenal membenarkan.
“Lo gimana? Lo gak apa-apa?” Maria balik bertanya kepada Zaenal.
“Bohong sih kalau gue bilang gua baik-baik aja. Tapi, selama Sora bahagia, gue ikhlas. Cinta tak harus memiliki.”
Mendengar pernyataan Zaenal, sungguh menggelitik Maria. Yang tadinya ia hanya diam kini ia tertawa terbahak-bahak.
“Omog kosong dari mana sih? Kalo lo usaha lebih lagi, apapun bisa jadi milik lo. Lo udah suka Sora dari dulu, kan?” Tanya Maria. Zaenal heran, kenapa dia bisa tahu.
“Selama gue menjalin hubungan sama Maru, dia cerita semuanya. Dia bilang, hubungan kita sangat rumit.” Menjelaskan, meskipun Zaenal tidak bertanya.
“Gue udah menjalin hubungan sama Maru udah 7 tahun. Mana bisa gue nerima semua ini dengan mudahnya.” Senyuman sinis tersungging di bibirnya yang merah merekah.
“Gue peringatan lo. Jangan macam-macam. Mereka berdua udah saling cinta. Lo jangan ganggu Sora lagi.” Suara beratnya memperingati wanita yang duduk di sebelahnya.
“Takut banget Sora terluka. Wwaahh... lo cinta banget ama Sora ternyata. Tenang aja, gue gak bakal apa-apain Sora. Kalau gue punya rencana jelek, pasti gue udah ajak lo pisahin mereka. Biar kita bisa memiliki cinta kita masing-masing. Ha... tapi sayang. Lo orangnya terlalu baik. Gue gak bakal nyakitin Sora kok. Tapi, gue belum nyerah buat bisa dapetin Maru. Laki-laki brengsek itu.” Melirik wajahnya Zaenal dengan tajam dan berlalu begitu saja meninggalkan Zaenal yang masih diam mematung.
__ADS_1
Zaenal diam mematung, dia memejamkan mata.