Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
4. Sora


__ADS_3

Hari demi hari terus berjalan, dan kita mau tidak mau selama kita masih hidup harus melewati hari-hari itu. Hari-hari dimana ada kalanya kita meras sedih, terpuruk, bahagia, dan lainnya. Dan hari yang bahagia telah menghampiri salah satu teman sekelas yang mana dalam dua hari ke depan akan melaksanakan pesta pernikahan. Tentu aku mendapat undangan.


Kali ini sedikit tidak nyaman, karena pasti aku datang sendiri, dalam artian datang tidak dengan pasangan. Bukan berarti aku malu karena tidak punya kekasih, melainkan sudah bosan ditanya ini itu, alasan masih sendiri. Karena itu memang pilihanku.


Tapi, sebenarnya sekarang aku malah tidak benar-benar sendiri. Kita datang bersama. Aku dan Zaenal. Tapi, semua teman-teman sekelas tahu, kita hanya teman, sahabat, seperti itu lah. Tidak seperti pasangan lainnya yang memang pasangan kekasih. Seperti sepasang pria dan wanita yang datang dengan wajah berseri, menghampiri gerombolan kita. Maru. Maru dan Maria datang bersama.


“Yang katanya putus.” Aku ingin menggodanya.


Karena baru beberapa minggu kebelakang dia bilang sudah putus tapi ternyata mereka berdua telah kembali bersama. Ucapanku hanya di balas dengan senyuman oleh keduanya.


Acara telah selesai, aku dan lainnya mulai meninggalkan tempat. Tak lupa kita saling berpamitan dengan yang lain. Aku pulang diantar Zaenal, tak lupa dia membawaku mampir ke restorannya yang tampak Ibu Tika dan juga adiknya, Zaki sedang sibuk melayani para customer.


Setiap datang ke tempat ini aku selalu di sambut hangat oleh Ibu Tika dan juga Zaki. Ibu Tika sampai mengeluh karena aku tidak datang ke tempat ini setiap hari. Karena memang sibuk, dan juga kalau shift malam meskipun datang ke restoran ini tidak sempat bertemu Ibu Tika, karena sudah pulang. Karena jam kerja Bu Tika, hanya sampai jam lima sore.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Ibu kembali ngedumel tentang pernikahan lah, cucu lah. Tapi, aku sedikit kasihan juha. Apa Ibu kesepian. Karena kedua anaknya sudah jarang ada dirumah, sibuk dengan urusan masing-masing. Kak Soni juga masih belum dikasih rezeki momongan, meski pernikahan mereka sudah hampir tiga tahun.


Yang lebih ekstremnya lagi, kalau aku masih tidak punya pasangan pilihan sendiri, ternyata Ibu sudah mempersiapkan calon yang akan dikenalkan. Ya, Ibu mendapat tawaran dari temannya dari kampung Ibu untuk menjodohkan aku, anaknya ini dengan anak temannya. Aku mulai sedikit gugup, kali ini Ibu terlihat lebih serius.


“Bu, Ibu yang sabar dong. Nanti juga aku pasti bakal nikah kok. Tenang aja, usia aku baru juga mau 24. Masih muda.” Mencoba untuk merayu Ibu agar membatalkan niatnya itu.


“Kamu yang masih muda, Ibu yang udah tua. Sekarang usia Ibu udah 60 lebih lho. Umur siapa yang tahu, Ibu gak mau liat kamu terus sendiri. Kalau Ibu udah gak ada, nanti kamu mau sama siapa?” terus meyakinkan aku.


“Kok Ibu ngomongnya gitu sih. Jangan gitu ah. Lagian ni ya bu, kalau aku gak bisa hidup sendiri mana bisa aku empat tahun hidup sendiri di kota lain, jauh dari Ibu.”


Mana bisa aku bilang Ibu, tidak bisa. Aku gak bisa bilang kalau aku gak mau menikah karena takut mendapat pasangan yang seperti Ayah. Selama Ibu dan Ayah masih hidup bersama, aku diam-diam sering memergoki cekcok mereka. Aku sering memergoki sikap Ayah yang kasar terhadap Ibu, kasar cara bicaranya, apalagi sampai main tangan. Tapi, mereka tetap pura-pura tidak terjadi apa-apa dihadapan aku dan juga Kak Soni.


Memang tidak semua laki-laki seperti itu. Tapi, aku tetap merasa khawatir. Bagaimana kalau kelak nanti suamiku kasar, bagaimana kalau dia main tangan sama aku, bagaimana kalau pernikahanku tidak bahagia. Itulah beberapa alasan yang membuatku terus merasa ragu untuk menikah. Semuanya hal yang negatif, meskipun ada beberapa hal positif yang terlintas, namun tetap hal negatif yang lebih dominan.

__ADS_1


“Ibu kasih kamu waktu satu bulan. Kalau kamu terus menolak, mau gak mau kamu harus mau. Okay.”


Tanpa menjawab aku menatap Ibu dengan gelisah.


“Sora, ayo jawab Ibu.” Kembali menatap mataku.


“Apa Ibu bahagia selama menikah sama Ayah?” Pertanyaan ini tanpa disadari terlantar dari mulutnku. Ibu menatap dalam lalu tersenyum.


“Bahagia, Ibu bahagia kok menikah sama Ayah kamu. Kalau Ibu gak bahagia, mana mungkin Ibu punya kalian berdua. Iya, kan?” tersenyum dengan air matanya yang tiba-tiba menetes.


“Terus kenapa Ibu pisah sama Ayah?” Mata Ibu semakin memerah.


“Ada kalanya kita harus berkorban untuk kebahagiaan. Itu pilihan Ibu. Meskipun Ibu pisah dari Ayah kamu, Ibu tetep bahagia. Karena Ibu gak sendiri. Bahagia karena ada kalian berdua.” Menghapus air matanya dan memeluk tubuhku.

__ADS_1


Setelah dipikir kembali semua ucapan Ibu, ada benarnya juga. Tapi gimana aku bisa dapet pasangan dalam waktu satu bulan. Mana ada. Apa aku menyerah saja. Apa aku harus menikah dengan laki-laki pilihan Ibu ini. Laki-laki yang usianya terpaut lumayan jauh denganku. Mungkin menikahi Laki-laki berusia matang akan menjadikannya lebih dewasa. Baru itu yang bisa aku pikirkan.


__ADS_2