Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
3. Maru


__ADS_3

Satu minggu sudah Maria memutuskan untuk berpisah. Kita berpisah dengan alasan yang tidak jelas. Bahkan tidak tahu sama sekali. Memang ini bukan sekali dua kali kita begini. Dan juga pasti wanita pujaanku ini yang selalu memutuskan. Meskipun sudah berpisah, aku tetap mencintainya dan juga tetap ingin memperhatikannya.


Ku tatap layar ponsel yang menunjukkan laman media sosial wanitaku ini. Tampak senyuman manisnya, namun semua foto yang terpampang wajahku telah dia hapus. Dan itu sedikit membuatku frustasi. Cinta tidak memandang status. Ucapan Sora terngiang kembali dan sedikit memberikan keberanian untuk kembali menghubungi Maria.


Suara nada sambung terdengar cukup lama, sampai ia mengangkat panggilanku.


“Hello...” Karena aku yang menghubungi, aku pula yang memulai percakapan.


Tak terdengar jawaban cukup lama sekitar lima detik.


“Hello.., “ suara dari seberang telepon terdengar sedikit bergetar.


“.... Besok kita ketemu okay?”


“Mau apa lagi? Kita kan udah putus. Kamu jangan hubungi aku lagi. Okay?” suaranya terdengar semakin bergetar.


“Kalau itu mau kamu, makannya besok kita luruskan hubungan kita ini. Dengan jelas. Aku tunggu di Restoran Ramen seperti biasa, jam 5 sore,..” tuut ttuut.. Belum sempat menyelesaikan ucapanku, dia terlebih dahulu menutup panggilanku.


Keesokan hari...


Jam sudah menunjukkan hampir jam pulang. Aku bersikukuh untuk tetap datang menunggu di tempat yang telah dijanjikan. Aku sedikit berpikir, kalau memang dia benar-benar sudah tidak peduli pasti tidak akan datang untuk menemui.

__ADS_1


Sudah tiga puluh menit aku menunggunya duduk, sampai perut keroncongan. Namun, belum juga tampak wajah cantiknya. Ku putuskan untuk memesan ramen terlebih dahulu. Sudah habis satu porsipun, dia belum juga datang. Waktu terus berlalu, tak terasa sudah hampir dua jam menunggu.


Yang akhirnya wajah yang begitu tidak bersahabat namun tetap terlihat cantik itu datang menghampiri dan duduk di kursi yang membuat kita saling berhadapan. Kusambut dengan senyuman yang bahagia, karena memang sangat bahagia.


“Aku pesen dulu ramen okay, tunggu sebentar.” Aku kembali memesan ramen ku yang ke dua, dan tak lupa ramen kesukaannya.


Selama menunggu pesanan, ku pandang wajahnya yang sedari tadi terus menunduk dan tidak melihat kearahku.


“Angkat kepala kamu. Liat aku, kenapa nunduk terus?”


Tanpa mengangkat tundukannya itu, ia menjawab dengan suara yang terdengar begitu pilu.


“Maafin aku.”


Mendengar jawaban itu, wanita yang berada dihadapanku ini mengangkat kepalanya dan menatap wajahku dengan seksama.


“Kenapa kamu yang minta maaf? Di sini aku yang mutusin.” Matanya terlihat merah


“Karena aku gak tahu kenapa kamu mutusin aku, mungkin karena aku udah bikin salah sama kamu. Makannya kamu begini.” Kita kembali terdiam


“Kamu yang putusin aku, kan? Kenapa kamu yang nangis? Kamu bener-bener pengen putus sama aku? Menurut aku kamu cuman lagi kesel doang. Sekarang kamu masih kesel sama aku? Hhm?”

__ADS_1


Ramen yang dipesan telah disajikan diatas meja. Melihat menu yang disajikan sesuai dengan seleranya, semakin membuatnya tidak bisa menahan air mata.


“Kamu masih inget aja apa kesukaan aku.” Memperlihatkan senyuman ringannya.


“Ya elah.. kita baru putus seminggu yang lalu. Masa udah lupa aja. Lagian, kalau emang kita beneran kita putus, aku bakal inget terus. Bahkan semua tentang kamu aku bakal inget terus.”


Susana menjadi lebih mencair, wanita ini telah mengeluarkan Senyumannya. Dan juga menyantap pesanan dengan senyum.


“Yes... udah senyum lagi. Berarti kamu udah gak marah lagi, gak kesel lagi. Berarti juga kita gak putus.”


“Maafin aku.”


Kata maaf yang dilontarkannya dengan tatapan yang penuh cinta menandakan kita kembali bersama. Tidak ingin menyia-nyiakan, ku genggam tangannya yang indah.


Setelah menyelesaikan masalah, kita kembali menjalani hari-hari seperti biasa. Menghabiskan waktu luang untuk bersama. Karena kita sama-sama sibuk. Meskipun dia yang terlihat lebih sibuk.


Hari demi hari, minggu demi minggu, kita lewati bersama. Tak lupa kita pergi bersama sebagai pasangan kekasih ke undangan pernikahan salah satu teman sekelas. Telah tampak segerombolan manusia yang wajahnya begitu familiar. Semua mata tertuju ke arah kita berdua, terutama Sora yang langsung menyunggingkan bibir kecilnya.


“Yang katanya putus.” Sembari menggelengkan kepalanya


Kita hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2