
Maria pergi ke mall terdekat, yaitu mall tempat Sora bekerja dulu. Maria pergi bersama kedua orangtuanya. Ia belanja keperluan harian disana. Matanya menangkap dua insan yang tengah belanja di perlengkapan bayi. Obsesi Maria bangkit kembali, obsesi ingin memilikinya.
“eehh... kalian juga belanja di sini.” Basa-basi
Sora dan Maru menoleh kearah suara.
“Kamu ngapain di sini?” Maru sedikit gugup.
“Ya ngapain lagi, belanja laaahh... kok bisa pas banget sih. Jodoh kali ya.” Memegang tangan Maru.
Maru langsung menghindar
“Kamu apa-apaan sih, jangan gitu.” Tatapan risih menusuk Maria.
“Ya elaahh.. di pegang doang. Gak apa-apa kan Sora? Kalau aku cium kamu, baru Sora pasti marah.” Tersenyum picik.
Sora terdiam sedikit memejamkan matanya.
“Aku ke toilet dulu, ya.” Berjalan dengan cepat meskipun perutnya terlihat sedikit tidak nyaman.
Maru mengikutinya dan menyuruhnya untuk berjalan lebih pelan lagi. Ia menunggu di depan toilet.
Maria mengikuti keduanya, Maru langsung mencengkram tangannya.
“Maksud kamu apa? Kamu bilang kita udah berakhir. Kenapa masih gangguin kita?” Maru menekankan setiap perkataannya.
“Kita? Kita? Jangan sebut kalian dengan ‘kita’. Gak pantes.” Ikut Menekankan nada bicaranya, karena keduanya berada di tempat yang banyak orang, mana mungkin mereka bicara dengan lantang.
__ADS_1
“Kamu sendiri yang bilang. Kamu bakal berhenti ngelakuin yang enggak-enggak... seka..”
“Setelah apa yang kamu lakuin sama aku? Kamu pikir aku bisa sembuh gitu aja? Penghianat.” Dengan penuh amarah ia memasuki toilet wanita.
Maru mencoba untuk menahannya, tapi mana mungkin dia masuk toilet wanita.
Sora keluar dari salah satu bilik toilet. Matanya bertemu dengan mata Maria dari pantulan kaca.
“Abis nangis?” Maria memprovokasinya
Tak ada jawaban dari Sora.
“Gimana, obrolan kita yang waktu itu. Ada jawabannya gak?” mengingatkan Sora akan kelugasan Maria yang menyuruhnya untuk menceraikan Maru atau menjadikannya madu dalam rumah tangga Sora.
“Cukup Maria. Kamu jangan begini terus. Kamu harus menerima kenyataan.” Sora sedikit meninggikan nadanya. Beruntung disana sepi.
“Maria, cukup. Kamu jangan serakah, semakin kamu serakah, semakin sulit untuk mendapatkannya.” Sora terus mencoba menahan air matanya.
“Kamu bilang aku serakah? Terus kamu pikir kamu gak serakah?” membalikkan perkataannya.
“Aku serakah tapi berbeda dari kamu. Proses yang aku tempuh, gak sama kayak kamu. Jangan terlalu ekstrem. Jangan selalu menyamai dengan orang lain. Milik orang lain gak selalu harus jadi milik kamu.” Air matanya tidak bisa ditahan.
Maru masih menunggu diluar.
“Lama banget sih, ngantri banget apa?” berbicara sendiri.
Maria mengeluarkan cutter baru dari tasnya. Sora panik, karena Maria mulai mendekatinya.
__ADS_1
“Agar hidup kita bisa tenang, sepertinya memang harus ada yang mati diantara kita.” Dia mencoba untuk menyayat tangannya.
Sora dengan sigap menahannya, namun Maria mendorong Sora sehingga wanita yang tengah hamil ini membentur wastafel dan terpental kelantai dengan posisi duduk. Ia menahan bebannya dengan sikutnya. Sora kembali berdiri dengan susah payah, karena perutnyayang bucit.
Dia menahan Maria seraya berteriak minta tolong. Namun Maria terus berontak, cutter telah melukai perutnya. Dia menusuk dirinya sendiri. Darah bercucuran dari perutnya.
“Aaahhhh...” Teriakan Sora terdengar sampai keluar, ada beberapa wanita yang masuk mengecek. Mereka ikut berteriak dan meminta tolong.
Maru berlari secepat kilat. Sora menangis dengan terus memanggil nama Maria. Maru terkejut dengan apa yang dia lihat. Ia langsung membopong pergi tubuh Maria yang lemas.
Kejadian tak terduga ini menjadi tontonan banyak orang, termasuk orangtua Maria. Ia menghampiri gerombolan dan mendapati anaknya berlumuran darah, Ayah Maria mengambil alih tubuh anaknya dari dekapan Maru. Maru mengikuti ketiganya. Lalu dia tersadar akan keberadaan Sora, Ia kembali ke kerumunan orang-orang, ia langsung menggandeng Sora yang tengah berjalan tertatih-tatih.
Maru memacu kendaraannya menuju rumah sakit yang akan dituju orangtua Maria. Wahjahnya pucat pasi. Keduanya berwajah pucat. Terutama Sora, keringat dingin keluar dari rambut jagungnya. Air mata tidak berhenti mengalir.
Dalam keadaan panik, Maru berpikir namun pikirannya acak-acakan.
“Kalau mereka sampai lapor polisi. Bilang aja aku yang ngelakuin!” nafasnya tak karuan.
Sora menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Jadi, maksudnya kamu beranggapan kalau aku yang nusuk dia? Tanpa kamu bertanya dulu apa yang terjadi?” Nasibnya tidak adil.
Maru mencoba focus melihat kearah depan.
“Bukan itu maksud aku. Kita ambil negatifnya. Tapi, tenang aja. Kita bisa cari saksi.” Tangan sebelahnya menggenggam tangan Sora yang masih gemeteteran. Sora menepis tangannya
“Gak usah. Orang didalam toilet tadi gak ada siapapun. Aku bakal bilang semua seadanya. Kamu gak usah khawatir.” Jawaban penuh dengan kekecewaan.
__ADS_1
Aku tidak menyangka. Kenapa Maru berkata seperti itu tanpa bertanya kejadiannya terlebih dahulu? Dia sudah tidak mempercayai aku? Dan lagi, dia tanpa ragu membopong tubuh Maria tanpa melihat kearahku. Benar. Benar apa kata Maria, rasa kasih sayang dan cinta diantara mereka tidak akan hilang dengan mudah, dan disini akulah yang serakah.