Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
24. Fakta-Fakta dan Keberanian II


__ADS_3

Zaenal melihat kearah pintu restoran yang terbuka, tampak wanita yang dicintainya bersama mantan kekasihnya. Kenapa mereka datang berdua, batinnya bertanya.


“Aku mau makanan yang pedeeeeees banget.” Tanpa basa-basi langsung duduk.


“Kamu mau makan apa?” tanyanya ke Zani.


“Aku udah kenyang, kan tadi... pesen puding aja.. pudding “ jawabnya


Zaenal ikut duduk diantar mereka berdua


“Kok kalian bisa barengan sih?” Tanyanya heran.


“Aahhh.. tadi kita gak sengaja ketemu di mall, terus kita mutusin buat ke sini.” Bohong banget.


“Bukannya hari ini kamu libur?” sedikit bingung.


Sora bodoh.... “Emang aku ke mall harus kerja doang apa, aku juga ada keperluan lain lha..” sambil memonyongkan bibir kecilnya.


Zaenal hanya tertawa dan mengiyakan. Laki-laki itu masih bersikap biasa kepada Zani. Beda dengan Zani yang sedikit dingin.


Makanan tiba di meja makan, Sora mencicipi makanannya. Dia masih merasa kurang pedas, dan menambah cabe lagi ke makanannya. Zaenal langsung mencegahnya.


“apa-apaan kamu? Nanti kamu sakit perut.” Sambil memegang tangannya.


“Gak apa-apa, aku lagi pengen Makanan yang pedes.” Tetap memasukkan cabe. Dia mencicipinya, dan mulai memakannya. Wajahnya menjadi sangat merah karena pedas.


Mata Zani tertuju ke wajah Zaeanal. Ia rasa sudah mendapatkan jawabannya. Jawaban siapa wanita yang disukai pria itu.


Sedangkan Zaenal masih terus menatap Sora yang sedang makan, sesekali tersenyum. Memberinya tissue untuk lap ingus. Membawakan dia air minum.


“Kamu lagi kesel kenapa sih?” tanya Zaenal.


“Siapa yang kesel? Kesel kenapa?” dengan nada sedikit ceria.


“Kalau kamu makan pedes gini, biasanya kamu lagi kesel. Marah. Pasti pulang kamu bakal langsung bersih-bersih rumah.” Masih dengan senyuman hangatnya.


“Kok kamu bisa tahu hari ini Sora libur?” Tanya Zani dengan tatapan sedikit tajam dan penuh tanya. Random sekali.


Sejenak Zaenal termenung, menatap mata Zani seolah berkata mengiyakan bahwa wanita disebelahnyalah yang dia sukai.


“Aku tadi dari mall. Udah beli sesuatu. Kok gak ketemu ya tadi. “ sedikit mengalihkan pembicaraan.


Sora dan Zani saling menatap, mengalihkan pembicaraan.


Setelah menghabiskan semua makanannya, Ia berdiri langsung pamit, tak lupa membayar makanan yang telah disantapnya itu.


“Aku lupa ada urusan lain, aku duluan ya... kamu, Zani abisin dulu itu. Bye bye...” menunjuk puding yang bahkan belum dia makan dengan tergesa-gesa leluar restoran.


Kini, hanya mereka berdua di meja pojok yang terbilang paling tertutup. Tak ada kata keluar dari mulut mereka. Zani, mengadukkan pudingnya sampai tidak seperti puding lagi.


“Dia? Dia orangnya?” tanya Zani tanpa menatap wajah laki-laki itu yang terus menunduk.


Tak ada jawaban dari Zaenal, dan hanya helaan nafas yang terdengar.


Zani langsung pergi meninggalkan restoran tanpa sepatah katapun.


Zaenal sedikit merasa kasihan, atau menyesal kah?

__ADS_1


~


Tiba dirumah, Sora menatap kosong kamar sang suami. Matanya mulai berkaca-kaca sampai tak terbendung, dan akhirnya jatuh melewati pipi putih nan tembem. Namun Ia langsung mengusapnya seraya mengangkat tangan, melakukan peregangan.


“Waktunya Beres-beres..!” serunya.


Namun, rumah itu sudah tampak bersih dan rapi. Dia termenung, kemudian menggeser-geser, kursi, meja, perabot yang lainnya. Dia membersihkan dapur, kamar mandi, seisi rumah dengan telaten. Tak sadar waktu, Dia keluar dari kamar mandi sudah menunjukkan jam 10 malam.


Suara suaminya mengagetkan wanita itu.


“Lo rubah posisi semuanya? Meja, kursi?” Tanyanya dengan masih membawa tas kantornya.


“Heem... biar gak gitu-gitu aja. Biar ada sedikit perubahan. Gini juga enak kan diliatnya?” Dengan senyuman sumringahnya.


“Tapi lo harusnya tungguin gue dong, berat lho itu. Biar barengan beresinnya.” Jawab suaminya pengertian.


“Aahh.. gak dibantu juga bisa kok itu.... Aku tidur duluan ya, itu makannya udah siap kok.” Menunjuk meja makan seraya berjalan ke kamar tidurnya.


Menutup pintu, ekspresinya langsung berubah menjadi sendu, namun matanya memancarkan amarah.


~


Hari berganti hari...


Maru pulang telat dan meminta istrinya untuk membereskan bajunya. Karena dia mendadak harus melakukan pertemuan ke luar kota. Orang yang bertugas tiba-tiba ada urusan lain. Dia berpamitan akan diluar kota selama kurang lebih tiga hari.


Sora mulai mengemas baju suaminya, sambil berpikir ini lebih baik. Semakin dia terus bertemu suaminya, semakin dia ingin memakinya. Tapi, kenapa dia tidak bisa memakinya?


~


Astaga, apa yang terjadi.. Maria... aku datang...


Pria itu mendapat kabar bahwa wanita pujaannya tengah telah pergi dari rumah suaminya.


Yup, Maria pergi dari rumah suaminya karena perdebatan hebat. Saling mendiamkan berhari-hari sampai wanita itu keguguran.


Yang akhirnya dia menggugat cerai suaminya. Kini dia dalam proses perceraian. Semua itu tidak diketahui oleh Maru sedikitpun. Sampai dia mendapat kabar keberadaannya, dan langsung bergegas ingin menemuinya.


Tapi, harus bilang apa kepada Sora? Apa sebaiknya aku jujur. Terbuka seperti yang dia katakan. Apa kalau aku jujur akan melukainya? Tapi bohong juga, udah pasti membuatnya kecewa...


Aku akan bilang aja nanti setelah kembali, maaf, aku harus bohong dulu... aku akan pergi untuk pertemuan dengan rekan kerja keluar kota. Menggantikan yang berhalangan.


Setelah sampai di alamat yang diberikan. Maru terdiam sejenak, sampai terlihat Maria yang menghampirinya dan langsung memeluk Maru sesegukkan. Dia kehilangan bayinya.


Entah apa yang terjadi, setelah kehilangan bayinya dia menjadi pemberani, dia berani untuk menggugat cerai suaminya dan membangkang orangtuanya. Saat ini Dia berada dirumah sepupunya tanpa seorangpun yang tahu, banhkan orangtuanya.


Kondisinya masih terlihat mengkhawatirkan, karena hari itu dia kontrol, akhirnya Maru pergi menemaninya ke rumah sakit. Dengan setia pria itu ada disampingnya. Mendengarkan penjelasan dokter.


Selesai melakukan serangkaian kontrol, mereka bergegas pulang kembali ke rumah itu. Dikoridor rumah sakit tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Zaenal. Mata kedua pria itu bertemu dengan tatapan tajam.


Dengan senyuman yang menungging keatas, Zaenal memberanikan diri menyapa keduanya dengan tidak hangat.


“Udah mutusin toh, mau pilih siapa? Okay... lo jangan nyesel ya. Karena mulai dari sekarang. Gue bakal melangkah lebih maju dari pada lo.” Tatapan sinis menghujam kemata mereka berdua..


Tanpa ada jawaban Maru langsung memapah pergi meninggalkan Zaenal yang juga langsung pergi ke arah berlawanan.


~

__ADS_1


Zaenal POV


Dalam perjalan pulang, Zaenal terus menyemangati diri sendirinya untuk berani mengutarakan perasaannya pada Sora. Dia masih tidak habis pikir, suami macam apa. Meninggalkan istrinya, dan malah pergi ke wanita yang bukan istrinya.


Zaenal menunggu Sora sampai selesai pekerjaannya. Tampak wanita itu keluar dari mall dan langsung menghampirinya..


“Hi... udah selesai?” tanyanya dengan bersandar di pintu mobil.


“Ohm. Hi.. ngapain kamu disini? Bajunya kok kayaknya rapi banget? Mau kemana?” tanyanya dengan senyuman yang begitu merekah dibibir.


“Aahh... aku baru pulang dari RS X. Udah jenguk paman aku.” Jawabnya...


“Ayo, sekalian aku anterin,” sambil membuka pintu dan memiringkan kepala, isyarat agar Sora untuk segera menaikinya.


“Tumben, kenapa gak dijemput Maru.?” pura-pura bodoh.


“Dia lagi diluar kota, katanya ada pertemuam dengan rekan kerja. Dia gantiin bawahannya. 3 harian lah, dari kemaren sore dia berangkat.” Jelasnya.


Zaenal langsung mengutuk Maru dalam hati, berani-beraninya dia terus membohongi wanita itu.


“Zaeanal, kamu kenapa berantem ama Maru waktu itu?” tanyanya tanpa ragu.


“Hem..? Aku? Berantem? Maru?” matanya terbelak.


“Aku tahu kok, kalian bukan berantem ama pengendara motor. Kenapa sih sebenarnya?” penasaran.


Zaenal menepikan mobilnya, dan terdiam sejenak.


“Kamu pengen tahu alesan aku berantem ama dia?”


Sora hanya mengangguk, dengan mata yang terlihat penasaran.


Sekilas kilat tiba-tiba... cup... Zaenal mencium bibir Sora.


Tertegun sejenak, Sora langsung menjauhi wajah Zaenal


“Kamu.. apa-apaan?” kaget.


Tak ada jawaban, dia kembali mencium bibir kecilnya.


Sora mendorong tubuh Zaenal,


“Aku suka sama kamu.” Timpalnya


Bingung dan tak percaya apa yang dia dengar, Sora langsung melepaskan sabuk pengaman dan berusaha untuk keluar. Namun, Zaenal langsung menahannya.


“Okay... maafin aku. Jangan keluar, aku anterin sampai rumah kamu. Aku gak bakal ngomong apa-apa.” Sambil memasangkan sabuk pengamannya kembali.


Benar saja. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang keluar, hanya keheningan.


Malam hari, pikiran Sora berkecamuk. Dia bingung. Apa ini alasan Maru kenapa dia sangan sensitif terhadap Zaenal. Tapi, kenapa? Kenapa dia harus begitu? Suaminya itupun tetap berhubungan dengan Maria. Memang Sora juga merasa marah dan kecewa. Tapi dia berbeda dengan Maru.


Daripada bingung dia memutuskan untuk makan, makan yang banyak... karena dia mersa akhir-akhir ini ***** makannya meningkat. Mungkin karena sterss.


Yang gak sengaja baca ini novel.


Mohon dukungannya. 🙏🙏⚘

__ADS_1


__ADS_2