
Maru tiba di rumah sakit dan membantu proses Kepulangan Maria. Dia menasihati wanita itu dengan lembut. Menggenggam tangannya, ia meminta maaf.
“Sekarang kamu udah sembuh. Aku mohon jangan kamu ulangi lagi.” Perhatiannya ini membuat Maria semakin tidak ingin melepasnya.
“Aku janji, aku akan lebih mencintai diri aku sendiri.” Maria menatap penuh cinta.
“Okay, bagus. Aku minta maaf, karena aku cuman bisa temani kamu sampai sini aja. Aku harap kamu bisa menerimanya. Kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik.”
“Makasih. Tapi, kayaknya aku bakalan susah dapet yang lebih baik. Hhhaa... aku nyesel tindakan aku yang kemaren-kemaren.” Melihat kedua tangannya penuh luka sayatan.
“Aku juga nyesel. Kenapa waktu itu kita gak beresin semuanya dengan benar. Harusnya kita bicara pelan-pelan, tenang, kepala dingin. Bukan malah kekanak-kanakkan. Aku nyesel ninggalin kamu waktu itu.” Merapikan rambut Maria.
“Kamu nyesel?” Tertawa kecil.
“Yup... kedepannya aku bakalan lebih hati-hati lagi, lebih tenang lagi. Jadi semua apa yang kita mau bisa tercapai.”
☆☆
Sora berjalan memasuki rumah sakit. Di loket administrasi ada pasangan paruh baya yang sedang menyelesaikan administrasi. Masih belum pulang ternyata, batinnya seolah memberitahu bahwa Maria masih ada dirumah sakit karena melihat orangtuanya.
Sora melewati lorong-lorong rumah sakit. Ia sampai ditempat tujuan, pintu ruangan tengah terbuka. Apa udah pergi? Dia memastikan, setidaknya kalau dia belum pulang, dia bisa membantunya juga.
__ADS_1
“....Aku nyesel ninggalin kamu waktu itu.”
“Kamu nyesel?” Tertawa kecil.
“Yup... kedepannya aku bakalan lebih hati-hati lagi, lebih tenang lagi. Jadi semua apa yang kita mau bisa tercapai.”
Suara berat Maru terdengar oleh telinga Sora yang berada dibalik tembok. Tentu ia tahu dengan suara itu.
“Eh, ada Nak Sora juga. Kapan dateng?” Ibu Maria menyapa Sora yang terlihat berada di dekat ruangannya.
Suara Ibu Maria mengagetkan semua, Sora terperanjat. Begitu juga dengan Maru dan Maria yang langsung memalingkan pandangannya ke arah pintu.
“Eh... baru aja. Ini baru mau masuk.” Berbohong.
Pandangan kedua wanita ini bertemu. Entah apa yang dirasakan, Sora merasa sangat sesak dadanya. Ia ingin sekali berteriak agar wanita itu berhenti memegangi suaminya.
“Selamat ya, udah seminggu lebih kamu disini, akhirnya bisa pulang juga. Maaf baru bisa liat kamu lagi sekarang.” Yang diucapkan sangan berbeda dengan apa keinginannya.
“Makasih.” Hanya satu kata yang keluar dari mulut Maria.
Keduanya kembali saling menatap, tatapan yang menandakan kalau keduanya tengah bersaing.
__ADS_1
Kini kedua keluarga itu berpamitan di depan pintu ruangan tempat Maria selama seminggu berbaring. Maria dan keluarga izin pulang terlebih dahulu.
“Kamu kenapa gak bilang kalau mau kesini. Aku kan bisa jemput.” Gerutunya sambil membawa tas istrinya.
“Apaan, gak apa-apa kali. Biar kamu gak bolak-balik. Lagian, sebenarnya aku juga kesini ada urusan lain. Hari ini jadwal kontrol.” Tersenyum.
“Oh my... aku sampe lupa. Aku minta maaf. Kenapa kamu gak ingetin aku sih.” Menyesal dan terus memegang pipi tembemnya.
“Kasihan kamu, banyak kerjaan, sibuk. Di kantor, Maria, masa aku juga harus repotin kamu.”
“Ya elah,, mana ada kamu repotin aku. Ya udah, sekarang kita ada di sini. Ayo.. aku temenin..”
Keduanya melangkah menuju tempat yang mereka rutin datangi sambil bergandengan tangan.
Menyesal? Maru menyesal udah ninggalin Maria?
Berarti dia juga nyesel dong udah pilih aku?
Dia lupa jadwal kontrol aku? Kenapa? Terlalu fokus dengan Maria?
Oh... come on... Sora...
__ADS_1
Kenapa kamu gini sih? Kanu sendiri yang minta Maru buat jagain dulu Maria, tapi kamu sendiri yang terus merasa khawatir....