Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
35. Keputusan Tepat I


__ADS_3

Maru tetap terjaga menemani Sora yang kini sudah semakin terlelap. Setelah hampir dua jam, dia terus berdiam menatap wajah istrinya yang sedikit menjadi pucat.


Ia bangkit, melihat sekeliling semua berserakan. Barang-barang berserakkan karena pertengkaran tadi diantara keduanya.


Terdengar notifikasi ponsel Sora. Pesan dari Zaenal. Yang tetap terus menghubungi istrinya, dia membuka pesannya. Dan membacanya, dia juga membaca pesan-pesan sebelumnya.


Percakapan keduanya sungguh pesan yang biasa. Sangat terlihat jelas bahwa Zaenal sangat mencintai Sora. Tapi, Sora tetap tidak menerimanya. Tidak seperti apa yang dia pikirkan.


Dia membuka galeri ponselnya. Terpampang foto istrinya dan ada foto dirinya juga. Bahkan ada foto mereka berdua yang tersenyum lebar, foto disaat mereka menganggap satu sama lain sebagai teman.


Maru membuka note pribadi Sora yang ia tulis. Disana tertulis tentang bagaimana mendapatkan hak asuh anak. Bahkan Sora telah membuat rencana hidupnya kedepan, agar tetap bisa bersama anaknya. Namun tidak ada nama Maru dalam rencananya itu.


“Bodoh...” dengan tatapan yang datar.


Terdengar suara gerakan Sora yang tengah tertidur. Maru segera menghampiri dan didapatinya suhu tubuh Sora sangat tinggi. Ia telaten menjaganya, memberi kompresan, namun setelah beberapa waktu suhu tubuhnya tetap tidak turun. Ia melirik jam menunjukkan pukul dua tengah malam. Dia menggendongnya dan membawanya ke UGD.


Maru menemani istrinya tanpa tidur sedikitpun. Dia tetep terjaga sampai pagi di ruang rawat inap untuk satu orang. Karena Maru tidak mau Sora terganggu oleh pasien lain.


Merasa haus, dia berniat membeli minum namun dompetnya tertinggal dimobil. Ia menuju parkiran hendak mengambil dompet. Suara ponselnya terus berdering, saking khawatirnya dia tidak sadar kalau dompet dan ponselnya tertinggal di mobil. Ia menerima panggilan itu.

__ADS_1


“Kamu dimana?. Berani-beraninya kamu meninggalkan kantor disaat penting. Katanya kamu dari Kemarin-kemarin sering bolos. Hari ini ada meeting penting.” Suara Ayahnya yang membentak terus.


Terdengar suara ceklek pintu dari seberang,


“Kamu juga kenapa ini gak kunci pintu.... astaga... Maru ada apa ini? Kamu dimana?” bentakkan berubah menjadi kekhawatiran. Ternyata Ayahnya menyusul sampai ke rumahnya.


“Rumah sakit ,aku di rumah sakit.”


Mendengar suara anaknya yang begitu lemah membuat sang Ayah bergegas pergi ke Rumah Sakit bersama istrinya yang memang menunggunya di dalam mobil.


Maru kembali ke kamar tempat Sora di rawat dengan air minum ditangannya. Istrinya telah sadar, dan memandanginya yang berdiri di depan pintu. Ia langsung menghampirinya dan terus bertanya apa istrinya itu sudah baik-baik saja.


Maru menggenggam tangan Sora, sesekali ia mencium tangannya yang mungil itu. Sora melepaskan tangannya dari genggaman.


“Aku gak mau liat kamu.” Lima kata yang dia ucapkan, menyadarkan Maru bahwa Sora masih belum memaafkan dirinya, mungkin dia akan semakin membenci dirinya.


Maru berjalan keluar kamar. Ini yang terbaik untuk sekarang. Kalau dia memaksakan kehendaknya seperti kemarin, dia khawatir Sora akan mengamuk lagi, dan itu memengaruhi keadaannya saat ini.


*

__ADS_1


*


~


Berjalan di koridor rumah sakit menuju ruangan yang dimaksud, Ayah dan Mamah Maya melihat anaknya duduk termenung di kursi depan ruangan. Ketika matanya bertemu, anaknya berdiri menghampiri Mamah Maya memeluknya dan mulai menangis.


Entah kenapa perasaannya tidak jelas. Dia terus uring-uringan. Dia tetap terganggu oleh Sora yang kekeh ingin bercerai darinya.


“Kamu kenapa sayang? Siapa yang sakit? Ayah kamu ajak mamah ke sini tapi gak bilang apa-apa. Kamu terluka?” Tanya Mamah Maya yang belum tahu apa-apa.


“Bukan aku mah, Sora yang sakit Mah.” Sedikit lebih tenang.


Tak lama datang Ibu Reni dengan wajah khawatir ditemani Zaenal yang mengikutinya dari belakang.


“Nak Maru, gimana keadaan anak Ibu? Dia baik-baik aja, kan?” dengan tangan yang masih bergetar.


“Ibu tahu dari mana?” karena dia belum memberikan kabar kepadanya.


“Ayah kamu telpon Ibu, untung ada Nak Zaenal yang kebetulan datang kerumah.”

__ADS_1


Mata Maru dan Zaenal bertemu. Tidak ada sapaan diantara keduanya. Tatapan kali ini sulit diartikan. Tatapan keduanya tidak setajam biasanya. Apa itu tatapan yang memberitahukan kekhawatiran.. entahlah. Hanya mereka yang tahu.


__ADS_2