
Setelah mendengar bahwa wanita pujaannya sedang mengandung anak dari laki-laki lain, sebenarnya membuatnya merasa sangat tersiksa, kenapa bukan dirinyalah laki-laki itu.
Dan sekarang ia kembali menenggak minuman beralkohol. Entah kenapa, sekarang ini setiap Maru merasa tidak ada jalan untuk hubungannya dengan Maria, pelariannya hanya minuman keras. Dia berharap bisa lupa dengan semua ini. Tapi, apa daya setelah dirinya tersadar, semua masalah ini kembali menghantui pikirannya.
Maru pulang dengan keadaan mabuk. Dia menggedor pintu dengan keadaan mabuk.
Sora membuka pintu dengan heran, siapa yang datang. Kalau Maru kan dia punya kunci rumah sendiri. Matanya terbelak, terheran kenapa Maru menggedor pintu.
“Kamu kenapa kok...” belum selesai kata-katanya, Maru langsung menerobos masuk rumah. Tercium bau alkohol yang menyengat yang membuat Sora terkaget-kaget.
“ Kamu minum? Kenapa kamu minum? Ada apa?” tanyanya sembari membopong suaminya itu.
Tak terdengar jawaban dari mulut Maru.
Setelah Sora membopong suaminya untuk duduk di sofa, Ia langsung mengambilkannya air putih, dengan maksud agar bisa sedikit membuat suaminya itu tersadar dari mabuk.
Mata Maru terus terpaku ke arah istrinya itu, dengan sesekali mengerutkan keningnya.
“Ayo, diminum dulu airnya..” dengan menyodorkan segelas air.
Setelah Maru meminum air itu, tanpa basa-basi dia langsung mendorong tubuh Sora ke atas sofa yang empuk, dan mulai menyodorkan wajahnya ke arah wajahnya itu. Sora kaget terperanjat dan segera mendorong Maru agar bisa bangun, namun apa daya kekuatan Maru lebih besar darinya. Dan Ia kembali keposisi terlentang diatas sofa dengan Maru diatasnya. Maru kembali mencondongkan wajahnya ke arah Sora dan segera ingin menciumnya. Tapi, dia berhenti. Dan menatap Sora.
Terlihat dengan jelas olehnya mata istrinya itu yang mengatakan bahwa dia kaget, dia membuka matanya dengan lebar. Lalu, Marupun beranjak bangun dan berjalan sempoyongan menuju ke kamarnya. Sora dengan masih merasa kaget, Ia pun langsung berlari ke kamarnya dan menutup pintu.
Ya ampun!! Apa yang terjadi?
Sora hanya bisa duduk lemas dibalik pintu yang baru saja ditutupnya.
Kenapa dia tiba-tiba mau cium aku? Apa karena dia mabuk?
Tapi ada masalah apa? Kok dia kayak gitu? Mungkin ada sesuatu terjadi di kantornya?
Mengingat kembali mengingat kejadian diluar dugaan itu. Hatinya sedikit berdebar, dan terasa hawa panas di setuju tubuhku. Dia merasakan kalau pipinya memerah.
Takut? Iya, benar. Aku begitu karena takut. Tapi, aku merasa tidak dibahayakan juga olehnya. Yang ada aku merasa... aman? Suka?... Apa yang terjadi..
__ADS_1
Ah, pasti aku kaget. Kaget. Gak mungkin aku menyukainya kan. Toh ini bukan yang pertama kalinya juga kan, sebelum menikah juga dia kayak gitu.
Sekarang aku harus tenang, kamu gak boleh berdebar karena tadi, toh dia lagi mabuk juga. Sekarang mending langsung tidur.
Hatinya dan pikirannya terus berargumen.
Menuju tempat tidur, dan langsung merebahkan diri diatas kasur.
Tapi, aku gak bisa tidur... kejadian tadi terus terbayang...
Bagaimana ini...
Sambil mengacak-acak rambut panjangnya.
Disisi kamar lain, Marupun ikut termenung. Namun pikirannya berbeda dengan Sora yang kini dilanda kebingungan.
Gak bisa, aku gak mampu.
Mana bisa aku meniduri wanita yang sama sekali gak aku cintai. Kalau begini caranya aku sama aja nyakitin Maria. Meskipun ini kemauan dia juga, tapi aku gak sanggup.
Keesokan harinya, seperti rutinitas biasa. Sora menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Sora berusaha untuk tetap tenang dan memilih untuk tidak membahas apa yang telah terjadi kemarin malam.
Namun, batin Maru bertanya-tanya kenapa istrinya itu tetap diam. Dan tidak bertanya apapun. “Apa dia tidak peduli?” pikirnya. Dan memutuskan untuk tidak membahasnya juga.
“Kemaren, maaf ya. Gue pulang dalam keadaan mabuk. Udah bikin lu repot. Makasih..” Maru memecah keheningan.
“Ah.. ga apa-apa. Tapi, jangan diulangi lagi. Kalau ada masalah, kalau kamu mau tinggal cerita aja kali. Siapa tahu aku bisa bantu cari jalan keluar.” Jawabnya.
Dalam hatinya, “Dia gak bahas kejadian itu, apa dia gak inget ya. Ya udahlah. Aku juga mending diem aja. Daripada nanti kita canggung.”
Wajah Sora sedikit merona mengingat akan kejadian kemarin. Kejadian kemarin malam itu benar-benar terus berada diingatannya. Selama bekerjapun dia terus teringat dengan kejadian itu. Dia terus bertanya dalam hatinya sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi sampai suaminya mabuk dan melakukan hal itu.
Sampai-sampai dia tidak sadar kalau Zaenal sudah ada di depannya. Zaenal langsung membangunkan ya dari lamunannya.
__ADS_1
“Dari kapan kamu disini?” Tanayanya heran.
“Baru sadar aku ada disini? Mikirin apa sih? Ampe melamun gitu?” Sibuk dengan makanan dipiringnya.
“Kamu ngapain disini? Siang-siang lagi? Gak diem di restoran? Kan ini jam makan siang, lagi sibuk-sibuknya kan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Ya ada sesuatu yang harus aku beli dong. Lagian ada karyawan ini.” Jawabnya simple.
“Aku mau tanya deh ama kamu?” dengan mata jernihnya menatap mata Zaenal
“Tanya apa, bilang aja.”
“Kamu kan bukan tipe orang yang suka minuman beralkohol. Kalau tiba-tiba kamu minum sampe mabok, Kira-kira apa alasan kamu begitu?” tanyanya penuh harap, harapan jawabannya memuaskan.
Zaenal langsung menghentikan kegiatan makannya. Dan dia berspekulasi, apa wanita ini mengalami hal yang tidak mengenakan? Apa suaminya mabuk?
“Mana aku tahu, seperti yang kamu bilang aku bukan orang suka minuman beralkohol. Kenapa gak tanya langsung aja apa alasannya.”
Sora hanya menganggukan kepalanya, dan sedikit merasa kurang puas dengan jawaban temannya itu.
“ Kalau lu pengen tahu alasan dia mabok. Udah pasti karena dia kehilangan sesuatu yang berharga buat temen kita ini...” kemunculan Rendi yang tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.
“Atau dia mabok karena tidak bisa memiliki apa yang dia inginkan. “ Terangnya dengan percaya diri.
Sora heran, apa iya sampai sebegitunya. Ia langsung menundukkan kepalanya kearah ponsel, dan baru sadar jam istirahatnya telah berakhir. Iapun langsung berlari meninggalkan teman-temannya itu.
Setelah kepergian Sora, Zaenal langsung memukul temannya itu.
“ Apaan maksudnya tadi coba.?”
“ Lagian sok-sokan bilang gak tahu. Terus siapa yang patah hati ampe mabok berat karena cewek tadi yang duduk dihadapan kita berdua menikah... siapa?” ejeknya
“Tapi jangan dibilang-bilang juga kali.” Mengecilkan suaranya.
Berbeda dengan Maru, dia masih tetap terganggu dengan berita kehamilan Maria. Meskipun dibibir dia bilang gak apa-apa. Tapi hatinya benar-benar tidak menerimanya sama sekali. Sempat terbesat dalam pikirannya, untuk menuruti perkataan Maria. Yaitu membawanya pergi, dan hidup bertiga dengan bayi yang bahkan masih dalam kandunganya.
__ADS_1
Tapi, aku juga laki-laki. Bagaimana perasaannya jiga istrinya sedang hamil, tiba-tiba dia kehilangan keduanya. Ayah mana yang terima, bukan, laki-laki mana yang terima.