
Dua hari berlalu setelah malam itu. Tanpa di duga kemudian Maru memberinya kabar, bahwa dia dan keluarganya akan mengunjungi rumahnya hari Sabtu nanti.
Sora langsung kaget, kok secepat itu. Dengan berbagai pertimbangan, dia terus memaksakan dirinya untuk memutuskan apakah pertemuan keluarga itu akan terlaksana apa tidak.
Setelah berpikir keras, wanita ini memutuskan untuk menerimanya, karena dia berpikir lebih cepat lebih baik juga. Gadis itu memberi kabar pada keluarganya.
Esoknya sepulang kerja, Sora menuju restoran Zaenal. Pria itu begitu senang, karena gadis pujaannya mendatanginya duluan. Gadis itu langsung duduk dibangku kosong, dan melempar senyuman kearah Zaenal.
“Tumben, kenapa? “tanya Zaenal seakan dia sudah tahu kalau senyuman itu tidak tulus.
“Hhmm... Cuman mau balikin ini doang, takut lupa lagi. Makasih ya jaketnya. Wangi kok aku cuci..“ Sambil menyerahkan totebag isi 2 jaket itu. Zaenal tersenyum dan berterimakasih.
Tiba-tiba gadis itu mendapat pesan dari pacarnya, dia langsung berdiri dan beranjak pergi pamitan kepada pria yang ada didepannya itu.
Ternyata pacarnya menyuruh dia hati-hati kalau-kalau ada kakaknya yang memperhatikan, soalnya kakak Maru agak tegas. Dikhawatirkan terjadi kesalahan pahaman.
Wanita ini terdiam sejenak dan menyadari, kenapa dia menuruti kata-kata pacarnya itu. Tukang sihir tu orang, pikirnya.
Setelah mengumpulkan keberanian, Zaenal berencana mengajak Sora jalan-jalan. Yang sebenarnya dia berniat untuk menyatakan semua perasaannya terhadap Sora.
“Malam minggu depan kita jalan-jalan yuk.! Ada tempat baru” tanya dengan penuh harap.
__ADS_1
“ Aku gak bisa, hari sabtunya aku ada perlu.” Jawabnya.
“ Acaranya sampe malem apa? Sabtu, kamu libur?” tanyanya kembali
“ Ambil cuti aku. Gak bisa deh kayaknya. Lain hari aja. Tempat apa emang?” dengan penasaran.
“ Ada tempat wisata baru, kayak taman gitu. Tiketnya lagi murah. Sambil liat-liat juga. Siapa tahu bisa buka stand atau jualan makanan disana.” Masih dengan meyakinkan Sora.
“ Gimana kalo hari rabu aja, aku libur hari rabu. Tapi jangan malem ya,!” ajaknya
“ Okay, nanti aku jemput hari rabu deh. Jam 10.” Janjinya.
Sora langsung pamit pulang, namun Zaenal menahan Sora.
“ Gak usah, orang aku kesini buat balikin jaket kamu doang. Bye bye..!”
“ Aku anterin, tunggu di depan.”
“ gak usah, aku... gak usah. Mau pake angkutan umum aja.” Sambil berlari kecil ketepi jalan.
Zaenal hanya bisa mengikutinya dan menemaninya menunggu angkutan umum.
__ADS_1
Hari sabtu pun tiba, bahkan Sora sampai minta cuti dadakan. Mereka berjanji akan tiba dirumah gadisnya itu setelah adzan dzuhur. Benar saja, mereka tiba pada pukul 1 siang. Orangtua Sora sudah menyiapkan jamuan yang menggiurkan, menggugah selera. Baru kali ini ada makanan kayak gini dirumah, batin gadis itu iri.
Sora sedikit gugup, terlihat juga Maru yang gugup. Tapi mereka terus bersikap relax, oh lebih tepatnya akting kali. Tanggal pernikahan mereka sudah ditentukan, dan itu sedikit mereka berdua kaget. Karena ternyata orang tua mereka ingin cepat-cepat mengikat mereka dengan pernikahan. Mereka hanya bisa mengangguk, karena apa.
Ternyata orang tua Maru juga sudah mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh waktu untuk menikahnkan putra bungsunya itu. Bahkan rumah telah tersedia untuk mereka berdua, bahkan beserta isinya telah disiapkan oleh Mamah Maya dan juga Ayah Aryo. Sora dan Maru sama-sama anak bungsu, makanya banyak yang sudah orangtua mereka siapkan dari jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan anak-anak bungsunya itu.
Sora dan Maru sepakat agar rencana pernikahan mereka jangan diumbar-umbarkan dahulu. Pernikahan mereka akan dilaksanakan satu bulan kedepan. Mendadak emang, tapi tidak untuk orangtua mereka, sudah terencana. Bahkan Ibu Reni sudah memesan WO, dan cetak undangan. Karena, berniat menikahkan putrinya pada pria pilihannya dulu, dia juga mengurus-urus semua persiapan pernikahan untuk putrinya. Sora dan Maru bahkan tidak mempersiapkan apa pun, hanya tinggal membeli cincin pernikahan mereka.
Setelah acara selesai, Sora dan Maru keduanya berjalan-jalan dan bercengkrama.
“Mamah kamu gak curiga apa? Kok tiba-tiba kamu pengen ngelamar aku? Mamah kamu gak tahu tentang hubungan kamu sama Maria” Tanya Sora penasaran, karena dia merasa mengapa semuanya begitu terasa lancar.
“Dia tahu tentang hubungan kita berdua. Bahkan Mamah terus nyuruh gua buat ngelamar Maria.” Kenangnya
“Terus kenapa kamu gak cepet-cepet lamar Maria?” Rasa ingin tahunnya semakin jauh.
“Bukannya gue gak lamar dia. Udah berulang kali malah, tapi hasilnya sama. Dia pengen urus sekolah sama karir dulu. Terus juga orangtua gua tahunya gua udah putus dari dulu-dulu banget. Soalnya Maria udah jarang ke rumah lagi.” Panjang lebar.
“Orangtua gue juga sama, nyuruh gue cepet nikah. Gak tahu kenapa. Makannya pas bilang minta tolong buat ngelamar. Langsung okay aja.” Terkekeh mengingatnya.
“Gue bilang, gak mau kalau laki-laki lain yang akan ngelamar wanita ini. Gak mau keduluan orang lain. Makannya langsung setuju, apalagi Mamah.” Sembari tersenyum melirik Sora.
__ADS_1
Pipi Sora terlihat sedikit merona.