
Sudah satu setengah tahun Maru mengelola perusahaan itu kembali. Maru terlihat lebih fresh, aura laki-laki sempurna seorang Maru yang dulu sempat hilang kini kembali. Perusahaanpun mendapatkan kemajuan yang signifikan. Client yang meminta jasanya terus bertambah.
Karena merasa dia dan juga karyawannya yang tidak terlalu banyak itu sudah bekerja keras, Maru memberikan hadiah berupa jalan-jalan gratis ke sebuah tempat yang katanya indah.
Ya.. mereka akan jalan-jalan kepesisir pantai yang cuacanya panas, berbeda dengan tempatnya sekarang yang berada di dataran tinggi yang sudah pasti lebih dingin.
Maru mengadakan trip selama dua hari satu malam. Keluarga kecil para karyawan turut mengikuti trip ini.
Semua sangat antusias. Mereka akan menginap disebuah penginapan yang tidak terlalu jauh dari pantai. Mereka akan menikmati indahnya pantai, tak lupa menikmati wahana yang disediakan disana. Pantai disana masih terbilang tidak terlalu ramai, karena baru beberapa tahun kebelakang dibuka untuk wisata. Warga disana awalnya tidak setuju tempat disana dijadikan tempat wisata, namun karena merasa akan lebih menguntungkan warga sekitar, akhirnya mereka setuju.
~
Hari ini Sora harus merapikan penginapan. Karena akan ada rombongan yang datang menginap. Dia menyiapkan semua perlengkapan yang sekiranya akan dibutuhkan. Para tamu tiba disana pada siang hari sekitar jam 2. Perwakilan dari rombongan mengkonfirmasi booking penginapan kepada Sora. Setelah terkonfirmasi, para tamu memasuki penginapan untuk membereskan barang-barangnya dan istirahat sebentar, mereka keluar kembali menuju pesisir pantai untuk menikmati indahnya pantai di sore hari.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, Sora mengalihkan tugasnya kepada yang bertugas malam. Dia pamit pulang, dan tentunya Langit sudah menunggunya.
“Tamunya banyak kayaknya, ya.” Tersenyum hangat kearah wanita yang sedang menghampirinya.
“Yup... lumayan deh. Jadi harus lebih ekstra buat siapin semua kebutuhan mereka.” Membalas senyuman Langit, tak kalah hangat.
Sora menaiki sepeda Langit di tempat duduk belakang, yang kecil berbentuk kotak. Keduanya mampir ke warung Mbak Santi. Ya, memang sebelum pulang Sora akan selalu datang ke warung untuk mengambil tempat kue yang dia titipkan diwarung itu, tak lupa uang hasil jualan dari kue buatan Ibunya dan juga Kakak iparnya.
Rombongan yang tengah menikmati indahnya pantai sore memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk membersihkan tubuh mereka dan juga bersiap untuk menyantap hidangan yang akan disiapkan oleh petugas penginapan.
Maru menangkap sosok yang sangat familiar. Dia berusaha menghampiri sosok yang familiar dengan sosok yang selama ini ia cari. Namun, seseorang memanggil namanya yang menyebabkan dia harus memalingkan wajahnya.
“Bos...”
__ADS_1
Maru menengok kaearah suara. Terlihat gerombolan tengah bergerombol bersiap untuk diambil foto.
Bos. Itulah panggilan karyawannya, karena dia rasa Maru tidak terlalu tua untuk dipanggil Pak. Terlebih karyawannya memiliki umur yang tidak begitu jauh dengan dirinya.
“Bos... ayo kita ambil foto dulu.” Teriaknya sembari melambaikan tangannya. Marupun menghampiri gerombolan itu. Dia kembali mencari kembali sosok yang tadi menjadi pusat perhatiannya. Ternyata sudah tidak ada.
Esok hari telah tiba. Mereka menyantap sarapan yang disediakan oleh penginapan. Maru merasa hidangannya bersahabat dengan lidahnya. Maru sangat menikmati nasi goreng itu. Selepas mereka menyantap sarapan, mereka melanjutkan kegiatan dipantai. Bermain wahana, jalan-jalan, menikmati jajanan khas pantai dari mulai makanan sampai souvenir.
Maru memutuskan untuk makan siang di warung makan sederhana yang berjajar. Ia memasuki warung makan bersama beberapa karyawannya, karyawan yang lainnya masih menikmati kegiatannya masing-masing.
“Silakan ini menunya. Kalau sudah mau pesan, tinggal panggil saja.” Sosok laki-laki muda menyodorkan menu dan berlalu kembali kedapur.
“Sora... kamu bawa Henry kesini... auuuhhh... lucunya.”
Maru terperanjat mendengar nama Sora disebut oleh seorang wanita yang baru saja tiba di warung dengan barang bawaan yang memenuhi kedua tangannya.
Maru langsung berdiri menghadap arah suara. Matanya menangkap wanita yang tengah membereskan barang bawaannya dibantu oleh laki-laki tadi. Bukan hanya kedua orang itu. Sora, wanita yang selama ini terus berada didalam pikirannya dan juga hatinya berada disana sedang menggendong bayi yang terlihat belum berusia satu tahun.
“Ayuyuyuuu... sini sama tante...” Goda wanita yang disebut Mbak Santi itu.
“Jangan Mbak. Tu liat ada pelanggan, biar Henry sama aku aja.” Senyum sumringah menghiasai bibir Sora.
Maru berdiri tertegun. Terus menatap wanita itu. Sora berniat pergi dari warung itu. Matanya bertemu dengan laki-laki yang sangat ia kenal.
Keduanya saling menatap dari jarak yang cukup jauh. Tanpa ada kata, tanpa ada ekspresi. Kedua detak jantung milik wanita dan laki-laki ini berdetak begitu cepat.
Tatapan mata Sora teralihkan karena sosok Langit yang datang menghampirinya. Langit menyimpan keresek besar dan mendekati Sora yang sedang menggendong bayi. Mata Sora sesekali mencuri pandang kearah Maru.
__ADS_1
“Mau pulang sekarang?” Tanya Langit.
“Mm... ayo pulang sekarang aja.” Pintanya
“Itu penginapan gimana oy?” Tanya Mbak Santi.
“Nanti sore aja aku balik lagi kesini. Lagian kasian, masa bawa-bawa ini bayi....” Nada bicaranya begitu nyaman masuk telinga.
“Tamunya juga bakal pulang hari ini. Jadi aku tinggal beresin nanti aja kalau mereka udah pergi. Makan siang juga mereka minta diluar.” Jelasnya kembali.
“Yaudah.. hati-hati... ini sekalian titip. Buat neneknya Henry... uttutututu...” Memberikan sebuah bungkusan.
“Apaan ni?” Tanya Sora.
“Ibu kamu pesen ke Mbak buat dimasakin ini. Ni.. bawa..”
Mbak pemilik warung melihat motor yang tertarik didepan warungnya.
“Oohh.. Langit sekarang bawa motor.” Sendirinya
“Ya iyalah... masa bawa bayi pake sepeda.” Balasnya
“aaauuuhhh.. kalau gak ada bayi ni, pasti pake sepeda. Biar lebih romantis, nempel terus...” Godanya.
Keduanya hanya terkekeh sambil berlalu.
Sora dan laki-laki yang dipanggil Langit meninggalkan warung. Sora melewati Maru yang terus menatapnya, dia melewatinya seolah tidak mengenalnya. Bukan hanya Maru yang berdiri terpaku, satu karyawan yang dibelakang Maru ikut terdiam, dia terus melihat arah Sora dan Maru bergantian. Dia mengerti situasi sekarang.
__ADS_1