Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
39. Aura Ibu Hamil


__ADS_3

Kehamilan Sora yang terus berkembang dan juga perutnya yang semakin membesar, Maru lebih ekstra dalam menjaga Sora. Apalagi setelah mendengar penjelasan dokter kandungan yang mereka datangi hari ini. Dokter menyatakan keadaan Sora jauh lebih baik daripada ketika awal-awal kehamilannya. Namun dokter terus memperingati bahwa tubuh Sora lemah. Meskipun janin berkembang sehat, kalau kondisi sang ibu sering drop akan sangat mempengaruhi bayi yang dikandung.


Maru selalu membuat istrinya dalam keadaan suasan yang baik. Diperjalanan pulang dari rumah sakit, Maru sesekali terus melirik wajah Sora yang duduk disebelahnya.


“Aahh...liat kedepan. Bahaya.” Merengek


“Kamu cantik banget sih.” Memberikan senyuman killer yang bisa dilihat Sora dengan leluasa.


“Kamu baru sadar kalau aku ini cantik.” Cemberut


“Aku akui, dari dulu kamu emang cantik. Tapi kenapa akhir-akhir ini kamu keliatannya berkali-kali lipat lebih cantik.” Mengerutkan alisnya yang berbentuk sempurna.


“Aauuhhh... kamu godain aku mulu sih akhir-akhir ini.” Tersipu dengan pujian suaminya.


“Katanya sih, aura Ibu hamil berbeda.” Mengada-ada, tapi kenyataan yang dia lihat seperti itu.


“Cantik, tapi sekarang pipi aku tembem banget.” Bercermin di ponselnya


“Menurut aku cantik kok, pipi tembem, perut membesar. Lucu kan. Apalagi dada kamu ukurannya sedikit lebih... ya... bertambah.” Tersenyum geli.


“Iiihh..dasar mesum. Kamu yang dilihatnya begituannya doang.” Seraya melirik dan memegang dadanya. “Bener juga siih.” Mengakui sendiri.


Maru terbahak melihat kelakuan istrinya itu. Maru sengaja selalu memberikan candaan, pujian terhadap Sora, agar dia tetap dalam mood yang baik.


Keduanya kini tengah bersiap untuk tidur, dengan mengenakan piyama Maru telah berbaring terlebih dahulu. Sora beranjak dari meja riasnya hendak naik keatas ranjang. Langkahnya terhenti, dia diam mematung sambil memegang perutnya. Maru terbangun panik.


“Kenapa? Ada yang sakit?” Menghampiri Sora, namun Sora hanya menggelengkan kepalanya.


“Terus kenapa? Kamu jangan bikin takut.” Wajah Maru semakin panik.


“Bayinya gerak... untuk pertama kalinya aku ngerasain pergerakan bayinya.” Menangis haru.


Maru menghela nafas lega, memeluk Sora. Dia membaringkan tubuh istrinya. Membuka piyama bagian perut Sora, ia mengelus lembut perutnya, dan menciuminya.

__ADS_1


“Good job. Good job baby...” Senyuman tidak bisa ia sembunyikan.


Maru terus mengelus perut yang sedikit lebih besarnya itu.


“Waahhh... dulu perut kamu datar banget. Sekarang lihat, tuuingg.. tuuing...” memainkan jarinya bak orang berjalan diatas perut Sora.


Sora hanya geli melihat kelakuannya.


“Lihat... hhhuuu....” kini tangannya naik lebih ke atas.


“Dulu juga ini gak sebesar ini, mungkin hanya sekitar segini. Sekarang lebih padat dipegang.” Membandingkan kedua tangannya yang ia gambarkan dua ukuran berbeda.


“Aahhh... mulai..” Sora merengek. “Itu karena tangan kamu yang gede aja. Makannya kerasanya biasa aja.” Keduanya membandingkan ukuran tangannya. Tangan maru yang besar dengan jemarinya yang jenjang jauh berbeda dengan tangan dan jemari Sora yang begitu mungil.


Maru berhenti menggoda istrinya


“Kamu, gak ada pendarahan atau bercak, kan?” tanyanya sedikit random.


Mata genitnya menusuk mata Sora, dengan mengangkat alisnya.


“Sekarang gak apa-apa dong. Saya akan pelan-pelan dan hati-hati nyonya.” Bercandanya, yang langsung mencium bibir istrinya. Dan... ya.... begitu... Keduanya melewati malam panas dengan hati-hati.


~


Semakin hari pergerakan janin yang dikandungnya semakin aktif, kegiatan Maru setiap sebelum tidur ia akan selalu mengelus lembut perutnya Sora dan akan selalu mengajak ngobrol bayinya.


Keromantisan suami istri ini tampak tak ada habisnya. Kini keduanya tengah belanja baju hamil. Karena pertumbuhan berat badan Sora akan terus bertambah.


“Kayaknya semua baju hamil disini ukurannya kegedean, mending pake baju aku yang biasa aja. Kita beli jangan banyak-banyak ya, sayang kan.”


Memilah baju mana yang akan dia beli.


Memang Sora memiliki style yang selalu memakai baju over size, jadi baju-baju itu masih bisa ia kenakan dengan nyaman, layaknya baju hamil.

__ADS_1


“Bukan bajunya yang kegedean deh, tapi kamunya yang kecil. Tuh liat, kamu sembunyi dibalik badan aku aja, gak bakal ada yang tahu.” Memeluk Sora dari belakang.


“Ihh.. malu banyak orang.” Melepaskan pelukannya, Maru tersenyum manis.


“Ya udah, beli celananya aja yang agak banyak. Kamu kan kebanyakan jeans.” Perintahnya.


Sebelum pulang ke rumah Maru dan Sora mampir ke Restoran Zaenal. Keduanya memutuskan untuk makan siang di restoran Zaenal, yang lebih tepatnya makan siang kedua. Karena jam 12 tadi sudah makan, namun perut Ibu hamil meronta ingin diisi lagi. Padahal waktu masih menunjukkan jam 3 sore.


Zaenal menyambut keduanya dengan senyuman yang sangat ramah. Dia mendekati keduanya.


“Cantik banget kamu.” Tanpa ada rasa sungkan, ia memuji Sora di depan suaminya.


“Masa sih?” Sora semakin tersenyum lebar.


“Hheemm... mau makan apa?” Tanyanya sambil mempersilakan keduanya duduk.


“Kita pesen buat cemilan aja ya. Aku pengen pisang keju, pisang cokelat sama donat cokelat, itu juga kue balok.” Ia terdiam, karena kedua pria itu memandangi Sora misterius.


“Aahhh.. kenapa liatin aku kayak gitu?” cemberut.


“Cemilan sih Cemilan. Tapi kalau porsinya segini mah,, ...” Zaenal memiringkan kepalanya sambil berlalu ke dapur.


Maru hanya tertawa, dia sudah biasa melihat istrinya yang akhir-akhir ini ***** makannya lumayan naik.


“Aku bilang juga apa, aura wanita hamil itu berbeda. Tadi aja dia bilang kamu cantik. Terang-terangan banget lagi.” Memonyongkan bibirnya.


“Cemburu?” Sora menggoda Maru.


Pesanan yang katanya buat Cemilan itu tiba. Sora langsung menyantapnya dengan lahap.


“Pelan-pelan. Nanti kamu tersedak lagi.” Maru mengelap cokelat yang ada di bibir Sora dan memakannya.


Zaenal melihat pemandangan yang indah itu hanya bisa tersenyum, tapi hatinya tidak bisa bohong. Ada sedikit rasa sakit, cemburu, dan juga iri.

__ADS_1


__ADS_2