
Pada malam disaat Sora tengah terlelap, Maru memasuki kamar istrinya. Terus dipandanginya. Dia merasa kalau istrinya ini semakin bertambah cantik. Mungkin karena kehamilannya, sehingga aura cantiknya semakin bertambah. Maru terus tersenyum memandanginya. Kenapa dia telat untuk mengakui perasaannya terhadap wanita yang tengah terlelap tidur ini.
Matanya tertuju ke kalender yang berada diatas meja rias istrinya. Sora selalu menandai hari-hari yang menurutnya penting. Terlihat berbagai macam warna mewarnai kalender itu.
Dia membuka setiap lembar. Ulang tahun keluarganya, ulang tahun Maru pun ia tandai. Yang membuatnya tersentuh, hari pernikahan merekapun dia tandai. Ia kembali ke halaman yang terpampang. Tertulis bahwa besok adalah jadwalnya untuk kontrol kandungannya. Kenapa dia tidak memberitahunya, sedikit kecewa. Pantas besok dia libur, gumamnya.
Seperti biasa, pagi-pagi Sora akan mengeluarkan semua isi perutnya. Dia merasa morning sick nya semakin parah. Dengan tetap setia, Maru menemaninya.
Setelah semua pekerjaan rumahnya selesai, Sora menyadari bahwa Maru sedari tadi belum berangkat ke kantornya. Padahal Maru tahu bahwa dirinya libur, jadi tidak perlu menunggunya untuk berangkat bersama.
“Kamu telat, itu udah jam setengah 9.” Sambil menunjuk jam dinding yang terpasang diantara foto pernikahannya.
“Hari ini gue gak masuk.” Timpalnya dengan terus menatap tabletnya, dia terlihat sedang mengerjakan sesuatu.
“Kenapa?” Sora penasaran, tidak biasanya dia begitu.
“Mau nemenin lo. Sekarang jadwal kontrol, kan?” Tersenyum kearah Sora.
Kenapa suaminya bisa tahu jadwalnya hari ini, pikirnya.
“Aku bisa sendiri, kamu ke kantor aja. Lagian keliatannya dikantor lagi sibuk juga, kan.”
__ADS_1
Namun, Maru menggelengkan kepalanya dan melanjutkan mengusap layar tablet. Sampai ia tersadar kini Sora telah siap untuk berangkat. Ia bergegas berdiri mengikuti istrinya. Tapi, istrinya itu terus berjalan lurus tanpa memperdulikannya. Maru menarik paksa tangannya denganlembut, dan membukakan pintu untuknya, memasangkan sabuk pengamannya. Berlari cepat ke kursi kemudi.
“Aku bilang aku bisa sendiri. Udah deh, sana kamu pergi aja.” Pintanya yang terus berusaha melepaskan sabuk pengamannya. Maru kembali menahannya.
“Izinin gue anterin lo. Gue juga pengen tahu keadaan anak kita.” Seraya menyalakan mesin mobilnya.
Anak kita? Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Sora. Untuk pertama kalinya suaminya mengatakan hal itu. Dia sedikit senang. Senyum yang ditahan terlihat di bibirnya yang merah muda.
Sora berbaring diatas ranjang pemeriksaan. Dokter mengangkat sedikit bajunya, terlihat perut Sora yang mulai terlihat sedikit lebih buncit. Maru melihatnya dengan penuh cinta, karena Sora memang menyukai pakaian yang agak longgar, jadi ini pertama kalinya melihat perutnya secara langsung.
Kini dia melakukan USG, terlihat gambaran bayi di layar. Dokter menjelaskan tentang janinnya. Anggota tubuhnya sudah terlihat terbentuk namun sangat kecil.
Beralih ke ruangan konsultasi.
Karena perkataannya itu, Maru menatap istrinya khawatir dan tiba-tiba menggenggam tangan mungilnya. Sora hanya menerima saja genggaman itu.
“Sudah bertambah berapa Kg berat badannya?” Dokter mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan.
“Antara dua apa tiga kg? Gak yakin dok, soalnya saya jarang ukur berat badan.” Menjawab dengan seksama.
Dokter tersenyum. “Normal sih, tapi saya harap Mamahnya lebih berusaha lagi. Fisik Mamahnya sedikit lemah, apa masih bekerja?” Tanyanya kembali.
__ADS_1
Sorapun menganggukan kepalanya.
“Kalau misal masih ingin bekerja, jangan melakukan hal-hal yang berat. Apalagi sampai angkat-angkat barang berat. Memang tidak langsung terasa efeknya, namun bisa saja terjadi di kemudian hari. Jangan terlalu banyak berdiri juga.” Panjang lebar masih menjelaskan, dengan Sora yang Maru hanya mangggut-manggut.
Dokter yang melihatnya tertawa.
“Anak pertama, kan? Kalau ada yang ditanyakan, tanyakan saja.” Tawarnya.
“Dok, Kira-kira sampai kapan saya harus mengalami morning sick. Saya sudah lelah dok, saya merasa malah semakin parah.” Sedikit memelas.
“Setiap orang berbeda, ada yang sampai usia kandungan 4 bulan, bahkan lebih. Nantinya akan hilang sendiri. Nanti biar saya tuliskan resep berbagai macam vitaminnya. Ingat ya, Mamahnya harus lebih berusaha lagi. Segimana gak mau makanpun, harus tetap makan. Tidak banyakpun tak apa, yang penting rajin.” Dengan ramahnya dokter kembali menjelaskan.
“Tidak ada pendarahan sama sekali kan?”
“Gak dok, aman kok.”
“Bagus-bagus. Jadi aman-aman saja ya selama berhubungan intimpun.”
Sora dan Maru saling memalingkan wajah.
“Tapi tetep ya, harus hati-hati. Kalau misalnya berhubungan harus dalam suasana yang bagus, mood yang bagus, jangan paksaan. Makannya Papanya juga harus sabar. Karena hormon Ibu hamil begitu, naik turun. Dan jangan lupa, jangan terlalu stress. Badan Mamahnya lemah bukan karena kerjaan fisik saja. Stress juga berpengaruh besar.”
__ADS_1
Mood bagus dari mana? Bayi yang sekarang ada diperut aku aja, hasil berantem dulu... Hufftt... Kalau nanti? sepertinya tidak ada kata kalau nanti... Bibir Sora kerucut.
Sesi konsultasi telah usai, keduanya keluar ruangan dengan Maru yang masih tetap melihat foto USG ditangannya. Wajahnya kembali sedikit emosional. Tersenyum bahagia.