Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
59. Perasaan Yang Tidak Bisa Diartikan I


__ADS_3

Maru terdiam duduk di tepi tempat tidur penginapan. Disaat orang-orang sibuk mengemas barang bersiap untuk pulang, Maru masih diam tanpa bahasa. Lamunannya tersadarkan oleh tangan yang menepuk pundaknya. Karyawan yang tadi siang makan bareng bersama dia warung.


“Gak Beres-beres?” Tanyanya sambil ikut duduk disamping Maru.


Tak ada jawaban dari Maru.


“Saya mau bicara sama bos. Tapi bukan sebagai karyawan. Tapi, sebagai teman. Maru, kamu jauh lebih muda dari saya. Kamu juga lebih pintar dari saya. Saya mengerti situasi kamu sekarang. Kamu harus pikirkan baik-baik apa langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan. Wanita itu udah kamu temukan. Jangan sembrono.” Nasihatnya


“Kayaknya saya gak pulang deh. Kalian pulang aja duluan.” Jawabnya sambil menggangguk kepada karyawannya itu.


“Okay... kalau begitu. Kita pulang duluan. Nanti biar saya cari slasan bilang ke yang lain.” Karyawan itu beranjak meninggalkan Maru.


Semua tamu telah meninggalkan penginapan. Hanya Maru yang tersisa disana.


Dia akan kembali kesini nanti sore. Aku tunggu kamu Sora. Seenggaknya kita bisa berbincang.


Kamu udah nikah? Kamu udah punya anak? Laki-laki mana yang berhasil mendapatkan hati kamu?


Maru terus bertanya pada dirinya sendiri yang sebenarnya ingin dia tanyakan kepada Sora.


Waktu sudah menunjukkan hampir magrib. Namun, Sora tak kunjung datang ke penginapan itu. Maru tetap menunggunya, bahkan menginap lagi disana sendiri.


Sora kembali kerumahnya dengan perasaan campur aduk. Dia menidurkan bayi yang digendongnya, karena dia tidur diperjalanan tadi. Sora langsung masuk kamar berdiam diri setelah menyelesaikan urusannya di sore hari.


Maru... Aku harus gimana?


Wajah Maru kembali menghiasi pikiran aku.


Apa dia udah pulang?


Kabarnya gimana, ya?


Aahhh.. kenapa kamu harus muncul lagi sih Maru.


Air mata lolos keluar dari sudut matanya. Sora membuka layar ponselnya, dan memanggil seseorang.


“Hallo... mas mas.. maaf ya. Kayaknya saya hari ini setengah hari aja. Biar besok aja saya bereskan semuanya. Malam ini gak ada yang booking lagi, kan?” Memastikan.

__ADS_1


“Okay okay.. gak apa-apa. Datang aja besok. Malam ini cuman ada satu orang doang yang nginep. Yang tadi udah pada pulang. Biar besok kita cuci semuanya bareng-bareng. “ Suara laki-laki yang terdengar lebih muda dari Sora.


“Makasih ya. Maaf banget nih.”


Mungkin ini keputusan yang tepat. Untuk tidak menemui Maru yang nanti malah akan membuatnya lemah lagi, dimana sekarang Sora sudah merasa telah bangkit dari bayangan masa lalunya. Sora memperhatikan jam yang berada di dinding.


Kayaknya udah pulang. Udah jam lima.


Esok hari tiba, Maru sudah terbangun dari pagi sekali. Ia menunggu kedatangan Sora di pinggir jalan. Sosok yang ia tunggu terlihat dalam perjalanan menuju kemarin tempat dia makan kemarin, kedatangannya lagi-lagi ditemani pria yang sama dengan kemarin. Setelah melakukan kepentingannya Sora pergi menuju penginapan. Maru terus mengikuti kemana arah Sorah berada.


Di penginapan, Sora dan petugas lainnya yang berjumlah tiga orang membereskan kamar-kamar penginapan. Mengganti seprai, membersihkan kaca, ganti handuk, dll. Beralih ke luar ruangan, tepatnya dihalaman belakang penginapan. Keempatnya mencuci seprai, sarung bantal, guling, dll dengan giat. Terlihat senyuman dan tawa Sora terus terpancar dari wajahnya. Maru merasa dirinya menjadi seorang penguntit, karena terus memperhatikan Sora dari jauh.


Tengah asyik menjemur semua cucian Sora dan ketiga kawannya yang semuanya laki-laki menjemurnya, tak lupa kasur, bantal guling dll juga ikut dijemur. Kegiatannya terhenti kala suara laki-laki yang dia kenal berbicara.


“Permisi...” Maru memberanikan diri menghampiri keempat petugas penginapan.


“Ada yang bisa saya bantu, mas?” Tanya salah satu diantara mereka.


Mata Maru tetap melihat kearah Sora.


“Sebelumnya, saya minta maaf. Boleh gak, kalau makan siangnya tolong disiapkan disini saja?” Sebenarnya hanya basa-basi.


“Gimana Kak Sora. Sanggup gak? Cuman satu orang ini. Disini kan yang tugas utama Kak Sora.” Celetuk teman Sora.


Sejenak Sora terdiam menimbang-nimbang.


“Okay, gak masalah. Tapi, maaf ya mas. Menunya seadanya saja. Soalnya hari ini belum belanja. Jadinya pake bahan sisa yang kemarin. Tapi masih fresh kok bahan masakannya.” Menjelaskan dengan profesional kepada tamunya.


Mas? Dia gak anggap aku?


Sora beranjak ke dapur meninggalkan ketiganya dan juga pekerjaannya disana. Dia mulai menyiapkan semua bahan yang akan dia gunakan. Dia memasak dengan biasa, namun hatinya gemuruh. Masakan tinggal dihidangkan. Sora meghidangkannya di meja makan.


“Silakan mas dinikmati. Saya permisi.” Sora tersenyum menundukkan tubuhnya ringan.


Tangan Maru menahan lengan Sora. Dengan sigap Sora langsung menepis tangannya itu.


“Ada apa ya mas?” Sora masih bersikap dingin dan Seolah-olah tidak mengenal Maru. Mata nanar Maru masuk kedalam bola mata cokelat milik Sora.

__ADS_1


“Kalau ada hal yang perlu dibantu. Panggil saja ya mas.”


Karena tak ada jawaban, akhirnya Sora meninggalkan Maru dan bergabung kembali dengan pekerjaan yang tadi ia tinggalkan.


Maru mengusap kasar wajah tampannya. Wanita itu benar-benar membuatnya gila. Dia ingin sekali memeluk tubuh mungilnya itu. Air matanya keluar tanpa ia sadari. Maru menyantap hidangan buatan Sora. Masakan yang rasanya masih sama seperti dahulu ketika keduanya masih suami istri.


“Aaahhh... selesai juga. Aku pulang duluan ya.” Seru Sora sembari meraih tasnya.


“Okay.. hati-hati ya Kak. Kak Langitnya belum dateng?”


“Orang ini masih jam empat. Lagian aku mau ke warung Mbak Santi dulu kok. Ya udah ya, aku duluan.. bye..” Sora meninggalkan tempat penginapan dan berjalan menuju warung yang dia datangi tadi dipagi hari.


Maru masih mengikutinya. Sora sadar jika Maru mengikutinya terus dari tadi, tapi dia tetap tak acuh dan membiarkannya.


“Mbak Santi... aku udah mau pulang...” Serunya riang


“Kok cepet sih. Masih jam empat, kan?” Tanayanya


“Orang udah beres semua. Jadi mending aku pulang. Laku gak kuenya?” Memeriksa box isi makanan.


“Hari ini agak sepi. Yang dateng juga cuman beberapa orang doang... Silahkan mau pesan apa..” Dengan cepat Mbak Santi mengubah topik yang karena ada pelanggan yang masuk. Maru.


“Ini hasil hari ini. Kuenya bawa pulang aja, kamu coba jual lagi dirumah. Pasti laku dah.” Sarannya


“Iya deh.. makasih ya mba. Aku pulang duluan.” Sora melangkahkan kakinya, lagi-lagi tangan Sora ditahan oleh kekarnya tangan Maru. Kali ini kekuatan yang dikeluarkan lebih kuat, alhasil Sora kesulitan untuk meloloskan diri dari genggaman Maru.


“Aaaw... sakit... lepasin saya mas..” Sora meringis.


Maru menarik Sora membawanya ketempat yang sedikit jauh dari warung. Keempat mata yang berada di warung saling bertatapan, mata mereka saling bertanya. Ada apa? Siapa? Kenapa?


“Sakit... apa-apaansih?” Sora mengeluarkan semua kekuatannya.


“Apa kamu harus bersikap seperti ini? Kenapa kamu harus pura-pura gak kenal aku?” Maru terbawa suasana emosional.


“Aku kan udah bilang. Bila dimana kita bertemu. Kita gak usah saling menyapa, anggap saja kita gak kenal.” Jawabnya dengan ketus.


“Aku gak bisa.... bukan, tapi aku gak mau.” Maru merapatkan Rahangnya.

__ADS_1


Maru memeluk Sora dengan sangat erat. Air matanya mengalir begitu saja. Tanpa sadar Sora juga ikut mengeluarkan air matanya. Orang-orang yang berada di warung , yaitu Mbak Santi dan adiknya Adam, terus memperhatikan keduanya. Langit yang baru tiba heran melihat keduanya.


__ADS_2