
Siang itu Risa mengajak Sora untuk berkumpul dan makan bersama. Karena akhir-akhir ini mereka jarang bertemu. Mereka makan di restoran Zaenal, tak lupa sosok Rendi tak luput dari ajakan.
Sora datang paling terlambat
“Aahh... sorry sorry.. aku telat.” Seraya duduk di kursi yang telah disiapkan Zaenal yang berada disampingnya.
“Kok kamu dateng sendiri sih, tahu gitu aku jemput.” Zaenal masih tetap dengan perhatiannya menata alat makan untuk Sora.
“Dia gak bisa dateng.” Tersenyum.
Keempatnya mulai ngoceh sana sini. Tertawa, bisik-bisik. Risa tak lupa memberikan pengarahan pada Ibu hamil yang duduk di depannya.
“Kamu harus rajin jalan-jalan. Kalau pergerakan bayinya berkurang dalam waktu yang cukup lama, kamu harus ke dokter. Kalian juga harus hati-hati kalau mau membantu jalan lahir.” Terkekeh
Sora yang mendengarnya malu sendiri.
“Yang harus hati-hati juga bukan cuman kamu doang, Maru juga. Ah.. sayang banget dia gak dateng. Panggil gih, toh ini udah jam makan siang.” Godanya
“Dia gak bisa dateng...blabla" dia menjelaskan semuanya pada teman-temannya dengan senyuman.
“Apa?” Risa paling keras.
“Kamu gila apa? Ngapain kamu Izinin?” Kesal dengan kelakuan temannya itu.
Zaenal menggenggam tangan Sora di bawah meja, dia seakan mengerti perasaan Sora saat ini.
“Ya... mau gimana lagi. Mereka kan udah berhubungan dari kapan. Lama banget. Pasti mereka butuh waktu dong.”
“Gak ada hubungannya dengan berapa lama mereka pacaran. Ini masalah hati, pilihan. Kalau memang Maru hatinya teguh sama pilihannya, gak mungkin dia plin plan kayak gitu.” Risa semakin emosi.
“Udaaah... kok lo yang emosi sih.” Zaenal menenangkan Risa.
“Kalau gitu caranya, lo sama aja ngasih kesempatan Maru buat selingkuh.” Risa lebih tenang.
“Sebenarnya lo beneran cinta ama Maru?” Rendi ikut mengintrogasi
“Heemm.. aku suka, aku sayang ama dia.” Tegasnya. Zaenal tersenyum getir, pemandangan itu terlihat oleh ujung mata Rendi.
“Kalau Maru? Dia beneran suka ama Lo?” Tanyanya lagi.
Kini hanya anggukan kecil yang dia tunjukkan.
“Dia beneran suka ama lo? Bukan hanya semata-mata karena anak lo ini, kan?” Pertanyaannya Risa sedikit membuat Sora khawatir.
Terdengar suara pintu depan dibuka. Suami Risa datang dengan anaknya, mereka mulai mengalihkan topik dengan menyambut keduanya dan menggoda anak Risa.
“Ya.. kayaknya gue harus duluan. Udah ada yang jemput ni.” Memeluk Sora dan melambaikan tangan.
“Gue juga harus pergi deh kayaknya.” Rendi ikut berdiri bersiap untuk pulang.
__ADS_1
“Kenapa lo ikutin gue?” Bercanda Risa.
“Ngapain gue ikutin lo, gue udah punya janji sama cewek gue.” Tandasnya.
“Haaaa? Lo punya pacar? Kok gak bilang ke gue?” Risa melotot, Sora menganga, Zaenal hanya tertawa kecil melihat kelakuan dua wanita itu.
“Siapa lo? Ngapain gue harus bilang ama lo? Kenapa juga muka lo berdua kaget gitu gue punya pacar. Ngeledek lo berdua.” Sambil berlalu pamit.
Suami Risa ikut tertawa dengan kelakuan istri dan teman-temannya.
“Kamu mau pulang?” Tanya Zaenal
“Iya, pulang. Orang udah pada pulang juga.”
“Dirumah kamu sama siapa? Ngapain?” Tidak ingin berpisah dengan Sora.
Sora menggelengkan kepalanya.
“Aku mau buat menu baru, sekarang mau belajar bikin martabak. Mau gabung?” Senyuman yang menggoda menghasilkan anggukkan dari Sora.
Keduanya menuju dapur, bergelut dengan alat masak dan bahan makanan. Sesekali bercanda. Sora tampak lebih ceria dari sebelumnya. Sampai-sampai dia tidak menyadari handphone yang berada di dalam tas terus berdering.
☆☆☆
Maru pulang lebih awal saat itu. Karena dia merasa tidak enak badan. Namun tak nampak istrinya di manapun. Panggilannya pun tidak dihiraukan oleh istrinya. Maru panik, karena tidak ada kabar. Dia menelpon Risa untuk menanyakan keberadaan Sora, karena Maru memang sudah tahu kalau istrinya ada rencana makan bareng dengan temannya. Padahal dia sendiri adalah temannya juga di masa sekolah. Tapi, tidak sedekat keempat sekawan itu.
“Gue tadi pulang duluan. Tanya aja ama Zaenal, soalnya Sora pulang terakhir tadi. Kita kumpulnya juga di tempat Zaenal.” Memanas-manasi Maru.
Beralih memanggil nomor handphone Zaenal, namun sama tak ada jawaban.
Ia Bergegas keluar mengemudikan mobilnya kembali.
☆☆
Memasuki restoran, pandangannya tak mendapati kedua orang yang dia cari. Ia bertanya kepada pelayan. Pelayan memberitahukan, bahwa Zaenal sedang didapur bersama temannya. Matanya terlihat sedikit merah, ia menyaksikan dari pintu. Istrinya tengah tertawa lepas bersama Zaenal. Cemburu membara dimatanya.
“Sora..” Memanggilnya.
“Hhmm? Eh, kamu kenapa kesini?” Heran karena suaminya ada diluar kantor, padahal waktu masih menunjukkan jam tiga sore.
“Ayo, kita pulang.” Sangat dingin. Maru langsung melepaskan apron yang melingkar di pinggangnya dan menggandengnya keluar. Tak lupa ia membawa tas istrinya yang berada di kursi sana.
Zaenal mengerti situasi ini. Dia mengikuti keduanya dengan tenang sampai parkiran.
“Gue yang ajak dia. Jangan salahkan dia.” Zaenal menjelaskan sedikit apa yang terjadi.
Tapi Maru hanya menganggukan ringan kepalanya.
Tiba dirumah Sora langsung membersihkan dirinya, tadi ia tidak sempat karena Maru langsung menggandeng tangannya. Telah bersih Sora menuju kamar, didapatinya suaminya duduk termenung ditepi tempat tidur.
__ADS_1
“Kamu kenapa? Kok udah pulang? Gak bilang lagi? Aku kan belum masak.” Sembari mengeringkan rambutnya.
Maru terdiam melihat wajah istrinya dari pantulan kaca. Sora berdiri melangkah perlahan.
“Kamu mau mandi dulu apa makan dulu? Biar aku masak dulu.”
Maru ikut berdiri, ia mencium bibir Sora dengan sedikit kasar. Sora mendorong tubuh Maru, kini ciumannya menjadi lebih lembut. Maru membawa Sora keatas tempat tidur dengan hati-hati, ia meraba seluruh lekukan tubuh Sora yang mungkin lekukan itu tidak terlalu berbentuk. Ia melepaskan semua pakaiannya dan juga pakaian istrinya.
“Kamu kenapa sih?” Ditengah-tengah aktivitas itu Sora berbicara sedikit meracau.
Maru tidak memberikan izin istrinya untuk berbicara, ia kembali ******* bibir indah milik Sora.
Dan...ya... begitu... olahraga disore hari.
Keduanya kini berbaring dengan Maru yang memeluknya dari belakang.
“Kamu kenapa? Kok jam segini udah pulang? Gak ke rumah sakit dulu, jenguk Maria?” Tanya Sora melanjutkan pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan.
“Aku pusing.” Jawabnya simple.
Sora membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Memandangi dalam ke mata Maru yang kini juga memandanginya.
“Aku berusaha untuk tetap tenang setiap kali aku liat kamu sama Zaenal. Tapi aku gak bisa.” Maru menjelaskan tanpa haru ditanya. Ia Kembali menciumi kening, pipi, bibir yang kini telah sampai di perut bulat Sora. Ia terus mencium dan mengelus perut Sora dalam keadaan keduanya masih bertelanjang bulat.
“Baby.. kamu kangen Papa gak.” Mengajak ngobrol bayi di dalam perut.
“Gimana keadaan Maria?” Sora bertanya seolah ingin memberitahu, bukan hanya suaminya saja yang merasa tidak tenang. Sebenarnya diapun sama, dia risau karena suaminya dan Maria.
Maru menghentikan mengelus perutnya. Kembali memeluk istrinya.
“Dia pulang besok.” Jawabnya
“Syukurlah, jam berapa?”
“Kamu mau kesana bareng aku? Kalau iya, aku jemput sekitar jam sepuluh.” Tawarnya
“Liat besok aja deh.”
Maru terus menciumnya.
“Aahhm udah... Ayo kita makan dulu, biar aku masak dulu.” Melepaskan pelukannya
“Kita pesan antar aja. Gak usah masak.” Kembali merangkulnya.
“Yaudah mandi dulu. Aku jadi harus mandi lagi. Nanti keburu malem, aku lagi hamil.” Rengeknya
Maru bangun terlebih dahulu, dan membantu Sora yang sedikit kesulitan bangun sendiri.
“Ayo kita mandi bareng.” Ajaknya.
__ADS_1
Kenapa aku merasa sedang bersama laki-laki yang mempunyai dua wanita. Sebenarnya siapa disini yang salah? Siapa yang orang ketiga? Kalau dilihat dari segi status, bisa dibilang Maria lah orang ketiganya, secara aku istri sahnya. Tapi, jika dilihat dari bagaimana prosesnya kita bisa sampai sekarang ini, bisa dibilang akulah orang ketiganya, secara aku merebut hati Maru yang hanya untuk Maria, kini jadi bercabang.