
Ia melirik Sora yang sudah tak kalah basah kuyup. Maru membuka kemeja pantainya, ia ganti dengan kaos oblong putihnya.
“Ini.. kamu juga ganti bajunya. Nanti masuk angin.” Maru menyerahkan kaos miliknya yang dia ambil dari jok belakang.
Kenapa ada baju? Karena memang rencana hari ini akan pulang pada sore hari, Maru sudah memasukkan tasnya kedalam mobil terlebih dahulu.
“Masa ganti disini? Kamu mau liat gitu?” Sora melotot.
“Terus aku harus gimana? Keluar dulu gitu? Kamu ganti baju karena basah, dan aku harus keluar ujan-ujanan lagi nunggu kamu ganti baju. Gitu, maksudnya?” Maru mengerang.
Bener juga apa katanya Maru. Terus aku harus gimana? Masa ganti baju di depan dia. Malu lah.
“Malah diem aja. Ayo ganti. Okay, aku bakal merem. Udah gak keliatan apa-apa.” Maru mutup matanya dengan tangannya yang lebar.
Sora membuka bajunya sedikit kesusahan karena basah. Maru mendengar suara rintihan Sora membuka matanya dan tersungging senyum mengejek. Ia membantu Sora membuka bajunya.
Dan terlihat jelaslah Sora yang kini hanya mengenakan bra. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian Maru. Melainkan garis melintang kesamping terlihat jelas diperut Sora yang putih. Maru menyentuh bagian itu. Sora terkejut, ia terus mencari kaos yang Maru berikan tadi. Maru terus menyentuhnya, kini diusapnya.
__ADS_1
“Maru kamu ngapain? Jangan kayak gini Maru!” pinta Sora dengan masih sibuk mencari kaos.
Bagaikan hewan yang kelaparan, Maru tiba-tiba mencium bibir Sora dengan penuh gairah. Ia tidak memberi kesempatan Sora untuk melawan. Posisi Maru kini sudah berada dikursi yang sama dengan Sora dengan dia berada diatas Sora. Kursi dia dorong menjadi lebih kebelakang, membuat posisi Sora sedikit terlentang.
“Maru... Maru.. kamu apa.. apaan... lepasin... nanti ada yang liat..” Suara Sora terus terhenti karena bibir Maru terus bermain di bibir, leher, telinga dan lekukan tubuhnya bergantian.
Tak mendengarkan wanita yang sedang diserangnya, Maru terus melancarkan aksinya, ia melepaskan kaitan bra Sora. Sora terus berontak. Dikesempatan ketika bibirnya bebas dari pautan bibir Maru ia bernafas dan mencegah Maru.
“Aku lagi dateng bulan.” Teriaknya. Menghentikan aktivitas Maru.
“Kalau gak lagi halangan, kamu bakal nerima semua perlakuan aku tadi?” Maru berbisik bukan ditelinganya, melainkan dibibirnya. Maru mencium lembut bibir Sora, dan kembali duduk ke kursinya.
Maru membantu membenarkan posisi duduk Sora agar lebih nayaman. Tak lupa dia membantu Sora memasangkan kaitan branya yang tadi dia buka secara paksa. Dan menyerahkan kaos yang ternyata ada dikursi Maru. Sora pun mengenakan kaos kebesaran milik Maru.
Maru menelan ludahnya.
“Kamu pikir aku bakal kembali ke kehidupan Maria setelah apa yang terjadi. Aku gak bisa lupain semuanya. Termasuk lupain kamu. Aku gak bisa, aku gak mau.” Maru mulai berimpropisasi dengan tatapan lurus kedepan
__ADS_1
“Waktu itu dokter nyuruh aku masuk keruang operasi, aku liat kamu berabring gak sadarkan diri. Aku juga liat perut kamu dibedah. Dokter mengeluarkan bayi kita dari perut kamu, bayi kita kecil banget. Tubuh aku lemas semua. Dokter yang bantu operasi terus berusaha membuat bayi kita nangis... bukan tangisan yang aku dengar. Tapi waktu kematian bayi kita.” Maru meneteskan air matanya. Begitupun dengan Sora.
“Bukan maksud aku cuman ingin menyelamatkan kamu doang dan gak perduli sama bayi kita. Aku perduli, tapi aku juga gak mau kalau kamu kenapa-kenapa. Aku takut kamu pergi untuk selamanya.” Isakan Sora terdengar lebih keras.
“Aku gak bisa bayangin kalau kamu yang pergi waktu itu, aku keluar ruang operasi dengan pikiran aku yang kacau. Bahkan pukulan Zaenal yang bikin aku babak belur, bikin aku terpental gak kerasa sama sekali. Aku ketakutan nungguin kamu diluar ruang operasi.” Maru menelan ludahnya
“Maafin aku... Aku mohon jangan pergi lagi dari aku.” Maru menatap Sora yang tengah terisak, begitupun dengan dirinya. Pipinya basah oleh air matanya.
“Tentang Maria... Kenapa kamu gak bilang kalau kalu lihat aku ciuman sama dia di parkiran mobil waktu itu?” Sora membalas tatapan Maru, namun tak ada jawaban dari mulutnya.
“Zaenal yang kasih tahu aku. Dia juga tahu. Beri aku kesempatan buat jelasin. Itu seharusnya goodbye kiss, seperti apa yang dijanjikan Maria. Tapi, bodohnya aku yang percaya saja dan gak jujur sama kamu.”
Meskipun Maru sudah berceloteh panjang lebar dengan air mata yang tidak bisa ia tahan, namun tetap tidak ada jawaban dari Sora. Wanita ini hanya diam dengan isakan tangisnya.
Sora merasa dirinya kembali menjadi lemah, hatinya hancur, ketika Maru mengungkit masa-masa yang sangat ingin dia lupakan itu.
Panggilan Maru telah tiba. Mobil derek. Sesampainya di bengkel keduanya naik taksi pulang menuju rumah Sora. Dada Sora terasa sangat sesak, tapi dia tahu diri. Saat ini dia masih berada didalam taksi.
__ADS_1