Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
56. Bangkit I


__ADS_3

Maria sedang dalam perjalanan menuju rumah Maru. Senyum tersungging di bibirnya yang merah merekah. Bagaimana tidak, karena Maru yang selama ini selalu menolaknya, mengundangnya untuk datang kerumahnya. Meskipun sosok Sora yang kala itu berada ditengah antara keduanya sudah tak terdengar lagi kabarnya, namun Maru masih tetap saja menolaknya. Bukannya seharusnya Maru kembali kepelukannya, memulai semuanya dari awal.


Maria menekan bel rumahnya. Badan tegas Maru berada dibalik pintu dan membukanya. Maria memeluk Laki-laki itu penuh dengan cinta. Maru hanya membalas pelukannya dengan senggan.


“Apa kabar.... Aku kangen banget sama kamu..” Dengan manjanya dia terus bergelantungan dilengan Maru.


Maru melepaskan tangan Maria dan menyuruhnya duduk dikursi. Meja makan sudah penuh dengan makanan yang telah disiapkan Maru.


“Waahh.. Ini semua kamu yang siapin? Buat aku?” Bertepuk tangan ringan.


Keduanya mulai menyantap makanan yang tidak terlalu mewah, namun tidak juga telihat biasa saja.


“Aku harap ini yang terakhir.” Kali ini Maru membuka suaranya setelah beberapa saat dia terus mengabaikan celotehan Maria.


“Maksud kamu apa?” Kalau boleh dibilang dia hanya pura-pura tidak mengerti.


“Aku mohon kamu stop. Jangan berharap lagi. Kamu bisa dapetin yang lebih dari aku.” Maru mulai menatap Maria.

__ADS_1


“Kenapa? Kenapa aku harus berhenti? Apa salah aku masih suka sama kamu?” Keduanya mulai saling menatap.


“Apa mesti aku jelasin? Kamu juga pasti tahu, kan?” Sarkasnya


“Maru, ini udah mau hampir setahun. Kenapa kamu masih gak bisa lupain dia? Selama ini kamu anggap aku apa? Dia udah pergi, dia gak peduli sama kamu. Aku... Aku ada disini... aku yang temenin kamu lagi seperti pertama kali.” Cerocosnya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Maafin aku. Menurut aku, dia pergi karena peduli sama aku. Dan kamu juga harus tahu, Maria... aku tetap bersikap baik sama kamu hanya sebatas tanggung jawab. Kalau bukan orangtua aku yang minta, aku gak mau kalau masih harus berurusan sama kamu.” Maru lebih berani.


“Tanggung jawab? Apa bedanya? Cinta kita pasti akan selalu bertanggung jawab terhadap satu sama lain, kan!” Tidak mau kalah


“Tanggung jawab karena kondisi mental kamu yang kembali down. Mental kamu yang gak stabil, yang katanya semua gara-gara aku. Bukan karena cinta. Sepertinya kamu sekarang udah sembuh. Jadi, berhenti terus ikut campur hidup aku Seolah-olah kamu tahu semuanya tentang aku.” Maru kembali menyantap hidangannya.


“Sampai saat ini aku masih belum bisa lepasin kamu. Jadi jangan larang aku lagi.” Maria meleos meninggalkan Maru.


Setelah kepergian Maria. Maru membereskan semua yang terpajang diatas meja makan. Tak selang berapa lama, keluarganya datang mengunjungi Maru. Kali ini Mamah Maya dan Ayah ditemani oleh Kakak Maru dan juga sang istri.


Maru terlebih dahulu membersihkan dirinya dikamar mandi sebelum mendengar ocehan keluarganya.

__ADS_1


Disaat itu, Keluarga nya menunggu dimeja makan sembari menyantap camilan yang mereka bawa sendiri. Tak sengaja, sang Kaka Ipar menumpahkan minumannya dan mengotori pakaiannya sendiri. Ia beranjak dari duduknya meraih tasnya yang Ia simpan diruang TV. Seingat dia semua baju Sora masih ada didalam kamar itu, mungkin dia bisa meminjamnya barang sebentar saja. Dia membuka lemari yang ada dikamar Maru dan Sora. Memilah baju yang akan dia kenakan.


Sebelum tangannya meraih baju pilihannya, ada tangan kekar yang mencengkramnya.


“Aku udah bilang, jangan ada yang sentuh barang-barang dikamar ini.” Maru mencengkram tangan Kakak Iparnya cukup kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan.


“Aaaww.... lepasin Maru.” Suara wanita itu terdengar ketelinga orang-orang yang tengah berada dimeja makan.


“MARU! Apa-apaan lo?” Tanya sang Kakak.


“Maaf yang, aku yang salah. Jangan berantem. Aku tadi mau pinjem baju Sora. Maafin aku ya, Maru.” Sang istri mencoba menenangkan keduanya.


“Mau sampe kapan lo begini terus? Lo gak mikirin Mamah sama Ayah apa?” Meskipun kakaknya sudah meninggikan nada bicaranya, namun Maru tetap tidak bergeming. Maru hanya memakai kaos hitamnya.


“Kalo lo masih berharap Sora balik lagi. Usaha. Lo harus mulai dengan memperbaiki hidup lo sendiri. Kalau hidup lo udah nyaman, udah bener lagi. Lo pasti bisa dapetin dia lagi. Seenggaknya, kalau lo berhasil ketemu sama mantan istri lo, keadaan lo gak kayak gini. Yang gak jelas kayak gini.”


Maru berjalan melewati orang-orang yang ada dirumahnya meninggalkan rumahnya

__ADS_1


“Kalau udah mau pulang. Beresin lagi mejanya ya.” Kata itu yang dia keluarkan setelah Kakaknya panjang lembar mmenasihatinya.


Niat mereka mendatangi Maru tak lain adalah untuk membujuknya kembali mengurus perusahaan. Namun, berulang kali dibujukpun Maru tetap menolak. Ia memilih menjadi ojek online. Yang sudah ia tekuni hampir 3 bulan. Berharap akan ada penumpang, penumpang atas nama Sora. Penumpang yang mungkin Sora.


__ADS_2