
Diusia pernikahanku yang hampir menginjak lima bulan, semua terasa berjalan lancar. Kemistri aku dan Sora, istriku begitu sempurna.
Aku menjalani tugas sebagai suami dan dia menjalani tugasnya sebagai istri. Dan kita tetap menjaga dan peraturan yang kita buat.
Sora memang yang terbaik dibandingkan dengan aku. Bukan hanya menjadi istri maupun teman yang baik buat aku, tapi dia juga menjadi menantu yang baik bagi orang tuaku. Dan itu sedikit membuatku bersyukur karena telah menikahinya.
Tanpa sadar entah dari kapan, aku sedikit terganggu setiap Sora berada di sekitar Zaenal. Karena apa? Karena aku tahu laki-laki itu menyukai wanita ini Sora, yang kini adalah istriku. Padahal seharusnya aku tidak berhak merasa kesal. Karena kita sudah berjanji untuk tidak ikut campur urusan masing-masing.
Tapi entah kenapa, aku tetap terganggu akan hal itu. Meskipun pada kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, hati ini tetap untuk wanita yang aku cintai setelah ibuku, Maria.
Tanpa sepengetahuan Sora, aku masih sering berhubungan kontak dengan Maria. Berbagi kabar, berbagi cerita, entah bahagia atau sedih. Layaknya pasangan yang umum. Dan terkadang kita juga bertemu sesekali. Rasanya seperti aku selingkuh dibelakang Sora. Tapi, kan memang ini tujuan pernikahan ini. Menuruti perkataan Maria untuk menikah dengan wanita lain kalau aku masih ingin terus berhubungan dengannya.
Seperti sekarang, dia memintaku untuk bertemu di tempat biasa kita bertemu, di taman kecil itu. Tentunya bahagia yang kurasa, sampai pergi setengah hari meninggalkan perusahaan hanya untuk bertemu dengannya.
Aku tiba lebih awal di tempat yang sudah dijanjikan. Terlihat wanita yang kucintai berjalan kearahku, namun tampak sedikit murung. Aku tetap menyambutnya dengan senyuman kecil.
“ Kenapa? Kok kamu murung banget mukanya?” tanyaku
Tidak ada jawaban, dia hanya diam termenung. Sedikit bingung, aku hanya bisa mencari bahan pembicaraan, tanya kabar lah, ini lah itu lah... pada akhirnya dia memotong pembicaraanku.
Kalimat pertama yang aku dengar.
“ Aku hamil. “ dengan terus menunduk
__ADS_1
Aku sedikit shock, menarik nafas dalam dan menelan ludah. Lalu tersenyum.
“ Selamat... aku turut bahagia.” Sahutku keluar begitu tulus.
Beberapa saat tidak ada pembicaraan diantara keduanya.
“ Aku udah nyakitin kamu lagi, aku udah jahat lagi sama kamu.” Suaranya terdengar sedikit bergetar
“Kenapa kamu jahat? Kamu hamil emangnya sebuah kriminal? Enggak kan. Jangan omong kosong lagi. Kamu harus bahagia sama suami kamu...”
“ Kamu orang pertama yang aku kasih tahu.” Kembali memotong pembicaraan
“ Suami kamu?” dengan heran
“ Bahagia, kamu bakal bahagia. Kenapa kamu gak bahagia? Jangan pernah bilang gak bahagia!” tanpa sadar Maru pun ikut meninggikan nada bicaranya.
“ Karena aku terus dihantui penyesalan. Aku nyesel ninggalin kamu. Tapi kamu tetep baik sama aku. Kamu tetep mau nungguin aku. Tapi apa yang aku lakuin? Aku malah hamil. Aku malah kasih kebahagiaan buat cowok lain, bukan buat kamu. Apa disini cuma aku yang ngerasa penyesalan ini begitu menyakitkan?” Dengan wajah yang penuh amarah.
“ Aku bilang ikut bahagia buat kamu, suami kamu, sama bayi di perut kamu. Apa aku salah?” dengan sedikit menurunkan nada bicaranya.
“ Karena sikap kamu yang terus begini, semakin buat aku seperti orang yang jahat buat kamu!” dengan berlinang air mata Maria menjawabnya,
Maru hanya bisa melihat wanita pujaannya dan membelai rambut panjangnya,
__ADS_1
“Kamu gak pernah jahat kok sama aku. Kamu gak salah, jadi gak usah menyesal. Aku gak apa-apa kok.!”
“ Aku gak jahat?” dengan mata melotot, Maria langsung mencium bibir Maru. Marupun merespon ciumannya.
”Ini pertemuan terakhir kita, kamu gak usah nungguin aku lagi. Kamu harus hidup bahagia tanpa aku!” Sambil melangkah kecil meninggalkan Maru. Namun tangan Maru begitu cepat menahan agar Maria tidak pergi.
“ Apa maksud kamu? Kamu sekarang lagi kesel aja, jadi kamu harus tenang. Okay? Dari dulu kita begini terus.”
“ Aku serius, aku mau kita berakhir disini aja. Kita gak bisa terus begini. Atau apa kamu mau bawa pergi aku? Terus hidup bareng aku sama bayi aku? Huh?”
“ Bukan itu maksud aku, kita pikirkan jalan lain. Apa maksud kamu bawa kamu pergi? Jangan ngaco kamu, bayi di perut kamu masih ada Ayahnya. Dia berhak tahu! Jadi kamu tolong jangan kayak gini, okay? Tenang.. tenang" dengan nada sedikit tidak bersahabat dan memeluk wanita pujaannya itu.
“ Kita saling mencintai, tapi aku terus nyakitin kamu. Apa salah aku pengen kalo kamu bahagia?” Dengan terus menangis Maria terus meracau,
“ Kita saling mencintai, kita juga harus saling menyakiti.!” Tegas Maria, membuat Maru melonggarkan pelukannya.
Dengan bercucuran air mata, keduanya saling menatap mata satu sama lain.
“ Kita saling mencintai, aku nikah, kamu juga nikah, aku sekarang lagi hamil, kamu juga harus... kamu juga harus punya anak dari istri kamu!”
Maru terperanjat mendengar perkataan Maria, dia hanya menatap wanita itu penuh emosi dan berurai air mata.
Lagi-lagi wanita ini memintanya melakukan hal yang tidak-tidak. Tapi, permintaannya sulit untuk ditolak maupun diturutinya.
__ADS_1
Lalu dia mencium bibir wanita itu, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing setelah berciuman.