Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
17. Cemburu I


__ADS_3

Hari-haripun berlalu, mereka mendapat kabar buruk. Kabar bahwa Ibu dari Zaenal telah meninggal. Sora, Maru dan teman yang lainnya berdatangan untuk melayad dan memberikan ucapan bela sungkawa.


Sora terus berada di sisi Zaenal yang sedang benar-benar berduka, dia juga yang bantu segala keperluan untuk pemakaman, tak lupa Risa dan Rendi ikut membantu.


Melihat itu, Maru sedikit cemberut. Ternyata, wanita ini memang baik ke semua orang. Buka hanya kepada dia dan ibunya saja. Tapi, bahkan ke ibu Zaenal. Namun, dia langsung menepis perasaan itu dan mulai menyadarkan diri bahwa temannya itu sedang berduka. Dan memang Sora dan Zaenal sudah berteman sejak mereka SMP.


Tanpa diduga, Maria dan suami datang. Meskipun terbilang tidak dekat sama sekali, tapi ternyata suami Maria adalah pelanggan di restoran Zaenal.


Kedua pasangan itu bertemu. Mereka terlihat canggung, hanya suami Maria yang bersikap biasa saja. Karena memang, dia tidak terlalu tahu dan tidak perduli juga atau bahkan pura-pura tidak tahu.


Setelah pemakaman selesai, mereka berkumpul kembali. Para lelaki berkumpul bersama, dan para wanitapun berkumpul ditempat yang terpisah.


Mereka mengobrol sana sini, sampai terdengar bahwa Maria sedang hamil.


“Selamat ya,, sehat-sehat. “ ucap teman yang lain. Yang dibalas dengan senyuman oleh Maria.


“Selamat jadi Ibu ya. Beberapa bulan kedepan kamu bakal ngerasain jadi seorang Ibu. Kayak ibu-ibu yang lain, termasuk aku.” Ya memang Risa sudah mempunyai buah hati pertamanya.


Dengan fakta itu, menyadarkan Sora akan kejadian ketika Maru mabuk. Dia langsung mengerti kenapa Maru mabuk. Pasti dia frustasi akan hal ini. Dan ketika dia tiba-tiba akan menciumnya, diapun sadar itu hanya sebuah pelampiasan. Raut wajah Sora semakin terlihat suram.


“Cepet nyusul ya.” Maria memulai pembicaraan dengan terus menatap Sora dengan senyuman.

__ADS_1


Namun, Sora hanya menatap kembali Maria dengan tanpa ekspresi. Dan Ia memutuskan untuk kembali ke Zaenal. Dan Ia kembali menenangkan pria itu.


“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat panggil aku kapan aja. Okay?” Suaranya itu menenangkan Zaenal. Dan Zaenal tiba-tiba memeluk Sora. Wanita itupun membalas pelukannya dan ikut menangis.


Melihat itu, Maru semakin dibuat kesal.


Diperjalanan pulang, Sora benar-benar tidak mengeluarkan sepatah katapun.


“Sebegitu sedihnya lu kehilangan Ibunya Zaenal? Kalian sedeket apa emang?” Tanya Maru yang memulai percakapan.


“Emang harus deket banget ya? Toh aku udah kenal Ibunya Zaenal dari dulu, dari zaman sekolah. Aku sering kerumahnya, iya pasti ketemu terus.” Jawabnya


“Berarti hubungan lo sama Zaenal udah deket banget ya, sampe sama orang tua masing-masing aja deket gitu.” Sahutnya.


Maru kaget kenapa istrinya itu tiba-tiba marah. “Kenapa marah? Gue Cuma nanya doang kok. Emang gue ikut campur apa coba?” sedikit tersinggung


Tanpa menjawab, wanita itu terus menatap kearah luar.


**


Kepulangan sang Ibu membuat Zaenal down sekali. Dia tidak membuka restorannya, dan membuat karyawan restorannya terpaksa untuk cuti sementara. Dan setiap hari, Sora selalu setia mengunjungi Zaenal. Hanya sekedar untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Memastikan bahwa dia makan dengan teratur. Karena dia tahu, bahwa Zaenal benar-benar menyayangi Ibunya, karena sang Ayah sudah tiada dari dulu. Dan kini hanya ada dia dan adiknya yang tersisa. Adiknyapun kini tengah melanjutkan studynya kembali.

__ADS_1


Maru yang datang ke tempat kerja Sora untuk menjemputnya, selalu tidak bertemu dengan istrinya itu. Karena Sora jarang memberi tahu bahwa dia langsung pergi kerumah Zaenal.


Pada saat itu, Maru sudah sedikit kesal. Karena istrinya itu tidak menunggu jemputannya lagi. Dan bahkan selalu pulang telat hanya untuk mengurus Zaenal. Ia pun langsung menghampiri Sora ke kediaman Zaenal. Terlihat Sora sedang membuatkan bubur untuk Zaenal. Zaenal yang pada saat itu jatuh sakit karena kehilangannya itu.


Maru datang dengan wajah sedikit marah. Zaenal menyadari bahwa Maru sedang kesal karena Sora. Dan benar saja, Maru langsung mendatangi Zaenal.


“Lu minta bantuan sama cewek yang udah nikah?” tanyanya dengan ketus.


“Gue gak pernah minta bantuan dia, dia yang datang sendiri ke sini. Emangnya kenapa? Gak boleh?” membalikkan pertanyaan.


“Malu dikata orang. Kalian berdua pacaran? Dari kapan?” sedikit menekan kata-katanya.


“Kenapa lu bisa berpikiran begitu? Lo cinta ama Sora? Lo cemburu?” Tanyanya kembali.


“Dia wanita yang udah nikah, dan terus datengin lo yang masih lajang. Terlebih lu menyukai Sora,kan. Udah pasti gue sedikit terganggu!” Tegasnya kembali.


“Lu udah mulai menyukai Sora ternyata. Gua pikir lu laki-laki yang setia. Ternyata lu berpaling juga. Lo pikir gue gak tahu kalau lo ama Maria masih sering berhubungan di belakang Sora dan suaminya Maria?” Sedikit lebih meninggikan nada bicaranya.


Tiba-tiba datang Sora dengan membawa semangkuk bubur yang dibuatnya. Kedua pria itu langsung diam tertegun sambil melihat kearah Sora.


“Kenapa kalian liatin aku kayak gitu. Serem tahu! Ngomongin apa sih?” dengan wajah polosnya.

__ADS_1


“Gak ada apa-apa.” Kedua pria itu mengatakannya bersamaan.


Sorapun langsung mengajak Maru untuk pulang. Dan berpamitan kepada Zaenal.


__ADS_2