
Setelah Sora keluar dari Rumah sakit, Ibu Reni dan Mamah Maya berebut agar Sora untuk sementara tinggal di rumah mereka sampai kondisi Sora benar-benar membaik.
Sora bingung harus tinggal dimana, akhirnya dia memilih untuk tetap tinggal dirumah yang ia tinggali dengan suaminya, Maru. Ibunya dan Mamah Maya selalu bergantian menjaga Sora disiang hari, dan pulang pada sore hari ketika Maru pulang dari kantor setelah bekerja. Kedua wanita sepuh itu sangat menyayangi Sora.
Berita kehamilan Sora telah tersebar kemana-mana, teman, keluarganya kini sudah mengetahui berita ini. Banyak diantara mereka yang memberikan ucapan selamat.
Tak lupa, Kak Soni yang mendapat berita kehamilan Sorapun ikut terharu. Setelah sekian lama menunggu kehadiran bayi didalam keluarganya, akhirnya Sora mengandung anak pertama. Meskipun bukan anak kandung dirinya, selama itu keluarganya maka tetap akan menjadi anaknya.
Pada malam hari, pasangan suami-istri ini terlihat sedang menyantap makan malamnya. Setelah beberapa hari Sora dan Maru jarang berkomunikasi tentang kelanjutan hubungannya, karena terhalang oleh kedua wanita tua yang selalu menjaga Sora dengan ketat dan hati-hati. Kini kedua ya mendapat kesempatan untuk membicarakannya.
“Kenapa kamu malah bilang sama keluarga kita?” Tanya Sora dengan terus menunduk memainkan makanan di alasnya.
“Sorry, karena gue pikir itu yang terbaik.” Pungkas Maru.
“Sekarang gimana jadinya? Perceraian akan sedikit lebih sulit dilakukan.” Sora tetep kekeh membicarakan tentang perceraian.
“Lo sebegitu bencinya ama gue? Bisa gak lo ngasih kesempatan buat gue, gue pengen hidup sama lo.” Keduanya sama-sama tidak saling menatap satu sama lain.
“Sampai kapan? Sampai kapan kamu ingin hidup sama aku? Sampai anak aku lahir?” Kini Sora melihat wajah Maru, begitupun Maru mengangkat wajahnya dan menatap Sora yang sedikit lebih segar daripada Kemarin-kemarin.
“Maksud lo apaan sih? Selamanya. Gue pengen hidup sama lo selamanya.” Dengan percaya diri Maru memberikan jawabannya dengan lantang.
Maru terus menatap mata Sora, tatapan itu ambigu. Tatapan marah, sedih, harapan, bahagia.
“Kamu yakin sama keputusan kamu?” Tanyanya kembali.
“Gue yakin. Gue janji sama lo, kita bakal hidup bahagia. Gue, Lo, sama anak kita.” Memegang tangan Sora.
“Maria? Bagaimana dengan Maria?” Tatapannya kini berubah sedikit menjadi tatapan kebencian.
Maru melepaskan tangannya perlahan, dia minum segelas air.
“Gue bakal urus masalah itu. Lo gak usah mikirin kita berdua.”
Sora beranjak dari kursinya, namun tangan Maru menghentikannya dan kembali mendorong lembut tubuhnya kembali duduk.
“Abisin dulu. Lo inget, sekarang yang makan bukan lo aja.” Pintanya
__ADS_1
Makan malam selesai, mereka berdua kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Sora melentangkan tubunhya diatas ranjang yang setiap hari dia tiduri.
Tidak bisa dipungkiri, Sora merasakan bahwa semua yang dilakukan Maru kepadanya tulus. Hati Sora sedikit tergerak dengan semua perlakuan Maru akhi-akhir ini.
Maru membuka pintu kamarnya dan menghampirinya. Sora langsung terbangun duduk di ranjangnya.
“Ada apa lagi?” Tanya Sora.
Maru membaringkannya kembali. Ia duduk dibawah ranjang, mendekati tubuh bagian atas Sora.
“Maafin gue.” Maru berkata dengan lembut.
Sora merasa kalau suaminya ini dari semenjak pertengkaran hebat hari itu selalu terus menerus meminta maaf padanya.
“Kenapa sih kamu minta maaf terus?” Tanyanya
“Gue salah, makannya gue minta maaf. Sebelum lo putusin nerima gue apa enggaknya, setidaknya lo maafin gue. Itu penentu hubungan kita kedepannya. ” Kali ini Maru sangat serius.
“Kamu minta maaf. Salah kamu apa?” Tanya Sora dengan menatap nanar Maru.
Maru terdiam, menyunggingkan bibirnya.
Sora menarik nafas perlahan. Ditatapnya wajah suaminya dengan intens. Pikirannya berkecamuk. Akhirnya ia memberanikan diri untuk memberikan senyuman kepada Maru.
“Kamu serius banget kayaknya. Kamu udah janji, jangan ingkar.” Sora tersenyum manis.
Sora kembali menggerutu dalam hatinya. Dia mulai lagi, terperangkap buaian Maru. Setelah selama ini berani berperang dan membuat benteng dalam hatinya untuk Maru, sepertinya bentengnya runtuh lagi. Apa ini keputusan yang benar menerimanya sebagai suami?
Membaca situasi, Maru mulai tersenyum. Dia menatap mata Sora dengan tatapan penuh cinta.
“Boleh gak, aku pegang perut kamu?” Maru, melihat kearah perut Sora yang mulai terlihat lebih besar.
“Aku? Kamu?” Sora tertawa pelan mendengarnya, seraya menganggukan kepalanya.
Maru begitu bahagia, untuk pertama kalinya dia mendapat kesempatan untuk memegang perutnya. Karena selama ini, Sora selalu menjaga jarak darinya.
Maru mengelus lembut perut Sora.
__ADS_1
“Sora, apa kamu terima aku sebagai suami kamu?” tersenyum lebar.
Sora hanya tersenyum mendengar pernyataan cinta secara tidak langsung dari Maru.
Maru mencium bibirnya, Sora menerima ciuman itu. Tersadar, ia merasa malu dan menjauhkan wajahnya dari wajah Maru. Maru tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah.
Maru beranjak menaiki ranjang dan berbaring di sebelah Sora, memeluk Sora dari belakang dengan tangannya mengelus perut Sora.
“Kamu ngapain?” Tanya Sora kaget.
“Kita kan suami istri. Ya tidur bareng lah.”
Pipi Sora semakin terasa panas.
“Wwaahh... sekarang didalam tubuh kamu yang kecil ini ada anak kita. Tuh, perut kamu yang rata banget, sekarang agak maju kedepan. Terima kasih.” Mengecup rambut Sora.
Sora membalikkan tubuhnya, kini keduanya berhadapan.
“Aku lupa, tadi Ibu sama Mamah nanyain usia kandungan aku. Katanya sebentar lagi harus diadain 4 bulanan.” Cara bicaranya begitu lembut.
“Okay... dua minggu lagi, kan?” Maru memastikan.
“Kok, kamu tahu sih?” terheran
“Denger kabar kamu hamil, aku seneng banget. Selama konsultasi dengan dokter, aku mendengarkan dengan serius. Harus ini, harus itu, usia kandungan kamu aku itung terus. Keren kan?” Sombong.
Sora tersenyum, selama ini meskipun dirinya bersikap dingin, suaminya memang selalu perhatian. Terutama perhatian akan kesehatannya. Memastikan dirinya makan teratur, minum vitamin, ketika mual-mual kembali menghampirinya, ia selalu ada disampingnya. Itu tidak bisa dipungkiri. Suasana hati Sora naik drastis. Ia terus menatap wajah Maru yang kini telah memejamkan matanya sedari tadi. Cup. . Ia mengecup bibir Maru.
Tak disangka, ternyata suaminya ini belum tidur. Maru meraih wajah Sora, dan mencium bibirnya lebih bergairah. Dikecup lembut kening, hidung, pipi, bibir, sampai lehernya tak lepas dari kecupannya. Tangannya mulai turun, menjelajahi tubuh Sora. Sora menghentikan Maru.
“Aku takut.” Memegang perutnya
“Aku akan hati-hati. Kita pelan-pelan saja.” Timpalnya.
Maru melanjutkan kegiatan olahraganya. Suasana panas nan romantis mereka lewati berdua.
Malam itu, seperti malam pertama pasangan suami istri untuk keduanya.
__ADS_1
Dears..
Mohon dukungannya 🙏