Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
23. Fakta-Fakta dan Keberanian I


__ADS_3

Saat ini Zani mengajak Sora untuk bertemu. Ketika keduanya bertemu di pesta pernikahan temannya, Zani mengajaknya untuk bertemu, karena ada sesuatu yang ingin dia tanyakan. Mereka akan bertemu di restoran sekitaran taman kecil.


Sora tiba lebih awal, sembari menunggu Zani, dia memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di taman itu. Dia mendatangi tempat dimana dulu dia dan Maru negosiasi tentang perjanjian pernikahan. Dia tersenyum sinis, gara-gara ditempat ini, kini dia jadi istrinya Maru. Dan perasaan dia jadi gak karuan karena suaminya itu.


Suasana ditaman hari itu sangat sepi, tak ada orang. Karena memang jam kerja. Untungnya, hari ini jadwalnya libur, jadi bisa bebas kemana saja.


Ia duduk di bangku memanjang. Terdengar olehnya sepasang kekasih di balik tanaman rambat yang rindang memanjang sebagai pagar pembatas sedang bercengkrama.


“Hari ini mood aku bagus tahu... gak kayak kemaren kemaren..” kata sang wanita.


“Mungkin karena hari ini aku bisa ketemu kamu lebih lama,” Timpalnya lagi.


“Aku seneng kalau mood kamu bagus. Jangan banyak pikiran lagi ya... kasihan bayinya..” suara pria itu begitu lembut.


Wwaahh.. ternyata sepasang suami istri... irinya aku, batin Sora.


“Gimana, apa kamu udah mmm... nidurin istri kamu? Kapan dia hamil? Kalian harus teratur melakukan hubungan itu.. itunya..” rengeknya.


“Kamu ya,, aku udah berusaha kok. Teratur gimana, mau menciumnya aja aku ragu. Ya.. mau dia hamil apa nggak, gak masalah buat aku. Kamu juga, udah deh jangan minta aku lagi buat ngelakuin yang aneh-aneh. Mau kamu bagaimanapun juga, aku bakal tetep tungguin kamu.’ Tegasnya.

__ADS_1


Sora sedikit terperanjat, dia merasa tidak asing dengan suara pria itu. Lalu dia sedikit mengintip dari celah daun-daun pembatas mereka duduk.


Matanya langsung memerah, tersirat amarah dan kecewa.


Air matanya mengalir dipipinya yang tembem. Matanya menangkap sosok suaminya dan juga wanita pujaannya sedang duduk berpelukan.


“Makasih ya... maafin aku juga. Tapi, dengan begini aku merasa lebih adil. Aku nikah, kamu juga nikah, aku... ya berhubungan badan dengan suami aku, kamu juga dengan istri kamu. kita tinggal tunggu aja, kapan istri kamu hamil.”


Pria itu sesekali mencium puncak kepalanya, seraya terus tersenyum.


“Mmm.. tapi ini udah yang terakhir, kamu jangan minta aku buat yang aneh-aneh. Aku udah turutin semua apa yang kamu mau. Yang penting aku bisa bareng kamu, meskipun dengan cara begini.”


Sora bak disambar petir disiang bolong. Ternyata hubungan mereka jauh lebih dekat dari yang dia kira selama ini.


Sora terperanjat, handphonenya bergetar. Ia langsung menjauhi tempat itu dan mulai bicara.


“Kamu udah sampe?... Iya aku langsung kesitu. Aku jalan-jalan bentar di taman.” Berbicara dengan handphone ditelinganya.


~

__ADS_1


Cafè


“Maaf ya, ganggu istirahat kamu. Aku Cuma mau tanya sedikit tentang Zaenal. Kamu kan temen deketnya, pasti kamu tahu dong.” Tanya zani tanpa basa-basi


“Tanya aja, siapa tahu aku bisa jawab.” Senyumannya begitu tulus, tapi hatinya sedang tercabik-cabilk.


“Siapa wanita yang disukai Zaenal? Aku pengen tahu. Wanita seperti apa dia, sampai Zaenal menolak untuk kembali bersama.” Suara rendah seolah memberitahu dunia bahwa dia putus asa.


“Aahh.. masalah itu. Aku gak tahu, itu cuman Rendi yang tahu. Aku juga tahu baru-baru ini. Sejauh mana Zaenal cerita tentang wanita itu?” malah balik bertanya.


“Hhmm... Wanita yang mengerti dia, wanita yang selalu dia rindukan, bahkan dia sampai akan datang meski hanya sekedar untuk melihatnya tanpa menemuinya. Dia bilang setiap hari dia melihat wanita itu dari kejauhan. Dia benar-benar ingin memilikinya.” Jelasnya dengan mata kosong.


Sora minta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaannya. Sebagai gantinya, dia mengajak Zani ke restoran Zaenal bersama. Zani awalnya menolak karena dia sedikit merasa jatuh harga dirinya setelah ditolak Zaenal. Tapi iming-iming Sora yang akan membatunya untuk mencairkan hubungan keduanya menjadikannya ikut ke restorannya.


Sebenarnya sekarang ini Sora benar-benar seperti mati rasa. Kenapa dia sangat bodoh karena terbuai dengan sikap Maru yang terkadang membuat jantungnya berdegup kencang. Membuat pipinya merona. Bahkan sampai menerima perlakuan Maru yang menemaninya ditempat tidur layaknya suami istri.


Ya.. memang Maru suaminya.


Tapi, setelah mendengarkan percakapan keduanya tadi, Sora sadar. Aku cuman lagi dibodohi. Aku emang beneran bodoh. Murahan.

__ADS_1


__ADS_2