Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
31. Perhatian


__ADS_3

Setelah mengetahui kabar tentang kehamilan Sora, sikap Maru berubah drastis. Dia mulai memperlihatkan semua perasaannya terhadap Sora yang dulu ia selalu berusaha menampiknya.


Kini dia lebih ekstra perhatian, bahkan hal kecilpun yang berhubungan dengan Sora selalu ia perhatikan. Apa mungkin karena kehadiran buah hatinya yang masih berada di kandungannya.?


Maru masih menuruti keinginan Sora untuk tidak memberi tahu siapapun tentang kehamilannya. Tapi tidak dengan tentang perceraiannya, dia masih menimbang-nimbang. Diabmasih merasa berat kalau harus meninggalkan Sora, terlebih istrinya itu dalam keadaan mengandung. Mengandung darah dagingnya sendiri.


Dia terus memikirkan Sora. Apakah dia sudah makan, apakah dia baik-baik saja. Di kepalanya kini hanya ada Sora. Akhirnya dia memutuskan untuk menemuinya di mall.


Waktu makan siang Sora telah tiba, Maru memandang wanita itu yang ternyata telah menghabiskan makan siangnya. Pandangannya tidak hanya pada Sora. Tapi juga ada Zaeanal disana, yang menemani Sora makan siang.


Zaenal menyadari kehadiran Maru, dia dengan sengaja melakukan gerakan yang memperlihatkan betapa perhatiannya dia terhadap Sora. Dengan Sora yang tersenyum sumringah.


Maru sangat kesal, namun dia tidak bisa marah pada saat itu. Dan hanya memandangi keduanya yang kini telah beranjak. Sora beranjak menuju lantai atas untuk kembali bekerja, menuju tempatnya bekerja. Zaenal beranjak menuju arah dirinya.


“Telat, dia udah makan siang.” Tanpa mendengar pernyataan Maru pun, dia sudah tahu apa alasannya dia ke sini.


“Lo ngapain disini?” Dengan wajah Maru yang begitu datar.


“Harusnya gue yang nanya. Lo ngapain kesini? Tumben amat. Kalau gue, emang tiap hari kesini.” Dengan memberikan senyuman sinisnya.


“Gue tiap hari ke sini. Hanya untuk memastikan melihat wajah Sora. Meskipun tidak datang menemuinya. Hanya sekedar melihat dia dari jauh, udah cukup. Makannya gue tahu jadwal makan siangnya dia.” Memanas-manasi Maru

__ADS_1


Karena semakin dibuatnya kesal, Maru melangkah meninggalkan Zaenal dan menaiki tangga menuju lantai atas.


“Dasar penguntit gila.” Dengan suara pelan, namun masih terdengar oleh Zaenal yang hanya menyeringai karenanya.


Maru menemui Sora yang kini telah masuk toko, bersiap untuk melanjutkan pekerjaannya. Sora mengerutkan dahinya.


“Ngapain? Mau beli apa?” Tanyanya dengan nada seolah-olah berbicara dengan pelanggan.


“Cuman mau mastiin udah makan belum?” Pura-pura tidak tahu.


Sejenak Sora memandanginya, dan mengangguk.


“Mmm.. udah.. udah makan. Kamu sengaja kesini?” tanya Sora.


“Ya ampuuuunn.. enak banget jadi Kak Sora. Punya temen yang baik. Suami baik. Tadi temennya yang dateng, sekarang suaminya. Iri aku.” Rekan kerjanya Menggoda Sora yang tengah berbincang dengan Maru, sambil berlalu menuju kantin di lantai atas.


Maru dan Sora sama-sama tersenyum kaku. Keduanya kembali terdiam.


“Terus sekarang kamu mau ngapain?” Tanya Sora yang membuat Maru bingung. Karena diapun tidak tahu apa tujuannya kesini sebenarnya, selain untuk menemuinya.


Jelas Sora akan merasa aneh jika tiba-tiba aku datang kesini. Bodoh, kenapa gak dari dulu begini. Batin Maru mengutuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Maru menggelengkan kepalanya dan pamit untuk kembali ke kantornya.


Sora sedikit tersentuh, karena tiba-tiba Maru begitu perhatian. Dan diapun sadar, ketika di rumah Maru selalu memandanginya. Itu membuat Sora gugup. Namun, lagi-lagi dia berusaha membuang jauh-jauh pikiran seperti itu.


Sadar Sora... dia begini hanya karena kmu lagi mengandung anaknya.


Jangan berharap lebih. Ingat Sora... jangan jatuh kepelukannya lagi. Batin Sora terus berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


Waktu suda menunjukkan jam 3 sore. Maru memutuskan untuk pulang dan menjemput istrinya lebih awal. Satu jam lebih awal. Dia menunggu di mall, di seberang tempat dia bekerja.


Dia terus memandangi istrinya yang tengah bekerja, sambil duduk di bangku yang telah disediakan untuk para pengunjung. Dimatanya kini Sora telihat jauh lebih cantik, terlihat lebih bersinar. Memang dari dulupun dia mengakui kalau Sora memang cantik. Tapi, kali ini dia benar-benar membuatnya susah untuk tidak merindukannya.


Jam pulang Sora telah tiba, ia bersiap untuk pulang. Tak disangka, suaminya kembali berada dihadapannya. Tumben benar-benar tepat waktu, biasanya dia harus menunggunya kurang lebih sekitar 30 menit.


Maru langsung tersenyum memandangi Sora yang sedikit terlihat canggung karena sikap Maru itu.


“Tumben banget kamu udah di sini aja.” Celetuknya sambil keduanya berjalan meninggalkan toko.


“Gue emang sengaja dateng lebih awal aja kok. Lo gak capek apa?” Tanyanya random, dan mengambil tas bawaan istrinya. Sora lagi-lagi sedikit canggung dengan sikap Maru yang tiba-tiba itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan mendahului suaminya itu menuju parkiran.


Begitulah, setiap hari Maru sangat perhatian terhadap istrinya. Dia akan terus menemani Sora yang setiap pagi mengalami morning sick, dengan setia dia terus menepuk punggung, pundak, menyeka bibirnya. Antar jemput, datang siang hari hanya sekedar memastikan bahwa istrinya sudah makan. Terkadang juga mereka terlihat makan bersama, ituoun kalau tidak didahului oleh Zaenal yang tetap setia datang ke mall. Tengah malampun Maru selalu menemani Sora yang terbangun karena lapar.

__ADS_1


Namun, semua perhatian itu sudah tidak bisa menggugat keputusan Sora. Yang mana setiap hari dia terus bertanya tentang perceraian. Maru dengan sabar hanya bisa membuat istrinya itu untuk bersabar menunggu keputusantentang perceraiannya. Bahkan dia terus bersabar dengan sikap Sora yang dingin, meskipun dengan perhatian yang telah ia berikan.


__ADS_2