
Maru memutuskan untuk menerima gugatan cerai dari Sora. Keduanya duduk di persidangan. Dengan berat hati Maru menerima kenyataan bahwa hakim telah mengetuk Palu tanda mereka bukan lagi sepasang suami istri. Kini keduanya adalah mantan suami istri.
Maru hendak menjabat tangan Sora. Sora hanya diam berdiri dihadapannya tanpa menerima jabatan tangannya.
“Sekarang kita bisa jadi teman, kan?” Maru memulai percakapan.
“Kita memang sudah bercerai, tapi aku harap kita masih bisa ketemu. Aku lepasin kamu bukan berarti aku udah gak cinta sama kamu, tapi aku lepasin kamu agar kamu bahagia.”
“Aku harap kita gak usah ketemu lagi...” perkataan Sora langsung Maru potong
“Meskipun kamu akan menolak terus menemui aku. Aku bakal terus datengin kamu. Aku cuman lihat wajah kamu dari jauh juga udah cukup. Jadi jangan larang aku.” Maru merasa de javu. Dia merasa pernah mendengar perkataan seperti ini. Ya, Zaenal yang mengatakan.
Sora hanya terdiam, kini ia tidak sanggup menatap Maru.
“Pakaian kamu, sama barang kamu yang masih dirumah, mau aku anterin?”
“Buang aja semua. Aku gak mau barang-barang itu, karena itu akan mengingatkan aku lagi tentang kamu yang ingin aku lupain.” Tegasnya.
“Kamu sulit lupain aku? Artinya kamu masih cinta sama aku.” Sora merasa diskak dengan perkataan Maru.
Sora berlalu begitu saja meninggalkan Maru.
Zaenal kedatangan customer. Terlihat wanita yang sangat ia kenali, langkah wanita itu sangat lemah ditambah wajah yang begitu pucat. Sora langsung duduk di kursi yang kosong, ia tersenyum ke arah Zaenal. Zaenal menghampiri Sora dengan segelas minuman.
“Gimana kabarnya?” Zaenal sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Sora. Ia begitu merindukannya, tapi tidak bisa menemuinya karena ia selalu menolak siapapun yang ingin menemuinya. Tapi kali ini ia datang dengan langkah kakinya sendiri.
“Baik. Maaf ya, baru bisa ketemu sekarang. Makasih kamu udah mau bantuin aku.” Senyumannya terlihat sangat tulus, namun tidak secerah senyuman dulu.
“Itu memang sudah seharusnya. Sekarang apa rencana kamu kedepannya?”
“Entahlah... Aku cuman pengen pergi dari tempat ini. Aku gak mau terus terbayang-bayang tentang dia.” Sora menatap kosong kearah jendela.
__ADS_1
“Kamu masih cinta dia. Kalian masih saling mencintai, kenapa harus cerai?” Kini Mata Zaenal menangkap cairan bening yang keluar dari mata Sora.
“Dari awal hubungan kita udah salah. Aku aja yang serakah. Bisa gak, bahas yang lain aja.” Sora tersenyum palsu.
“Mau pergi kemana emang kamu? Kapan balik laginya? Bisa gak kalau kamu tetap disini. Disisi aku, disisi kita semua.” Zaenal membujuk Sora
“Kenapa kalian semua menahan aku untuk pergi siih... “ kini Sora tertawa kecil.
“Karena kita sayang kamu.” Tatapan Zaenal penuh dengan kasih sayang.
“Zaenal... Makasih banget kamu udah banyak berkorban demi aku, tapi maaf... aku gak bisa bales semua pengorbanan kamu itu.”
“Kamu bisa balas aku. Asalkan kamu tetap disini aja. Sebagai teman aku.”
Sora hanya tersenyum dan pamit untuk pulang..
☆☆
Pagi masih terbilang sepi, telihat seseorang yang tengah mengemas barang kedalam bagasi mobil. Kak Soni tengah menata barang bawaan yang terlihat padat. Maru memperlihatkan dari kejauhan, karena ia khawatir Sora akan mengusirnya kembali. Dia terus memperhatikan gerak-gerik keluarga itu, tampak Ibu Reni memberikan kunci rumahnya kepada seseorang.
Tak lama, muncul sosok Sora dan Kakak iparnya keluar dari rumah dengan bawaan yang tak kalah ribet. Mereka semua memasuki mobil dengan Kak Soni yang mengemudi. Maru bertanya kepada orang yang lewat dihadapannya.
“Maaf mbak, itu Ibu Reni mau kemana ya?” Tanyanya.
“Oohh.. itu mau pindah dia. Rumahnya udah dijual juga. Tapi kita juga gak tahu bakal pindah kemana...” Ibu-ibu itu terus mengoceh, terlihat jelas dia tukang gosip.
Tanpa menghiraukannya Maru berlari ke halaman rumah Sora, ia mengetuk pintu kaca mobil. Sora kaget dan meminta Kak Soni untuk segera pergi.
“Sora... kamu mau kemana? Tunggu dulu.. buka pintunya... Sora...” Maru terus memanggil nama Sora sembari berlari kecil menyeimbangi laju mobil yang kecepatannya semakin bertambah, sampai mobil memasuki jalan raya besar tempat lalu lalang kendaraan lain. Maru terlihat masih mengejarnya.
Sora melihat ke kaca spion, masih terlihat jelas Maru yang masih mengjarnya. Ia mulai terisak. Ibu Reni membelai puncak kepalanya dan memluknya.
__ADS_1
Maru kembali kerumah Sora. Ia bertanya kepada tuan rumah baru.
“Bu, mereka mau pindah kemana ya bu?” Dengan nafas yang tersenggal-senggal.
“Gak tahu mas... mereka gak bilang bakal pindah kemana.”
Maru sangat sibuk pada pagi itu. Dia langsung berlari mencari kendaraan umum. kenapa disaat dibutuhkan tak ada satupun. Ia kembali berlari dengan sangat kencang, ditengah perjalanan kendaraan umum melewatinya. Maru langsung pergi ke restoran Zaenal. Tentu belum buka. Ia berlari kembali menggedor kerumahnya. Zaenal membuka pintu rumahnya bingung.
“Lo tahu kan dia pergi kemana?” Nafasnya tidak beraturan.
“Maksud lo apa? Gue gak ngerti.” Zaenal semakin bingung.
“Sora.. lo tahu kan dia pindah kemana? Kasih tahu gue, please..” Maru memohon
“Dia udah pergi? Kapan?” Zaenal kini ikut terkejut.
“Lo udah tahu dia mau pergi?”
“Dia ngomongke gue. Tapi gak ngomong kapan atau perginya kemana.” Zaenal panik.
“Coba lo telpon. Sora udah blokir nomor gue. Jadi gue gak bisa hubungi dia.”
Zaenal bergegas meraih handphonenya. Namun, nomor Sora sudah tidak bisa dihubungi lagi. Zaenal menggelengkan kepala kearah Maru. Tak mau menyerah, kini Zaenal menghubungi Risa.
“Zaenal.... ada apa ini ..” Suara pekik Risa mendahului Zaenal.
“Lo tahu Sora pergi kemana?” Zaenal seolah akan mendapatkan harapan.
“Dia cuman kirim aku pesan. Dia pamit pergi entah kemana. Hik.. Dia pamitan seolah kita gak bakal ketemu lagi.... sekarang juga dia tidak bisa dihubungi...” Risa menangis di seberang sana.
Zaenal menekan panggilan Rendi. Jawaban Rendipun sama seperti apa yang dikatakan Risa. Zaenal menghempaskan tubuhnya diatas kursi, dia kehilangan Sora.
__ADS_1
Maru yang melihat Zaenal. Sudah tahu jawabannya. Berjalan meninggalkan kediaman Zaenal dengan langkah lunglai.