Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
89. Tanda Kehamilan?


__ADS_3

Sora segera dilarikan ke Rumah Sakit dengan bantuan orang-orang yang berada disekitar dan tak ketinggalan Tian, adik dari Mbak Santi sekaligus orang yang membantu Sora mengelola guest house nya ikut membantu.


Tian segera memberi kabar kepada Maru yang tengah berada di Kantornya.


Maru yang mendapatkan kabar tersebut, tak pikir panjang langsung menuju Rumah Sakit tempat Sora berada dengan perasaan yang sangat khawatir.


Tiba di ruangan Sora berada, Maru mendapati Sora yang tengah terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Dengan Maria yang berada disampingnya, menunggu Sora. Maru langsung menghampiri Sora yang masih menutup kedua matanya.


Maria yang mendapati pemandangan dimana Maru sangat mengkhawatirkan Sora dibuat iri seketika. Maru memegangi lengan Sora dan sesekali menciuminya seraya membelai rqmbut Sora tepat dihadapan Maria. Ia menjelaskan kepada Maru tentang keadaan Sora yang ia dengar dari seorang Dokter yang telah memeriksa keadaan Sora.


"Dia gak apa-apa Maru. Kata Dokter dia cuman kelelahan dan Sora terlalu stress." Maria berbicara dengan seadanya.


"Kenapa kamu ada disini? Apa yang terjadi?" Maru bertanya-tanya bagaimana bisa Marialah yang menunggu Sora.


"Tadi kita lagi jalan-jalan di pantai. Tiba-tiba Sora pingsan. Makannya aku sama penjaga guest house kalian langsung bawa Sora ke sini. Penjaga Guest House kalian harus balik lagi, soalnya katanya ada pengunjung yang dateng buat nginep di tempat kalin." Maria menjelaskan dengan hati-hati, karena dia sangat tahu ekspresi Maru yang benar-benar sangat khawatir.


"Kalian ngomongin apa? Kamu gak ngomong omong kosong kan? Yang buat Sora jadi pingsan begini?" Tatapan Maru berubah tajam menghujam mata Maria penuh kecurigaan.


"Maru... kamu kok gitu sih ngomongnya? Kita gak ngomongin yang aneh-aneh. Kita cuman ngobrol hal ringan aja." Mata Maria membelak, dia tidak habis pikir yang langsung di curigai oleh seorang Maru.


"Terus kenapa Sora bisa kayak gini?" Maru masih tetap dengan kecurigaannya.

__ADS_1


"Maru, bukannya harusnya kamu yang lebih tahu tentang keadaan Sora. Kamu yang harus lebih tahu kenapa Sora bisa stress. Kenapa kamu malah tanya aku, bahkan kamu lebih ke nuduh aku penyebab Sora pingsan.... kamu segitu bencinya apa sama aku?" Kini Mata Maria berkaca-kaca, air matanya memaksa untuk keluar.


Maria yang merasa sangat hati, pergi berlalu meninggalkan Maru yang sedikit terkejut melihat Maria yang menangis karena ulah dirinya.


Maru tidak memperdulikannya dan matanya kembali fokus kepada Sora yang masih menutup matanya. Maru menunggunya dengan sangat sabar.


Selama menunggu Sora untuk tersadar, Maru merenungi ucapannya terhadap Maria. Dia menyadari kalau dirinya memang sudah keterlaluan dengan mencurigai Maria tanpa memikirkan perasaan Maria.


Di sisi lain, Maria tengah duduk di kursi penumpang di taksi yang ia tumoangi untuk kembali ke penginapan. Selama dalam perjalanan, Maria hanya menangis dalam sunyi. Sesekali supir taksi melirik kearah Maria yang terus mengeluarkan air matanya tanpa bersuara.


Untuk pertama kalinya, setelah dua tahun lebih tidak bertemu dengan Maru, Maria benar-benar dibuat sakit hati olehnya. Seharusnya Maria memaklumi sikap Maru yang seperti itu. Mengingat bagaimana masa lalu ketiganya yang memang sedikit rumit.


"Apa aku masih cinta sama Maru? Mana mungkin, aku udah lupain dia dengan susah payah, mana mungkin aku kembali suka dia hanya dengan dua hari kita bertemu. Ingat Maria, kamu udah menerima semuanya, kamu udah menerima Maru dan Sora untuk bersama dengan ikhlas. Kamu jangan goyah lagi, jangan bertindak konyol lagi." Batin Maria terus memperingati dirinya sendiri.


Moodnya seketika menjadi down. Maria merasa pening dikepalanya dan juga mual karena ia merasa Supir taksi yang mengendarai mobilnya sedikit tidak benar, mungkin dia pikir Supir taksinya tidak ahli dalam menyetir.


Setelah hampir setengah jam menemani Sora yang terbaring lemah, akhirnya Sora membuka matanya dengan perlahan. Sora merasakan tangannya yang digenggam erat oleh seseorang yang berada disampingnya. Matanya langsung menangkap Maru yang kini sedikit beranjak, mencondongkan tubuhnya kearah Sora.


"Sayang.. kamu gak apa-apa? Apa yang sakit?" Maru terus merasa khawatir, ia segera bangun dari duduknya dan membelai puncak kepala Sora.


"Aku gak apa-apa, udah baikan kok. Kamu gak usah khawatir." Sora meyakinkan Maru.

__ADS_1


Maru segera memanggil Dokter yang bertugas. Dokter yang mendapatkan kabar bahwa Sora telah siuman langsung memeriksakan keadaan Sora kembali. Dokter menanyai beberapa pertanyaan tentang kondisi tubuh Sora kepadanya, dan Sora menjawab dengan jujur.


"Andq hanya kelelahan, dan juga terlalu banyak pikiran. Untuk itu, tolong kurangi aktivitas Anda yang berat dan jangan terlalu memikirkan sesuatu dengan sangat keras." Dokter tersenyum ramah kepada Sora, sebelum Dokter meninggalkan keduanya, ia meresepkan obat untuk Sora dan mengizinkan untuk pulang jika infusan yang ia terima telah habis.


Sora teringat akan Maria yang tadi memang bersama dirinya.


"Maria gimana? Aku tadi lagi sama Maria." Sora menanyakannya kepada Maru.


"Dia udah pulang ke penginapan. Kalian tadi ngomongin apa? Gak ngomongin yang macem-macem kan?" Maru masih merasa khawatir dengan kemungkinan Maria yang menyakiti Sora kembali.


"Enggak kok, kita cuman ngobrol biasa aja. Jangan bilang kamu nanya kayak gini juga ke Maria?"


Maru yang diberikan pertanyaan seperti itu hanya bisa diam.


"Kamu beneran nanya kayak gini ke Maria? Kamu curigain Maria?" Sora memastikan kembali.


"Aku cuman khawatir sama kamu, sayang. Bukan maksud yang lainnya." Maru membela diri.


"Kamu harus minta maaf sama Maria. Kita pulang, kamu langsung minta maaf." Sora berkata dengan sangat tegas.


"Iya aku tahu, aku bakal minta maaf. Kita pulang setelah infusan kamu abis. Kamu jangan banyak gerak gitu." Maru mengingatkan Sora yang sedikit menggerakkan tubuhnya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2