
Mereka semua bergegas menuju mobil suami Risa. Ya, karena mobil suami Risa cukup besar. Mereka manaikinya satu persatu. Risa yang berada dijok depan menemani sang suami. Zaenal dan Rendi beserta anak Risa yang terus menempel pada Rendi berada di jok paling belakang. Maru berada di jok tengah dengan kursi sebelah masih kosong. Sora terdiam, ia menatap Maru sejekap. Ia ragu, apakah ia sanggup bisa duduk berdekatan dengan mantan suaminya itu.
“SORA..” Teriakan Langit membuat semua orang menoleh kearahnya.
Langit menghampir Sora yang berada disamping mobil dengan sepeda motornya. Semua mata orang-orang yang berada di mobil tertuju pada langit.
“Kamu mau kemana? Maaf, aku telat ya jemputnya.” Langit mengecek ada siapa didalam mobil yang tidak ia kenali tersebut. Matanya bertemu dengan mata Maru.
“Guys, aku naik motor aja bareng Langit. Biar kita didepan nunjukkin jalan buat kalian.” Sora tersenyum sembari menghampiri sepeda motor Langit. Tampak laki-laki yang Sora sebut Langit itu memakaikan helm ke kepala Sora.
Mereka terlihat penasaran dengan identitas laki-laki itu.
“Wwwooowwww....” tanpa sadar kata itu keluar dari mulut Rendi yang langsung ditepuk oleh Zaenal.
Sepeda motor yang ditumpangi oleh keduanya tetap menjadi pusat perhatian orang-orang dalam mobil.
“Siapa tu? Ganten juga. Kok dia pasangin helm ke Sora.” Celetuk Risa.
“Au.. penasaran gue. Nah lo liat tangannya Sora, kayaknya dia meluk tu cowok dah.” Rendi menambahkan.
__ADS_1
“Maru, lo tahu gak siapa dia?” Tanya Risa.
“GAK.” Simple sekali.
Maru menjadikan sikutnya penompang pada jendela mobil untuk menahan pipinya yang sebenarnya tidak begitu memerlukan tompangan. Wajah Maru memang sedikit mengarah ke jendela mobil, tapi ujung matanya terus menatap pengendara sepeda motor dan penumpangnya yang ada di depan.
Sesampai ditempat Sora membuka pintu rumahnya. Keluarga Sora menyambut haru teman-teman Sora. Risa menangis paling lebay tentunya. Mereka berpelukan satu persatu. Mata Ibu Reni menangkap sosok mantan menantunya tak bisa menahan gejolak dalam dadanya. Ia menghampiri Maru dengan langkah yang tidak stabil. Ia membawa Maru kedalam pelukannya, menciuminya dikening, dahi, dan puncak kepalanya. Tangis Maru pecah.
“Maafin Maru bu. Maafin Maru.” Kini ia membalas pelukan mantan mertuanya itu.
Siapapun yang melihatnya pasti akan terharu. Sora memalingkan tubuhnya keluar rumah. Ia tidak tahan melihat pemandangan didepannya. Langit menghampirinya, mengusap air mata Sora. Ia menatap dalam mata Sora.
“Kamu harus berani. Kamu harus hadapi. Jangan anggap dia bayang-bayang lagi. Okay?” Langit menangkan Sora dalam sunyi. Dipeluk hangat tubuh Sora olehnya.
“Aku pulang dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, kasih tahu aja.” Pamitnya
“Biar aku kenalin sama temen-temen aku dulu.” Sora mencegah kepergian Langit dengan menggenggam lengannya.
“Nanti aja. Pasti kalian masih saling merindukan. Masih ada hari besok buat aku, kan.” Sebelum meninggalkan Sora, ia mengusap puncak kepala Sora dengan senyumnya yang hangat. Tak mereka sadari ada mata yang terus memperhatikan keduanya. Zaenal.
__ADS_1
Risa memutuskan untuk menginap dirumah Sora bersama anaknya, sedangkan para lelaki kembali ke penginapan.
Dan esok hari salah satu dari mereka akan menjemput kedua wanita itu. Kini Risa dan Sora berbaring di tempat tidur Sora, tak lupa anak laki-laki Risa sudah tertidur lelap berada Ditengah-tengah antara keduanya..
“Gimana ceritanya kalian bisa sampai sini?” Tanya Sora masih penasaran.
“Setelah kepergian kamu nih, aku sama Zaenal , Rendi juga jadi sering ngumpul. Kita tuh nyariin kamu terus. Tanya sana sini. Gak pernah berhasil. Tapi, yang paling ekstream, Maru.” Jelasnya.
“Ekstream? Kenapa emang?”
“Sebelum aku ngasih tahu kamu unek-unek aku. Aku mau tanya dulu deh sama kamu. Kamu masih cinta gak sama Maru?” Pertanyaannya Risa yang diutarakan, membuat Sora terdiam tanpa bahasa.
“Okay. Gak usah dijawab. Udah tahu aku. Setelah kamu pergi, hidup Maru jadi benar-benar kacau. Dia jadi pendiam, dingin, pemarah, dia gak pernah dateng ke kantornya sendiri. Yang dia lakuin cuman keliling gak jelas nyariin kamu, pulang mabok. Malah dia rela jadi ojek online. Katanya sambil kerja sambil nyariin kamu, siapa tahu penumpangnya kamu, atau yang tahu tentang kamu. Gak tahu ada angin apaan, sekitar setengah tahun lebih dia kayak gitu, dia balik kerja ke kantornya. Ya... agak mending, cuman aura dingin, diam dan pemarahnya belum hilang.” Panjang lebar Risa menjelaskan.
Sora menghela nafas berat.
“Ris, aku nanya cuman gimana ceritanya kalian bisa tahu aku disini. Kok jadi kemana-mana sih?” Keluhnya.
“ups.. iya juga ya... Yaa.... Maru yang ngasih tahu kita. Karena kita sama-sama nyariin kamu.” Tandasnya.
__ADS_1