
"Kamu ngapain di sini? Kenapa kamu masuk tanpa permisi?" Maria mengintrogasi Sora dengan wajah datarnya.
"Maafin aku, bukan itu maksud aku. Aku cuman khawatir sama kamu." Sora berdalih, meskipun dia tahu alasan tersebut tidak masuk akal untuk Maria.
"Aku tahu kamu memang yang punya rumah ini, tapi tolong jaga privacy aku." Maria merasa sangat tidak nyaman terhadap Sora.
"Ini punya kamu? Maria, kamu hamil?" Sora memberanikan diri untuk menanyakan topik yang sedikit sensitif tersebut.
"Bukan urusan kamu... tolong kamu keluar sekarang." Maria mengusir Sora secara halus.
"Aku tahu itu bukan urusan aku, tapi kamu beneran hamil kan? Terus, ini apa? Obat penggugur kandungan?" Sora mengangkat paket yang ia terima dari seorang kurir tadi.
Maria terdiam sejenak, ia mengamati paket pesanannya yang berada di tangan mungil Sora.
Maria langsung merebut benda tersebut, dan tetap mengusir sang pemilik bangunan tersebut.
"Tolong keluar, dan jangan ikut campur." Maria sedikit mendorong Sora mengarahkannya ke pintu agar Sora keluar.
"Gak.. aku gak bakal keluar! Kamu jangan bersikap konyol dengan meminum obat-obat tersebut." Sora menahan tubuhnya sendiri agar tidak terdorong oleh Maria.
"Okay... aku emang hamil... memangnya kenapa kalau aku hamil? Bukan urusan kamu! Aku mau gugurin kandungan aku juga bukan urusan kamu!" Maria yang memang sedang merasa stress, menjadi semakin emosi.
"Kamu jangan gila Maria. Bayi kamu gak ada salahnya sama sekali.." Sora terus bersikukuh untuk mencegah Maria.
Maria yang semakin tersulut emosi, semakin menjadi. Tenaga yang ia keluarkan untuk mendorong Sora agar keluar semakin besar. Sehingga Sora keluar dari dalam penginapan dengan tubuh yang sedikit sempoyongan karena dorongan kuat Maria.
Maru yang baru saja turun dari mobilnya, mendapati istrinya yang di dorong paksa oleh Maria keluar dari penginapan yang Maria sewa. Maru berlari secepat kilat menolong Sora yang tubuhnya oleng. Matanya menatap tajam pada mata Maria yang masih terlihat emosi.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan Maria? Kenapa kamu dorong Sora?" Maru meninggikan nada suaranya.
"Istri kamu yang terlalu ikut campur. Jangan maen salahin orang aja." Maria menutup pintu dengan sangat keras, ia mengunci pintu dari dalam dan membuang kunci ke sembarang tempat.
Maria menangis dalam sunyi di balik pintu.
Maru terus mengetuk pintunya, atau bisa dibilang Maru menggedor pintunya dengan sangat kasar.
"Maria, buka pintunya. Kamu apa-apaan kayak gitu. Gimana kalau istri aku kenapa-kenapa?" Maru semakin emosi.
Sora langsung menahan Maru, ia menghentikan suaminya.
"Sayang, stop. Maria bener kok, aku yang salah." Sora menahan tubuh Maru dengan pelukan yang ia berikan.
"Kamu gak apa-apa kan? Aku juga bilang apa, kan? Aku tuh khawatir kalau kamu terlalu dekat sama dia." Maru terus mengoceh.
Maria kini berada di tempat tidur dengan keadaan sangat kacau. Dia menangis dengan terus menekan perutnya sendiri.
Maria yang sudah beberapa minggu merasa tidak enak badan, tidak pernah menyangka kalau dirinya kini tengah mengandung. Usia Bayi yang ia kandung kini telah menginjak sekitar 7 minggu.
Maria memang sudah merasakan semua gejala awal kehamilan, muntah pada malam hari, kepala pening, dan lainnya, namun ia selalu berpikiran bahwa dirinya hanya merasa tidak enak badan, atau hanya masuk angin.
Sora berniat memberitahukan semua kejadian tadi pada Maru saat keduanya sudah santai. Sampai pada saatnya keduanya duduk di sofa sambil menatap layar televisi, Sora memberitahukan semua kejadian tersebut.
"Sayang, tadi tuh bener-bener salah aku kok. Kamu jangan marah sama Maria, kamu harus minta maaf." Sora membela Maria.
"Kamu mulai lagi deh.. Pokoknya aku gak mau kalian berhubungan lagi sama dia, kita.. kuta gak usah lagi berhubungan sama dia." Maru sangat sensitif jika menyangkut nama Maria. Mengingat kejadian masa lalu yang membuat Maru sangat menderita, meskipun dia tahu sendiri, bahwa akar kesalahan dan kesalah pahaman ada pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sayang... Maria lagi hamil." Sora mengungkapkan semuanya.
Maru terdiam sejenak mencerna pernyataan Sora. Maru merasa sangat terkejut dengan pernyataan tersebut.
"Dan aku juga akui, kalau aku terlalu ikut campur." Sora memang menyadarinya.
"Ya udah.. kamu gak usah ikut campur urusan dia. Kita gak usah ikut campur." Maru memperingati Sora.
"Tapi sayang, dia berniat buat gugurin kandungannya sendiri. Gimana aku gak ikut campur." Sora meninggikan nada bicaranya.
"Sayang, dia pasti punya alasan sendiri. Atau itu memang kesepakatan dia sama Ayah si Bayi." Maru berusaha untuk terus berpikiran positif.
"Tapi kan... Bayi yang masih ada di perut Sora gak salah apa-apa. Disaat kita yang sangat menginginkan kehadiran anak di pernikahan kita, tapi dia dengan enaknya ingin membunuh bayinya sendiri disaat Tuhan memberikan kepercayaan sama dia." Sora menitikkan air matanya.
Maru menggenggam tangan Sora dengan sangat erat. Ia kehilangan kata-katanya.
"Sayang, liat.! Lampu di tempat Maria gak dinyalain. Aku khawatir banget. Ayo kita liat dulu, hem?" Sora membalas genggaman tangan Maru.
Maru setuju, dan beranjak mengambil kunci cadangan menuju bangunan sebrang, yang diikuti oleh Sora.
Sora berusaha untuk menjaga sopan santunnya terlebih dahulu, ia mengetuk pintu bahkan menekan bel rumahnya. Namun masih tidak ada tanda-tanda Maria di dalam, Sora semakin khawatir. Karena dia tahu, Maria belum keluar sama sekali setelah percekcokkan tadi.
Sora langsung meminta Maru untuk membukakan kunci pintu utamanya. Keduanya mencari Maria dengan menyalakan semua lampu yang sedari tadi masih padam.
Sora berteriak histeris mendapati Maria tergeletak di lantai kamar mandi, Maria tidak sadarkan diri.
"Sayang.. Maria di sini. Kamu bantu angkat dia dulu." Sora menangis karena terkejut.
__ADS_1
Sora dan Maru membantunya dengan membawa Maria ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.