
Akhirnya, setelah berunding, rundingan yang layaknya sebuah drama keputusan semua pihak telah didapat. Keputusannya adalah akan menitipkan Maria pada sebuah yayasan yang menampung wanita hamil tanpa pendamping dan juga tetap akan mengadopsi anak dari Maria kelak.
Kalau diingat masa lalu ketiganya, memang bisa dibilang Sora sangat bodoh yang masih mau menampung dan menerima Maria dalam hidupnya lagi, namun hati Sora yang begitu baik dan rasa kemanusiaannya yang tinggi membuat semuanya ikut menerima dan sedikit memaafkan Maria.
Zaenal kini sudah pulang. Tidak lupa, Sora dan Maru sangat berterima kasih pada dia. Bagaimana tidak, dengan tidak tahu malunya, Maru meminta bantuan Zaenal untuk menyelesaikan dilema rumah tangganya. Padahal dulu keduanya juga tidak terlalu baik, rival.
Maria akan dititipkan di sebuah yayasan yang berada di Kota yang tidak terlalu jauh. Kita yang berada Ditengah-tengah antara kota yang Sora dan Maru tinggali sekarang dan kota yang telah mereka tinggalkan.
Maru dan Sora menitipkan Maria dengan sangat hati-hati. Keduanya memberikan rekaman medis Maria sebelumnya. Rekaman medis tentang kandungannya, dan juga tentang kesehatan mentalnya. Keduanya berjanji sesekali akan mengunjungi Maria. Meskipun keduanya memutuskan untuk menyerahkan Maria, namun tidak akan lepas tangan begitu saja.
Maria awalnya menolak karena dia berada ditempat yang baru dan juga tidak bersama pria yang ia cintai, Maru.
"Aku gak mau disini... kenapa kamu tinggalin aku..?" Maria Merengek dan mencengkram tangan Maru.
"Untuk sementara kamu disini dulu. Aku sama Sora ada urusan dulu. Kamu harus mau, ya.." Maru membujuk Maria dengan sangat lembut, mengingat keadaan Maria yang memang harus diperlakukan dengan lembut dan juga sabar.
"Kenapa kamu sama dia terus sih? Kamu gak anggap aku apa? Oh... pasti kamu mau urus perceraian kalian berdua kan?" Dengan begitu cepat, mata Maria berbinar dan senyumnya tersirat begitu bahagianya.
__ADS_1
"Iya.. kita mau urus itu dan juga yang lainnya. Makannya kamu harus tunggu disini dulu." Sora ikut membujuk Maria dengan mengiyakan hal yang sangat mustahil.
"Okay... aku bakal nunggu disini. Tapi, kamu harus janji buat jemput aku lagi. Tanpa dia..." Maria menunjuk Sora dengan sorot matanya yang tajam.
Akhirnya Maria luluh dan mau untuk dititipkan ditempat tersebut. Maru dan Sora berlalu meninggalkan Maria dengan hati yang berat.
"Kenapa kamu mengiyakan ucapan Maria sih, sayang?" Maru bertanya pada Sora yang kini sudah duduk disebelahnya, duduk di bangku penumpang depan mobil yang akan ia kendarai.
"Kalau gak gitu, dia gak bakal mau kamu tinggal. Pasti dia mau minta pulang lagi, atau minta kamu buat tinggal disana." Sora menjawabnya dengan seadanya, raut wajahnya terlihat sangat jelas.
"Maafin aku... maafin aku, hidup kamu jadi kayak gini.." Maru benar-benar frustasi dengan keadaannya yang sekarang.
"Makasih... kamu mau terima aku lagi. Kamu mau maafin aku. Dan juga sekarang, kamu mau terima Maria." Maru menatap Sora, dan kini keduanya saling menatap begitu dalam.
"Ini memang seharusnya. Anggap saja ini ujian terbesar dalam rumah tangga kita, dan juga berkah. Kamu harus ingat, dalam beberapa bulan kedepan kita akan punya anak..." Sora tersenyum tulus pada suaminya, Maru.
Zaenal telah sampai dirumahnya dan langsung beraktivitas mengelola restoran yang telah beberapa hari handle oleh sand adik. Dia juga ikut andil dalam mengurus Maria, Zaenal sudah berjanji sesekali dia akan mengunjungi Maria. Sebenarnya, rasa kemanusiaan Zaenal juga tidak hilang, meskipun dia sangat kesal pada Maria dimasa lalu, dia tetap merasa iba. Apalagi, Maria adalah seorang wanita, makhluk yang sangat Zaenal hormati, meskipun dulu dia sempat bersikap kasar dan tidak hormat pada Maria. Karena perilaku Maria yang membuat Sora hancur berantakan.
__ADS_1
Zaenal kedatangan kedua sahabatnya yang tiba-tiba datang ke restoran. Zaenal yang sudah mendapatkan izin dari Sora juga Maru memberitahukan perihal Maria pada Risa dan juga Rendi. Seperti biasa, keduanya sangat overreact, heboh.
"Apa? Sora, tu cewek gila apa? Kalau gue jadi Sora, bakal gue ketawain tu cewek." Risa sedikit berteriak.
"Biasa aja kali..." Zaenal menenangkan Risa dan meminta maaf pada pengunjung yang merasa terganggu karena suara Risa.
"Iya bener... lebay amat lo. Tapi, kenapa Maru juga ikutan nerima Maria lagi? Dia gak kasihan apa sama Sora?" Rendi ikut mengintrogasi Zaenal.
"Kalau gue jadi Maru, gue belum tentu bisa sabar kayak dia. Lo berdua gak tahu aja apa yang sebenarnya terjadi dulu, makannya lo bakal cuman nyalahin Maria atau juga Maru. Sora juga turut andil lo.." Zaenal sudah membulatkan tekad untuk memberitahukan rahasia yang ia jaga selama hampir lima tahun itu, sama seperti Sora dan Maru yang jujur pada orangtuanya.
"Apa? Hal sepenting ini lo gak kasih tahu gue? Kasih tahu kita berdua?" Risa lagi-lagi berteriak.
"Tega banget lo... lo gak anggap kita sahabat apa?" Rendi juga ikut berteriak sekarang.
"Gue cuman ikutin apa maunya Sora dan juga Maru. Tapi, tenang aja. Sekarang mereka udah benar-benar saling mencintai. Lihat aja mereka mau memaafkan Maria. Mereka ingin berdamai dengan masa lalu dan memulai kembali semuanya dengan damai." Zaenal membela kedua temannya itu.
"Terus, perasaan lo gimana? Lo udah gak cinta sama Sora? Kok lo mau aja diminta tolong ama Maru?" Rendi sangat kesal dengan Zaenal yang selalu melakukan apapun untuk Sora meskipun dia tidak mendapatkan apapun.
__ADS_1
"Apa? Lo cinta sama ama Sora? Sebenarnya ada berapa rahasia yang lo pada simpen sih? Dan gue gak tahu apa-apa?" Untuk ketiga kalinya Risa berteriak.
Kedua pasang mata, Zaenal dan Rendi menatap risih karena teriakan Risa.