Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
41. Siapa Orang Ketiga I


__ADS_3

Kegiatan sarapan di pagi hari tetap berlangsung seperti biasa. Karena tidak ingin ada kesalah pahaman, dan ingin lebih terbuka antara satu sama lain, keduanya membicarakan keadaan Maria, apa yang harus mereka lakukan, karena mau tidak mau mereka akui. Keadaan Maria yang sekarang ada hubungannya dengan mereka berdua.


“Maafin aku.” Sora tiba-tiba meminta maaf, membuat Maru mendongak.


“Maafin aku. Aku gak sadar. Ternyata aku egois.” Menundukkan kepalanya memainkan sarapan yang ada dipiringnya.


“Kenapa kamu minta maaf? Apa salah kamu? Jangan minta maaf lagi.” Dengan sangat tegas Maru menenangkannya.


“Tapi, tetep aja...” Sora menghela nafas panjang.


“Disini aku yang harusnya minta maaf. Minta maaf sama kamu, sama Maria juga. Brengsek emang aku.” Tersenyum jijik.


“Sebaiknya untuk sementara ini kamu tetap menjaga Maria dulu. Tunggu dia sampai pulih.” Dengan berani, Sora mengajukan saran yang sangat tidak sekali.


“Maksud kamu apa? Terus kamu?” Maru menyeringitkan keningnya.


“Kita bisa jaga dia bareng-bareng. Sampai dia pulih. Baru kita jelaskan tentang apa yang harusnya terjadi. Kalau kamu menyesal, kamu harus tulus.” Berusaha memberikan saran.


☆☆


Jam makan siang, Sora sudah menyiapkan sajian diatas meja makan. Dia tinggal menunggu suaminya datang. Telponnya berdering, SUAMI menghiasai layar smartphone.


“Hello..” Dengan antusias.

__ADS_1


“Hello.. Sora...” menghela nafas “Hari ini aku gak bisa makan siang dirumah. Aku harus ke rumah sakit. Sekarang Maria butuh aku. Kamu gak apa-apa?” nada bicaranya sangat jelas, terdengar khawatir.


“Mmm.. aku gak apa-apa. Pergi aja ke rumah sakit.” Memberikan semangat.


“Kamu yakin gak apa-apa?” kembali memastikan


“Yakin.. yang sakit dia. Aku baik-baik aja. Udah sana, hati-hati ya.” Bibirnya tersenyum, tapi matanya meneteskan air mata.


Apa keputusan aku tepat? Kenapa terasa sakit? Bukankah ini seharusnya? Disini kita berdua yang salah. Seharusnya kita membayar kesalahan kita pada wanita itu.


☆☆


Maru tiba dirumah sakit. Ia mengurus Maria dengan telaten. Menyuapinya dengan lembut. Mengobrol dengan santai.


“Maria, aku mohon kamu jangan kayak gini.” Maru memohon.


Mata Maria memerah, nafasnya terengah. Maru melihatnya langsung memeluknya.


“Kamu udah janji. Bakal temenin aku. Kamu mau ingkar janji lagi?” Mulai terisak.


“Bukan itu maksud aku. Aku gak bisa terus nemenin kamu. Sora juga nungguin aku di rumah.” Mengelus puncak kepala Maria.


“Waktu kalian lebih banyak, malam hari kamu tidur bareng dia kan. Siang hari kamu kerja. Terus kapan kamu jaga akunya?”

__ADS_1


Maru hanya berharap agar Maria cepat-cepat sembuh. Agar mereka bisa menyelesaikan apa yang terjadi diantara mereka dengan baik-baik.


Kalau ditanya kenapa gak sekarang? Mental Maria sangat kacau. Kemarin dia kembali berusaha melukai dirinya sendiri di ranjang rumah sakit.


Maru datang ke rumah sakit pada sore hari. Sesuai janjinya kepada Maria. Dia menemani wanita itu, menggenggam tangannya. Menatap wajah Maria yang pucat. Dia terus merasa bersalah. Suara notifikasi handphonenya mengalihkan pandangannya dari wajah Maria yang tengah terpejam.


Kamu kok belum pulang? Lembur?


Pesan dari Sora membawa dirinya beranjak dari ruangan melangkah jauh untuk pulang kerumahnya.


Kenapa dia merasa sedang selingkuh. Dia mencintai Sora. Tapi, dia juga harus menjaga Maria. Kali ini dia mengakui, kalau dia itu cowok paling brengsek.


Berhari-hari Maru bolak-balik menemui Maria dan pulang ke rumah menghabiskan malamnya dengan Sora. Maru dan Sora memang masih melakikan aktivitas sehari-harinya dengan biasa. Mereka tetao bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Karena memang itu keputusan dari keduanya.


Tapi meski begitu, bohong kalau keduanya tidak merasakan sakit. Terlebih saat ini mereka baru saja merasakan yang namanya saling jatuh cinta, saling mengasihi, saling mengerti.


Dan jauh dari lubuk hati mereka berdua ada rasa sesal yang terus muncul.


Apa keputusan aku benar dengan membiarkan Maru menjaga dan merawat Maria?


Apa dia ikhlas? Atau malah dia merasa terbebani? Sora terus menanyakan pada dirinya sendiri.


Apa keputusan aku benar? Apa Sora benar-benar ikhlas membiarkan aku menjaga Maria.

__ADS_1


Sebenarnya aku berharap, aku tidak usah datang lagi menemui Maria. Tapi, mau bagaimanapun aku harus tanggung jawab, dan Sorapun mendukungku.


__ADS_2