Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
44. Maria


__ADS_3

Maria terdiam diatas tempat tidurnya. Tatapannya begitu kosong. Entah apa yang ia pikirkan. Namun air matanya keluar dengan mudahnya begitu saja.


Dia menatap layar ponsel. Seolah dia menanti apa yang ia tunggu, namun tak kunjung membuahkan hasil.


Baru beberapa hari lalu dia keluar dari rumah sakit. Tapi, dia merasa tetap tidak mendapatkan kekuatannya kembali. Berulang kali dirinya mengirim pesan pada Maru, tapi tetap tidak ada jawaban.


Kenapa? Bukan ini maksud aku. Harusnya sekarang aku yang berada disisi Maru. Kenapa malah wanita itu.


Bodoh sekali orang-orang yang menyuruhku untuk cepat-cepat melupakan Maru. Mereka pikir aku bisa melupakannya hanya karena wanita yang baru beberapa saat masuk kedalam kehidupan kita? Dibandingkan dengan berapa lama kita menjalin hubungan.


Kenapa wanita itu harus hadir diantara kita? Aahh~~ benar juga. Aku yang meminta Maru untuk menikahi wanita lain, tapi seharusnya tidak sampai mencintainya. Cukup memberikannya status istri, tidak perlu masuk sampai hati.


Aku menyesal. Benar apa kata Maru. Aku memang ke kanak-kanakan. Bodoh. Selalu bertindak sesuka hati, tanpa memikirkan orang lain.


Apa salah jika aku masih mencintai Maru?


Sepertinya Maru juga masih mencintaiku. Tapi, laki-laki itu berkata, hari dimana dia membantuku untuk Kepulangan dari rumah sakit adalah hubungan terakhir kita. Aku masih belum bisa terima. Tidak bisa terima.


Maria bangkit dari tempat tidurnya. Ia menuju meja rias. Ia merias wajahnya yang cantik membuatnya semakin cantik.


Tttuuutt... tttuut...“Hello..., Sora?”


☆☆☆


Tampak dua wanita duduk berhadapan. Aura ketidak nyamanan terlihat sangat jelas. Keduanya berada di kursi depan halaman rumah Sora dan Maru.


“Gimana kabarnya?” Tanya Sora.


“Baik. Gimana kabar kamu?” Kembali bertanya.


“Aku juga baik.” Tersenyum tulus.

__ADS_1


“Terima kasih. Udah kasih waktu aku sama Maru. Waktu yang aku lalui beberapa saat itu cukup membantu aku. Membantu untuk bangkit lagi.” Dengan senyuman yang dipaksakan.


“Udah semestinya. Syukurlah, kalau kamu udah bangkit lagi. Harus tetap semangat.” Tidak bisa dipercaya, wanita ini malah memberi pesaingnya untuk semangat.


“Kamu bener. Aku harus tetap semangat. Kamu tahu? Selama Maru menjagaku di rumah sakit, dia terlihat masih mencintaiku.” Matanya menerawang ke depan.


“Dari mana kamu tahu kalau dia masih mencintai kamu?” Ingin menampiknya


“Dia begitu sangat telaten menjaga aku. Seperti saat kita masih bersama. Dia tidak berubah sama sekali.” Tidak tahu malu.


“Mungkin itu hanya sebuah kebiasaan. Karena kalian sudah lama saling mengenal. Atau mungkin rasa bersalah.” Ingin tetap mendekap Maru


“Benar. Dia merasa bersalah. Dia juga menyesal katanya.”


Sora merasa kenapa wanita ini Seolah-olah memprovokasinya.


“Kamu gak merasa bersalah sama aku? Karena kamu aku jadi begini?” Menoleh ke arah Sora, keduanya saling menatap.


“Aku merasa bersalah. Maaf.” Tentangnya


“Kalau kamu merasa bersalah. Tolong kembalikan dia. Kamu ceraikan dia. Atau enggak, .... aku rela dijadikan istri kedua.” Lebih Tidak tahu malu.


Air mata keluar dari mata bulat Sora.


“Maaf, mungkin selama ini kamu anggap aku cewek penurut. Aku bukan wanita seperti itu.” Memalingkan wajahnya


“Kamu bukan penurut. Tapi bodoh. Dan tidak tahu malu. Di sini seharusnya kamu tidak perlu bicara seperti itu. Kamu gak tahu malu, posisi kamu yang sekarang ini semuanya diatur aku. Mulai pernikahan, tidur, hamil. Itu semua aku yang atur....”


“Terima kasih... karena udah mengatur semua itu. Karena kejadian itu, aku jadi merasakan kenyamanan. Dan juga cinta.” Memotong pembicaraan Maria.


Sora menarik nafas begitu dalam.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu pulang. Sebentar lagi Maru pulang. Aku juga masih ada yang harus dibereskan.”


Tak lama, sosok Maru yang sedang dibicarakan muncul dengan mobilnya memasuki halaman rumah. Ia keluar dari mobilnya, didapatinya ada dua wanita yang membuat hidupnya bimbang.


Sora tersenyum melihat Maru. Ia hendak menghampirinya. Namun, kecepatan Maria jauh didepannya. Secara tubuhnya ringan, sedangkan Sora untuk bangun dari duduknya dia sedikit butuh waktu.


“Kamu udah pulang?” Sapa Maria seraya memeluk Maru. Maru memandang Sora yang terdiam tanpa ekspresi.


“Kamu ngapain disini?” Maru melepaskan pelukannya dengan lembut.


“Aku cuman berterimakasih sama istri kamu, udah mengizinkan suaminya merawat wanita lain yang dicintainya.” Menggoda Maru.


“Kamu apaan sih... Aku kan udah bilang...”


“Anterin aku pulang.” Memotong pembicaraan Maru.


Sosok Sora tidak tahan melihat keduanya memilih untuk masuk kedalam rumah.


“Kamu pulang aja sendiri.” Matanya tajam menusuk bola mata Maria.


Maria hanya cemberut, melihat Maru berlari masuk kerumahnya. Ia tidak putus asa, mengikuti langkah Maru masuk kerumah yang bukan rumahnya.


Di hadapannya terlihat Maru yang memeluk Sora dari belakang dengan tangan memegangi perut buncitnya, sembari menciumi pundak dan lehernya.


“Kamu jangan marah.” Maru terus mengecup Sora yang tengah menyiapkan masakan untuk makan malam.


“Aahh... siapa yang marah... udah sana anterin dulu.” Keluh istrinya itu.


“Aku mohon, jangan suruh aku buat anterin dia. Aku pengen di sini sama kamu.” Kini tangannya meraih wajah Sora , yang hampir tertutupi oleh tangannya yang besar dan mengecup bibirnya.


Maria terbakar api cemburu. Dia pergi dari rumah itu dengan berbagai rasa kekesalan menyelimuti.

__ADS_1


__ADS_2