
Maru tiba dirumahnya, dia mendapati istrinya baru selesai membersihkan dirinya dengan handuk kecil yang masih dia pegang.
Sora menyambut kedatangan Maru dengan memalingkan wajahnya dan segera menutup pintunya dengan sangat keras. Maru mengacak-acak rambutnya seraya berjalan ke kamar mandi. Mungkin setelah mandi, dia akan sedikit tenang.
Setelah mandi dia akan mengajak istrinya makan terlebih dahulu sambil membicarakan apa yang telah terjadi. Namun, dia kaget bukan main melihat istrinya membuka pintu kamarnya sendiri keluar dengan koper dikedua tangannya. Maru menahan istrinya itu.
“Ngapain lo, mau kemana?” Tidak digubris oleh Sora yang berusaha lepas dari Maru.
“Kita omongin dulu semuanya. mau kemana malem-malem gini?” masih terus menahan Sora.
“Aku mau pulang ke Ibu. Aku mau jelasin semuanya ke Ibu tentang perceraian kita. Ini surat cerainya biar aku aja yang urus.” Memperlihatkan kertas surat permohonan cerai yang ternyatasudah dia ambil dari kamar sang suami.
Maru langsung merebut kembali kertasnya dan merobek kertas-kertas itu. Sora hanya menganga, tidak percaya apa yang saja dia lihat.
Maru membawa kembali semua barang-barangnya kedalam kamarnya dan memasukkan kembali semua barang-barang yang telah dia kemas ketempat semula dengan asal.
“Gue gak mau cerai ama lo. Gak bisa gue.” Tangannya sibuk membereskan barang-barang Sora.
“Perceraian kita akan lebih mudah. Karena gak ada yang tahu kehamilan ini. Kalau kita cerai setelah anak aku lahir, pasti sedikit rumit. Mending sekarang aja.” Karena emosi, tak mau kalah Sora merebut semua barangnya kembali.
__ADS_1
“Gue bilang gak, ya enggak. Itu keputusan gue.” Sedikit meninggikan nada bicaranya, Maru menatap Sora dengan marah.
“Dasar egois, semuanya harus terserah kamu. Kenapa kamu gak pernah dengerin aku?” memukul dada Maru dengan sangat keras.
Maru hanya menerima nya, dia telah dipukuli oleh dua wanita hari ini.
Tiba-tiba Sora memohon dengan berlutut.
“Aku mohon, lepasin aku sekarang. Aku udah punya rencana sendiri buat hidup aku. Aku gak mau cerai setelah anak aku lahir. Aku gak mau kamu ambil anak aku, aku gak mau kalian hidup bertiga dengan anak aku. Aku mohon. Kamu bisa punya anak lagi kan dari wanita itu... please..” Menangis dengan kerasnya.
Maru terkejut apa yang baru saja di dengarnya. Selama ini hal seperti ini yang dia takutkan, dia takut akan ditinggalkan oleh keduanya. Oleh Maru dan juga oleh anaknya yang bahkan belum terlahir keduanya ini.
“Hei.. hei... gak ada yang bakal ambil anak lo, anak kita. Lo jangan berpikiran begitu. Maafin gue, bukan itu maksud gue. Gue janji gak bakal ninggalin kalian berdua. Gue... gue cuman gak mau cerai sama lo.” Seraya menyeka air mata Sora.
Namun Sora kembali berontak sambil menangis dengan kerasnya.
“Pembohong, kamu pembohong. Dari awal kamu bohongin aku.”
Maru menjauh dari Sora karena dia merasa Sora yang berontak melakukan gerakan yang membahayakan untuk istrinya dan juga janin dalam kandunganya itu.
__ADS_1
"Kamu pikir aku gak tahu rencana kamu sama pacar kamu itu. Semua yang kamu lakukan selama ini hanya karena semata-mata cuman nurutin apa kata dia. Dari mulai nikah, kamu nidurin aku, aku hamil, sampe cerai... kamu pikir aku gak tahu.. hah?" Emosi Sora meledak, yang mana selalu ia pendam.
"Gue gak tahu lo ngobrol apa sama Maria. Tapi, gue bisa jelasin semuanya. lo jangan cuman denger satu pihak doang.. lo juga harus dengerin gue dulu..." Maru berdiri tidak terlalu dekat, namun tangannya berusaha menyentuh Sora yang sudah pastinya mendapatkan penolakan.
"Gak perlu dijelasin. Aku udah denger semuanya sendiri. Aku udah denger dari mulut kamu sama mulut dia sendiri..."
"Sora lo tenang dulu.. okay.. gue minta maaf. lo harus hati-hati, inget lo lagi hamil..." Maru terus mengingatkan Sora yang masih uring-uringan.
Sora mulai tenang, dia masih duduk dilantai dengan tangisan yang kini lebih tenang. Dia termenung cukup lama dengan Maru yang masih tetap menemaninya, hatinya terasa diiris melihat wajah Sora dengan intens yang masih segukkan menangis.
Ketika hendak berdiri tubuhnya oleng. Maru dengan sigap memeluk tubuh mungilnya, dan membaringkannya ke tempat tidur secara perlahan.
Maru semakin panik, tak bisa menahan, dirinya menitikkan air mata.
“Lo gak apa-apa? Apa yang sakit?” air matanya semakin bertambah
“Kepala aku sakit.” Suaranya semakin lemah.
Maru bergegas mengambilkan air minum. Setelah memberikan seteguk air, ia membelai ujung kepala Sora. Dia benar-benar merasa sangat sangat bersalah, bagaimana tidak meskipun mata Sora sudah terpejam tapi ia masih segukkan menagis. Maru kembali memikirkan kembali, apa Keputusannya tepat? atau ini semua egois?
__ADS_1
🙏🙏🙏