
Kini penumpang dalam mobil yang dikenakan Maru bertambah satu, menjadi empat orang. Maria duduk bersebelahan dengan Zaenal. Tatapan matanya benar-benar kosong, mulutnya terus bergumam. Entah apa yang ia gumamkan, ia hanya bergumam dwngan suara yang sangat pelan. Sesekali mata kosong Maria melirik Maru yang tengah mengemudikan laju kendaraannya. Zaenal memperhatikan gerak gerik Maria.
Pikiran negatif dan berburuk sangka dalam diri Zaenal pada seorang Maria masih ada. Dia khawatir, kalau Maria hanya berakting stress agar bisa bersama kembali bersama Maru. Mengingat bagaimana perilaku Maria yang bahkan tega memporak porandakan kehidupan Maru dan Sora, kemungkinan besarnya di masa kini pun Maria akan melakukan hal yang sama.
Sesampainya di kediaman Maru dan Sora, ketiganya membawa Maria kedalam rumah yang pasangan suami istri itu tempati. Ketiganya duduk dengan mata yang tidak bisa mereka alihkan dari sosok Maria yang terus bertingkah aneh dengan tatapan yang kosong.
"Kalian yakin Maria bakal tinggal di sini?" Zaenak memecah keheningan yang terjadi sesaat.
Tidak ada jawaban dari keduanya. Maru bingung apa yang harus ia putuskan. Kemarin-kemarin dia meminta Sora untuk selalu memutuskan sesuatu bersama dengan dirinya, tapi sekarang, pada kenyataannya dia tidak bisa mengambil keoutusan itu. Bahkan keputusan yang sudah ia ambilpun, terbesit rasa takut pada diri Maru.
Begitupun dengan Sora. Yang Kemarin-kemarin selalu mengambil keputusan sendiri, ia tidak bisa berkutik saat ini. Bukan karena keadaan Maria yang menjadi aneh, tapi rasa takut kehilangan Maru melanda Sora. Tiba-tiba Sora merasa khawatir dengan keadaan sekarang, dimana ada Maru dan Maria.
Karena tidak ada jawaban dari keduanya, Zaenal memberikan saran kepada keduanya.
"Lebih baik, untuk situasi sekarang kalian berdua jangan ambil keputusan kalian berdua doang. Kalian harus minta izin sama keluarga masing-masing. Kalian bicarakan baik-baik, alasan kalian atau apalah itu." Zaenal beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" Sora menahan Zaenal.
"Aku harus pulang lah.. aku pikir aku udah selesai disini." Zaenal berbicara dengan posisi sudah berdiri.
"Jangan pergi dulu..." Pandangan Sora terhalang oleh air mata yang ia tahan.
Zaenal menatap mata Sora yang berkaca-kaca. Zaenal memeluk Sora. Itu yang Sora butuhkan sekarang. Zaenal mengangguk tanda setuju dia tidak akan pulang, pergi meninggalkan ketiganya terlebih dahulu.
__ADS_1
Untuk malam itu, Maru dan Sora memutuskan untuk membiarkan Maria dan Zaenal tidur di rumah yang mereka tempati. Meskipun penginapan sedang kosong. Maria tidur di kamar kosong, khusus untuk tamu, sedangkan Zaenal memutuskan sendiri untuk tidur di sofa depan televisi. Dan tentu saja, Maru dan Sora tidur di ruangan yang setiap hari mereka tempati.
"Sayang... apa keputusan kita benar? Apa kamu akan baik-baik saja?" Maru bertanya seraya memluk istrinya.
"Aku gak tahu. Aku merasa jadi wanita yang paling jahat di dunia." Suara Sora terdengar bergetar oleh Maru.
"Kenapa kamu nangis? Kalau keputusan kamu udah berubah aku bakalan ikutin kamu. Sebelum semuanya terlalu jauh." Maru membalikkan tubuh Sora yang membelakanginya menjadi saling berhadapan.
"Aku... aku merasa iba, aku kasihan sama keadaan Maria sekarang. Tapi, aku jadi khawatir. Gimana kalau kamu bakalan ninggalin aku, dan kembali sama Maria... kamu tahu sendiri aku.. gara-gara aku... kamu.." Suaranya semakin hilang seiring dengan tangisnya.
"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang bakal ninggalin kamu? Kalau aku niat ninggalin kamu, aku gak bakal nyari kamu dari dulu. Aku bakal ninggalin kamu pas kamu juga ninggalin aku." Maru menatap dalam mata Sora yang berurai air mata.
"Satu hal lagi... ini semua bukan gara-gara kamu. Gak ada yang salah kok. Jangan nyalahin diri sendiri lagi. Apalagi nyalahin cinta kita." Maru semakin erat memeluk tubuh mungil Sora.
Batin Maru merutuki kesalahan dirinya sendiri.
Tengah malam, Zaenal terbangun karena suara langkah dan suara gumam wanita mengganggu telinganya. Zaenal mencari sumber suara, di dapatinya Maria yang tengah berjalan mondar mandir di depan pintu kamar yang ia tempati. Zaenal menghampirinya.
"Ngapain lo mondar-mandir di sini?" Suara dingin Zaenal menghentikan pergerakan Maria.
"Toilet... lapar... toilet.. lapar..." Hanya kata-kata tersebut yang keluar dari mulut Maria.
Zaenal menunjukkan kamar kecil yang ada di rumah tersebut, namun Maria hanya tersenyum dengan tatapan kosong. Akhirnya Zaenal menuntun Maria menuju kamar kecil. Zaenak menunggu di depan kamar kecil.
__ADS_1
Maria keluar dan kembali bergumam bahwa dirinya lapar.
Zaenal menuntun Maria ke ruang makan. Zaenal membuka pendingin untuk mencari sesuatu yang bisa dia berikan pada Maria, layaknya pemilik sang rumah. Yang bisa ia berikan hanya buah-buahan. Maria yang menerima langsung tersenyum dan menyantap buah apel yang ada di tangannya itu.
"Gue nanya sama lo. Lo gak lagi pura-pura lan?" Zaenal bertanya dengan sangat lugas pada Maria yang kini keduanya sama-sama duduk.
Maria terdiam menatap Zaenal sesaat, dan kembali memakan buahnya.
"Kalau lo cuman pura-pura doang, hentikan sekarang juga." Zaenal memperingati Maria.
"Kamu... Zaenal?" Tiba-tiba Maria mengingat sosok yang sedari tadi ia tidak ingat itu.
"Bener, kamu Zaenal. Kamu ngapain di sini? Kamu lagi ada perlu sama Maru?" Mata Maria berbinar.
"Iya, gue ada perlu sama dia." Zaenal menanggapi ucapan Maria.
"Ada perlu apa? Ngomong-ngomong aku sama Maru baru pindah ya? Rumahnya kok asing.. Maru mana?" Maria tiba-tiba kebingungan.
"Kenapa lo sama Maru harus pindah?" Zaenal terus menanggapi.
"Sssttt... jangan bilang siapa-siapa ya... sebenarnya aku sama Maru udah nikah. Maru kan udah cerai sama Sora.." Tiba-tiba Maria tersenyum bahagia.
Zaenal menghela nafas dengan kasar. Ia menemani Maria menghabiskan apel yang, dan memastikan bahwa Maria telah tertidur kembali.
__ADS_1