
Maru tiba terlebih dahulu, tak tampak Sora dirumahnya. Ia mengerutkan keningnya. Padahal yang pertama melajukkam mobilnya adalah Zaenal, kenapa masih belum sampai? Pikirnya.
“Hello... Sora. Kamu masih dimana?” Tanayanya sedikit ketus.
“Ini masih dijalan. Kamu udah sampe rumah? Tunggu sebentar lagi sampai. “ Sora mematikan panggilannya.
Maru menunggu di kursi teras depan rumahnya, tampak mobil memasuki halaman rumahnya, mobil yang ia kenali pemiliknya. Zaenal turun dari mobilnya dan hendak membuka pintu untuk Sora. Namun, Maru melangkah dengan kaki panjangnya yang kini telah membuka pintu untuk istrinya.
Zaenal menatap tajam, begitupun sebaliknya.
Sora turun dari mobil dan melangkah perlahan dipapah oleh Maru. Zaenal mengeluarkan barang bawaan Sora dan meletakkannya di kursi.
“Makasih ya...” Sora tersenyum ceria
“Sama-sama. Aku pulang dulu ya..” tersenyum dan melambaikan tangan kearah Dora.
Maru terlihat kesal karena istrinya membalas lambaian tangannya dengan senyum yang sangat lebar.
Mereka berdiri di teras sampai mobil Zaenal hilang dari pandangan keduanya. Keduanya memasuki rumah dengan barang bawaannya.
“Kamu dari mana dulu? Kok bisa sama Zaenal?” pura-pura tidak tahu.
“Aahh.. tadi aku mampir dulu ke restorannya, beli makan. Biar gak masak. Aku capek.” Menampilkan wajah manja.
“Ini... apalagi kok banyak banget barang kamu? Boneka?” Masih pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Tadi kita main game. Terus dapet ini. Zaenal hebat banget emang dari dulu. Lihat lucu, kan?” Memamerkan salah satu bonekanya dan juga foto yang diambil.
“Kamu ketemu Zaenal dimana emang?” apa mereka sengaja buat janji? Cemburu tetap belum mereda.
“Aku kan janjian sama temen aku di mall G, tapi temen aku pulang duluan. Eh, ketemu Zaenal, jadi kita berdua maen dulu deh.” Terus memainkan boneka-boneka.
Dia bicara seadanya. Dia jujur. Apa aku juga harus mengatakan tentang tadi siang? Aku takut dia sakit hati. Pikiran Maru terus gundah gulana, tentang saling terbuka.
“Giman ketemu clientnya? Lancar? Makan siangnya dimana? Enak gak makanannya?” Ekspresi wajahnya sedikit menurun.
“Lancar. Di restoran sebelah mall yang kamu datengin.” Sedikit gugup.
“Eehh.. masa? Tahu gitu tadi siang aku ikut kamu makan bareng. Kamu tadi mampir dulu gak ke mall? Soalnya tadi aku liat cowok mirip kamu lagi belanja sama cewek. Client kamu cewek?” Sora mengarang.
Bohong. Kamu bohong. Brengsek. Hati Sora mengumpat suaminya.
“Kamu seneng banget apa? Dapet mainan boneka ini? Dari tadi senyum terus. Apa karena bareng Zaenal?” Menampakkan kecemburuan.
“Seneng banget aku. Udah lama gak maen kayak gitu lagi. Kebanyakan kan aku di rumah terus.” Sengaja sedikit memanasi Maru.
“Aku kan udah bilang. Aku gak tenang kalau kamu..”
“Aahh.. mulai lagi. Dia temen aku. Kamu cemburu banget sih ama Zaenal.” menyanggah Maru yang mulai Menampakkan rasa kekesalannya.
Kamu pikir cuman kamu yang cemburu? Yang aku rasakan sekarang lebih dari cemburu, aku sakit hati. Aku pengen pukul kamu. Aku pengen caci kamu. Hati Sora begitu bergejolak.
__ADS_1
Maru memeluk Sora dan mengecup bibirnya.
Kotor, bibir aku ikut kotor.
Sora mengusap bibirnya.
“Kamu barusan.... aku cium kamu.. tapi kamu, kamu usap?” melotot dan kembali mengecup bibir Sora bertubi-tubi. Sora tertawa sembari berjalan menuju kamar mandi.
Sora terus mengusap bibirnya dibarengi air mata bercucuran.
Setelah keduanya bersih-bersih mereka makan malam bersama.
“Jangan lupa lusa, aku bakalan buat kamu lebih baik dari hari ini. Kita belanja sepuasnya, main game sepuasnya.” Mengingatkannya. Lebih tepatnya menunjukkan rasa cemburunya.
Keduanya telah terbaring di ranjang dengan menerawang pikiran masing-masing. Sora tidur membelakangi Maru. Ia yang mulai tersadar membalikkan tubuh Sora dan memeluknya dengan erat. Namun Sora kembali melepaskannya.
"Sesek nafas aku..." Sora mengeluh. Memang, terasa sangat sesak... bukan hanya nafas, dadanya begitu perih.
Maru memandangi wajah Sora dengan sangat intens, dan tidak bisa menahan godaan, ia kembali menciumi bibir Sora. Sembari meracau...
"Aku tetep gak bisa liat kamu sama Zaenal...." Nafasnya tersenggal.
Sora kembali menampik gerakan-gerakan suaminya, yang membuat Maru sedikit kesal.
"Aku capek... nanti aja lagi..." Sora memeluk Maru, mnenggelamkan wajahnya di dada suaminya yang bidang.
__ADS_1