Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
18. Cemburu II


__ADS_3

Diperjalanan Maru langsung berbicara seadanya


“Lu kan udah nikah, kalau dilihat orang gimana? Bakal salah paham. Kalau lu mau kerumah Zaenal, seenggaknya ajak gue lah.” Pintanya.


“Ngapain dengerin orang. Toh aku kesana bukan buat macam-macam.” Jawabnya simple.


Maru semakin kesal karena Sora terkesan biasa saja, padahal dia merasa tidak terima sebagai suaminya.


Sesampai dirumahpun, mereka berdua tidak berbicara sepatah katapun. Maru hanya terheran. Dia merasa bahwa istrinya itu mulai terus menghindarinya.


Terlihat oleh Maru pesan masuk sari Zaenal di handphone istrinya itu.


“kamu udah sampe? Makasih ya buat hari ini.”


Maru mulai menarik nafas. Dia minum segelas air dengan cepat, dan menenggak obat herbal yang biasa dia konsumsi. Dia merasa, apa ini kesempatannya, untuk mengatakannya. Dan mulai terus terang kepada istrinya itu.


“Ayah lihat lu masuk rumah Zaenal. Makannya gue begini. Bukan maksud gue ikut campur.” Jelasnya.


“Terus kenapa kamu gak bilang seadanya ke Ayah kamu. Emang kamu bilang apa sampe harus susulin aku gitu. Udah gitu raut muka kamu itu gak enak banget diliat.” Celetuknya


“Lo kok kayaknya semakin deket aja ama Zaenal?” tanyanya


“ udahlah aku gak mau ribut .” Dia meninggalkan suaminya itu dan bergegas mandi.


Ketika membersihkan badannya itu, Ia mulai menangis. Dia kembali mengingat ucapan keduanya. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua.


Dia baru tahu kalau Maru dan Maria masih berhubungan tanpa memberitahunya. Setidaknya dia juga diberitahu. Dia mulai merasa aneh. Kenapa dia harus sedih. Dia menyangkalnya, dia marah bukan sedih. Maru aja marah aku terus mengunjungi Zaenal. Sorapun sudah sepantasnya sama begitu.


Setelah selesai mandi, dia langsung menuju kamarnya dan kini Maru yang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dengan masih kesal Sora tetap menyiapkan pakaian suaminya seperti rutinitas biasa, dan menaruhnya diatas tempat tidur dikamar Maru.


Tanpa sengaja dia melihat notifikasi pesan dari Maria. Tapi dia enggan untuk sekedar membaca tulisan yang terlihat.

__ADS_1


Terdengar langkah suaminya memasuki kamarnya, dia langsung berpaling keluar. Tanpa dia sadari, handphonenya jatuh di kamar suaminya itu.


Maru tersadar handphone istrinya jatuh dikamarnya. Dan terlihat pesan dari Zaenal lagi.


Kamu gak apa-apa?


Aku khawatir, kalian baik-baik aja kan?


Kenapa kamu gak bales pesan aku terus?


Maru lagi-lagi terganggu dengan pesan temannya itu yang penuh dengan perhatian.


Terdengar suara ketuk pintu dari luar kamarnya.


“Ada handphone aku gak di dalem?” suara kecilnya terdengar samar.


Pria itu langsung membuka pintu dan membiarkan istrinya itu untuk mengambil handphonenya sendiri.


“ Dia khawatir tuh sama lu. Hubungan kalian sampe mana sih sebenarnya? Biar gue bisa hati-hati sama kalian berdua atas tindakan dan ucapan gue.” Dengan sedikit nada yang tidak mengenakan.


“Kenapa kamu banyak tanya sih? Dan kamu tahu gak? Kamu tuh udah ikut campur urusan aku banget, tahu. Aku juga fine aja kan sama hubungan kamu sama Maria. Kok kamu sewot amat Cuma liat aku ama Zaenal doang!” Jelasnya.


Maru sama-sama tidak terima dan mulai menarik wanita itu kembali kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras.


“Bukannya gue ikut campur ! Gue Cuma pengen kalian berdua berhati-hati dengan hubungan kalian berdua. Kalau-kalau ada orang yang curiga gimana? Terlebih Ayah udah liat lu masuk rumah Zaenal, kan?” sedikit meninggikan nada bicaranya.


“Aahh.. kamu kasih nasihat buat aku. Okay, aku juga kasih nasihat buat kamu. Kamu juga harus hati-hati dengan Maria. Karena ada temen kerja aku juga yang liat kalian berdua. Tapi, untungnya aku bisa atasinya. Gak ribet kayak kamu.” Balasnya yang juga ikut meninggikan nada bicaranya.


“ Toh aku ama Zaenal tidak ada hubungan apa-apa. Aku bantuin dia cuman sebagai teman. TEMAN. Gak ngapa-ngapain kita, gak ngelakuin hal yang aneh. Lha kamu,,?” kembali nyerocos dengan terlihat sedikit air matanya berlinang.


Melihat istrinya begitu Maru langsung memegang wajahnya sang istri dan mencondongkan wajahnya ke arah wajahnya wanita itu, seakan akan menciumnya. Namun, dia kembali berhenti dan menatap wajah gadis itu.


“ Kenapa? Kamu gak sanggup lagi kan buat cium aku. Kamu begini ke aku cuman untuk pelarian dari Maria , kan? Aku cuman dijadiin alat sama kamu.. aku..”

__ADS_1


Belum sempat dia menyelesaikan kata-kata, Maru langsung ******* bibir Sora dan mendorongnya berbaring keatas ranjang dengan sedikit kasar.


Sora berusaha untuk berontak, namun apa daya. Tenaga suaminya berkali-kali lipat lebih besar darinya, sehingga tubuhnya terkunci oleh suaminya itu.


Maru memegang kedua tangan istrinya itu kearah atas dan tangan satunya mulai menjelajahi tubuh wanita itu.


Sora sedikit kaget, dia ingin berteriak. Tapi dengan ciuman yang dilayangkan Maru, membuat mulutnya sulit untuk berkata-kata. Maru mulai membuka kancing baju Sora, begitu dengan yang lainnya sampai tanpa sehelai benangpun.


Tangannya mulai turun ke setiap lekukan tubuh wanita itu. Sora semakin menegang karena ada yang menyentuh tubuhnya, terutama daerah sensitifnya. Maru mulai sedikit melonggarkan istrinya dan membuka bajunya sendiri.


Dikesempatam itu Sora langsung bangun dan berusaha untuk melarikan diri. Namun, pinggangnya dirangkul pria itu dan kembali terhempas keatas ranjang. Dan kembali mengunci tubuh mungilnya.


Tiba-tiba suara getar handphone Sora membuatnya menghentikan aktivitasnya. Telihat nama Zaenal di layar handphone. Laki-laki itu menelepon istrinya, gumamnya. Dia melirik istrinya yang sedikit terkulai lemah berusaha untuk bangkit.


Maru langsung membalikkan handphonenya dan berniat menutup panggilan telepon itu. Namun, yang dia tekan adalah tombol terima. Dan dia kembali menindih istrinya.


Istrinya mulai terdengar merintih, entah rintihan sakit apa nikmat. Ia tidak menggubrisnya, apa ini yang sering mereka lakukan? Batinnya berkata, dan langsung melakukan aksinya tanpa aba-aba.


Wanita itu menjerit kesakitan dan berurai air mata, dengan tangannya mencekram seprai. Maru sedikit kaget, karena teriakannya yang sangat keras. Lalu dia mengangkat tubuhnya itu dari atas istrinya. Terlihat darah segar keluar dari tubuh bagian bawah istrinya.


“Aaahh.. sakit.. sakit banget.” Rintihnya.


“Ini yang pertama kalinya buat dia.” Gumamnya sedikit kaget. Tapi pikir dia, karena suudah terlanjur begini, lebih baik meneruskan aktivitasnya itu.


Dia kembali menciumi bibir, leher, dada dan seluruh lekukan tubuh istrinya yang terkulai lemah dan mengeluarkan suara rintihan dan menggeliat. Rintihan itu membuat Maru semakin bersemangat dan mulai membisikan sesuatu ketelinga wanitanya itu.


“Sorry, gue gak tahu ini yang pertama kalinya buat lo.” Tandasnya dan mulai melakukan aksinya kembali ke tubuh mungil wanita.


Istrinya kembali berteriak, dan menangis kembali. Maru langsung mencium bibir istrinya dengan lembut. Dan memaju mundurkan tubuhnya ke tubuh istrinya itu perlahan. Kini terdengar suara rintihan sakit yang bercampur nikmat di telinganya.


Suara ******* dari mulutnya dan tubuh wanita yang menggeliat itu, semakin membuat pria itu bersemangat. Dan irama tubuh Maru semakin bertambah cepat.


Sampai Maru mencapai klimaksnya dan mulai memeluk erat tubuh wanita itu sembari berteriak kecil, dan keduanya terkulai lemas dengan keringat yang bercucuran.

__ADS_1


Hanya ada keheningan diantaranya. Maru langsung memeluk wanita dengan menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk istrinya. Dengan masih tanpa kata, keduanya masih merasakan kelelahan. Maru mematikan lampu meja, Dan keduanya mulai tertidur lelap.


__ADS_2