
Dipagi hari yang sedikit berbeda, Maru menyantap sarapan bersama Sora yang terus menatap penginapan yang dihuni oleh Maria. Tampak Maria yang juga tengah menyantap sarapan yang dia siapkan sendiri.
"Kamu tahu... Aku gak tahu perasaan aku kayak gimana sekarang. Di satu sisi aku kesal karena Maria sekarang ada di sini. Di sisi lain aku merasa kasihan, karena dia benar-benar berbeda dengan Maria yang dulu, karena kita..." Sora lagi-lagi menggerutu yang membuat Maru kesal.
"Sayang, aku bilang apa? Stop omong kosong kamu.... Pikirkan kita aja, jangan mikirin siapapun lagi. Kamu ingat kamu harus jaga kesehatan, aku liat kamu pucat banget sekarang. Kamu gak apa-apa kan?" Maru menatap khawatir dengan wajah Sora yang terlihat sangat pucat.
"Aku gak apa-apa, aku cuman sedikit pusing aja. Kamu gak usah khawatir." Sora meyakinkan Maru tentang keadaannya.
Maru beranjak pamit untuk pergi ke kantor. Ia menciumi Sora yang masih duduk di kursi yang mengelilingi meja makan.
Tanpa keduanya sadari, seorang Maria tengah mengamati gerak-gerik keduanya dari bangunan yang ada di depan rumah keduanya. Maria tersenyum kecut, namun diakhiri dengan tawa ringan.
Melihat Maru yang beranjak dari kursinya, Maria ikut beranjak. Dia beranjak menuju luar penginapan. Dia menyapa Maru yang sedang berjalan melewatinya.
"Pagi Maru.. kamu mau kemana?" Tanya Maria yang memang tidak tahu tujuan Maru.
"Pagi... Aku mau ke kantor... Kalau gitu aku pamit." Maru menampilkan senyuman ramah.
Maria hanya ikut tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Sora yang masih duduk, melihat pemandangan Maru dan Maria yang saling bertegur sapa, membuatnya merasa sedikit khawatir. Namun, ia segera menepis perasaannya, perasaan yang menurutnya sangat egois.
Setelah Maru berada di dalam mobilnya, dia sedikit termenung. Maru merasa tidak enak hati dengan keadaan dan suasana yang tengah menderanya.
Meskipun mulut selalu berkata untuk tidak memikirkan orang lain kepada Sora, terutama kepada Maria. Tapi, didalam lubuk hati Maru, ia pun merasakan hal yang sama dengan Sora. Namun, Maru tidak ingin Sora terus memikirkan hal-hal yang aneh yang hanya akan membuatnya stress.
Apalagi ia melihat wajah Sora yang terlihat lebih pucat.
Sepeninggal Maru ke kantor, Sora melanjutkan aktivitasnya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya menggema di ruangan Sora berada. Sora segera membuka pintu, dan didapatinya Maria yang tersenyum di depan pintu.
"Kamu sibuk gak, Sora?" Maria mempertahankan senyuman ramah yang ia pancarkan.
"Aku agak bosen sendirian. Mau gak kamu ajak aku jalan-jalan di sekitar sini?"
Sora menatap Maria, namun semua rasa khawatir dan kecurigaan terhadap Maria hilang semua. Ia menganggukan kepalanya tanda ia setuju untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar sana.
Pantai menjadi tujuan keduanya. Keduanya berjalan santai dengan rambut yang tertiup oleh angin laut.
Tidak ada obrolan penting diantara keduanya. Hanya obrolan ringan yang mereka bicarakan, topik tentang kehidupan yang selama ini mereka jalani masing-masing. Sudah tidak ada kata-kata yang saling menyakitkan seperti dahulu yang pernah mereka alami.
__ADS_1
Maria bertanya tentang keadaan Sora yang terlihat sedikit pucat, Sora hanya menggelengkan kepala tanda dia merasa baik-baik saja.
Keduanya kini duduk santai di tepian Pantai.
"Aku seneng banget kalian berdua hidup dengan bahagia sekarang. Aku juga sudah menerima semuanya, jadi kamu jangan pikirkan semua perkataan aku kemarin. Karena semuanya hanya masa lalu." Maria mencoba memberikan penjelasan agar tidak ada kesalah pahaman kembali.
"Aku mengerti. Kamu juga gak usah khawatir apa-apa. Sekarang kita bisa jadi teman, kalau kamu mau." Sora tersenyum tulus.
Maria menatap Sora yang lebih pendek dari dirinya itu.
"Kamu yakin baik-baik aja? Kamu keliatan lagi sakit banget kayaknya." Maria kembali memastikan keadaan Sora.
"Aku baik-baik aja, gak usah khawatir. Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku bilang kita bisa jadi teman, kalau kamu mau. Gimana?" Sora kembali bertanya.
"Aku mau berteman sama kamu. Kita bisa aja jadi teman. Tapi kamu harus ingat, disini bukan hanya ada kita berdua saja. Ada Maru, dan juga orang-orang yang tahu tentang masa lalu kita, termasuk teman-teman kamu. Siapa tahu mereka gak akan setuju kalau kita berteman. Iya gak?"
Sora menatap mata Maria begitu dalam, Sora merasa Maria bukan hanya jalan hidupnya yang berubah. Tapi, jalan pikirannya juga berubah, ia merasa Maria lebih dewasa dibandingkan Maria yang dulu.
Keduanya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, ketika berdiri kepala Sora yang terasa sangat berat membuatnya oleng. Dan akhirnya Sora tumbang, ia pingsan tepat di depan mata Maria.
__ADS_1
Maria yang panik langsung mencari pertolongan untuk Sora yang menutup mata tak sadarkan diri.