
“Kalian ngapain hey...” Tanya Langit. Tanpa ada jawaban kedua kakak beradik itu menunjuk ke arah Sora yang tengah dipeluk seorang pria. Langit menghela nafas berat
Maru terus menahan Sora, ia hanya ingin mengajak mantan istrinya itu berbicara empat mata barang sebentar saja. Langit yang tidak tahan melihatnya, menghampiri keduanya.
“Tolong lepaskan dia.” Ucap Langit dengan tegas.
“Tolong jangan ikut campur urusan kita. Ada hal yang harus kita bicarakan.” Tak kalah tegas.
“Tapi kelihatannya dia menolak anda. Jadi tolong lepaskan tangannya.” Menarik Sora.
Kedua tangannya ditarik kanan kiri oleh kedua pria yang terus saling menusuk tatapan tajam. Keduanya tersadarkan oleh suara Sora yang meringis kesakitan karena genggaman kedua pria itu, yang akhirnya dilepaskan.
Tanpa berkata-kata Sora meninggalkan keduanya begitu saja. Langit berlalu menyusul Sora. Ia buru-buru meninggalkan tempat itu.
“Sora. Itu.. si..” Belum selesai Mbak Santi berbicara, Sora langsung menyanggahnya.
“Maaf Mbak, aku mau pulang. Duluan Mbak.” Matanya bengkak merah.
Langit menarik Sora dan segera memakaikan helmnya.
“Ayo naik.” Ajaknya.
Tanpa pikir panjang Sora menaiki sepeda motornya. Diperjalanan tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Hanya suara isak Sora yang terdengar.
“Langit, kita berhenti dulu ya disana. Dipinggir jalan itu.” Pintanya
Langit menepikan sepeda motornya di pinggir jalan dengan pembatas jalan membentang memisahkan daratan dan lautan. Sora dan Langit turun dan berdiri menahan tubuhnya pada pagar besi itu menatap langit sore berwarna merah.
“Dia orangnya? Bayangan masa lalu kamu itu?” Tanya langit. Sora menjawab dengan senyum tipis.
“Indonesia luas. Banyak tempat yang cantik. Kenapa harus kesini?” Jawaban Sora yang tak lain seperti bicara sendiri itu sudah memberikan kejelasan kepada Langit tentang siapa laki-laki tadi itu.
“Untung besok aku libur. Kasih tahu Mbak Santi atau siapa pun kalau laki-laki itu tanya-tanya aku, gak usah dijawab. Nomor aku, alamat aku gak usah dikasih tahu.” Pintanya
__ADS_1
“Kamu mau melarikan diri lagi? Bener apa kata kamu, sekarang kamu keliatan sedikit.. pengecut?” Langit memberikan pernyataan tapi dengan nada pertanyaan.
“Kamu bener. Aku emang pengecut. Terus aku harus gimana?” Sora meminta saran
“Temui dia. Ngomong baik-baik apa mau kamu dan apa mau dia. Kalian pasti nemu titik tengah.” Saran Langit.
“Kamu bener. Aku jangan jadi pengecut lagi yang terus menghindar dari dia. Dari kemarin aku menghindari dia terus. Besok aku mau menyelesaikan semuanya.” Penuh percaya diri.
“Besok?” Tanayanya lagi
“Iya, besok. Dia pasti malam ini nginep lagi disana. Pasti bakal masih nungguin aku.” Dengan yakin.
Langit mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Dan membukanya dihadapan Sora. Terlihat kalung dengan liontin berbentuk awan, bulan, bintang, matahari yang terbuat dari kulit kerang.
“Wwwwaaahhh... Ini kamu yang bikin?” Tanya Sora takjub. Langit mengangguk pelan.
“Bagus banget... apa artinya ini? Awan... bulan...”
“Benda-benda yang ada di langit.” Jawabnya simple. Sora menatap dalam mata Langit.
Sora langsung mengambil kalungnya dan memasangkannya pada lehernya. Dibantu oleh Langit. Langit melihat leher belakangnya yang putih sungguh terpesona.
“Serius ini bagus banget. Ini kalau dijual harganya mahal, kan? Makasih ya.. kamu selalu bantuin aku.” Sora memeluknya, Langitpun membalas pelukannya.
Esok hari tiba. Dengan mempersiapkan hatinya agar tidak runtuh ia berjalan menuju warung Mbak Santi untuk mengantar kue yang akan dia titipkan. Sudah tampak Maru duduk dibangku pengunjung. Keduanya saling menatap satu sama lain.
“Ayo... kita bicara.” Ajak Sora sambil beranjak meninggalkan warung.
Keduanya berjalan di pesisir pantai. Perbedaan tinggi badan yang begitu gelas diantara keduanya menjadi pusat perhatian. Terlebih wajah tampan Maru yang jarang ditemui ditempat mereka.
“Apa kabar?” Tanya Maru memulai pembicaraan.
“Aku baik-baik aja. Kamu gimana?” Sora kembali bertanya.
__ADS_1
“Sekarang, baik. Ibu sama Kakak Kamu gimana kabarnya?”
“Mereka juga baik. Tante Maya sama Om juga baik?”
Anggukkan kepala keduanya saling bersahutan. Obrolan macam apa itu heeeyyy... Kini keduanya duduk dibatuan tepi pantai.
“Kamu bahagia sama laki-laki itu?” Tanya Maru. Sora meliriknya memberi tanda tidak mengerti.
“Langit. Langit, kan namanya?”
“Bahagia. Dia baik sama aku. Semenjak aku pindah ke sini, dia yang langsung deket sama aku. Dia satu-satunya temen aku disini. “ jelasnya
“Temen? Terus bayi itu...” Maru mengerutkan keningnya.
“Dia harta keluarga kita sekarang. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Kakak ipar aku melahirkan bayi laki-laki. Kita kasih nama Henry.”
Maru menghela nafas lega. Dia terus menatap wajah Sora. Sama sekali tidak ada yang berubah. Hanya saja tubunhya yang leih kurusan.
“Aku mau ketemu Ibu. Ayo..” belum selesai Sora langsung melarangnya
“Gak perlu. Kita ketemu sampai disini aja. Tidak usah melibatkan siapapun lagi. Jadi, sekarang kamu katakan semua yang ingin kamu sampaikan. Kalau gak ada, aku pulang, karena aku gak ada yang perlu aku sampaikan.” Sora mempertahankan benteng dihatinya.
“Maafin aku...” kini Sora memalingkan wajahnya.
“Aku harap kita gak usah bersikap seperti ini. Kita saling mengenal, ya seenggaknya saling menyapa. Kalau kamu seperti ini karena merasa ada yang salah diantara kita, dan kamu perlu seseorang untuk disalahkan, jangan salahkan diri kamu sendiri. Salahin aja aku. Karena ini semua memang salah aku. Kita kehilangan bayi kita juga, jangan salahkan diri sendiri lagi.” Maru meracau panjang lebar. Keduanya berlinang air mata.
Sora menangis terisak, kenapa laki-laki ini malah membicarakan anak mereka. Suara getaran Maru membuat keduanya memperhatikan layar ponsel Maru. Ada seseorang yang melakukan panggilan padanya. Tertulis jelas. MARIA.
“Udah semua? Kalau udah. Aku pulang. Kita gak usah saling bertemu lagi.” Sora melangkah meninggalkan Maru yang masih terduduk di batuan.
Langit telah menunggunya dari tempat yang tidak terlalu jauh dari tempatnya sambil melambaikan tangannya.
Maru menatap kepergian kedua insan itu dengan hati yang begitu berat. Air matanya begitu deras melewati pipinya. Dia tidak tahan dengan semuanya.
__ADS_1
Maru memilih untuk pulang kerumahnya dan meninggalkan Sora dan juga kota itu.