Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
22. Status Hubungan II


__ADS_3

Malam hari, mereka berdua menonton film bersama. Maru beranjak dari sofa menuju toilet.


Handphonenya bergetar.


Telihat jelas oleh Sora ‘MINE’, tapi itu bukan nomornya. Dia sedikit kesal, dan memberanikan diri menerima panggilan itu.


“Aku gak bisa tidur, suami aku dinas lagi keluar kota. Kamu temenin aku ya, jangan matiin telponnya sampe aku tidur. Atau kita ketemuan sampe aku ngantuk?” Cerocosnya.


Sora terpaku membeku, matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia langsung memberikan handphonenya ke Maru yang baru di tepi kursi dan langsung beranjak dari kursinya menuju kamarnya.


Maru melihat layar ponselnya dan menempatkan ponselnya ke telinga.


“Hello..” suara beratnya


“Em. Hallo, gimana?” dengan antusiasnya.


“Kamu tadi bilang apa?” tanyanya sambil melihat pintu kamar Sora.


“ Suami aku gak ada, gak bisa tidur. Kamu...” belum selesai Maru menyanggah kata-kata wanita itu.


“Maafin aku, aku gak bisa telponan dulu. Lagi ada hal penting. Aku matiin ya.” Dia mematikannya.


Ia berusaha membuka pintu kamar Sora, namun ternyata telah dikunci. Ia mengetuknya, tak di buka. Ia memanggilnya tak ada jawaban. Dia memutuskan untuk masuk kamarnya sendiri.


Sora menangis dalam gelap diatas tempat tidurnya. Dia begitu merasa sakit di dadanya. Seharusnya dia tidak boleh merasa sakit. Karena memang begitu harusnya, karena mereka memang saling mencintai. Tapi bagaimanapun dialah istrinya. Sebenarnya apa status hubungan mereka. Sepertinya tidak berjalan lancar seperti yang selama ini dikiranya.


Udara dingin dipagi hari membuat Maru membuka matanya, kemudian dia melangkah kearah dapur untuk meminum segelas air putih. Ketika menenggak airnya, terlihat sarapan sudah siap dimeja makan. Dia melirik jam, apakah dia salah lihat. Baru jam 6. Dia melangkah membuka pintu kamar Sora, tak tampak istrinya. Tempat tidurnya sudah rapih, dan hanya ada baju yang telah disiapkan untuknya.


Beberapa hari Sora terus menghindari Maru. Dia pergi ke mall di pagi buta, dan sepulang kerja di akan masak tanpa sepatah kata, dan langsung tidur dengan mengunci pintu. Ditempat kerjapun dia selalu terlihat lesu, wajah lesu, kehilangan fokus. Dia bahkan tidak pernah sadar bahwa setiap hari Zaenal selalu ada dimeja samping ketika makan siang. Dia benar-benar bingung, kenapa dia begitu.


Malam itu Maru mencoba untuk berbicara dengan Sora. Ketika Sora hendak menutup pintu kamarnya, Maru menahannya dan masuk ke kamarnya.


“Gue gak tahu harus mulai dari mana..” Maru memulai pembicaraan


“Emang mau bahas apa?” dengan wajah yang datar.


“Lo kenapa menghindar terus?” tanyanya


“Aku juga gak tahu. Mungkin akau lagi butuh waktu sendiri. Kamu tahu sendirikan, aku khawatir soal Ibu.. juga...”


“Kenapa gak tanya tentang Maria?” pangkasnya.


“Aku udah tahu kok, dari dulu.” Dengan senyuman getir, karena tak ada kata yang terucap dari suaminya yang hanya terus memandanginya, ia kembali berkata panjang lebar


“Ketika kita pergi kerja, kita lewat rumahnya. Mata kamu akan selalu melihat kearahnya. Juga dengan Maria yang selalu melihat kamu. Temen aku juga pernah liat kalian barengan, ya.. tapi aku cari aman dong... hhhaaa.. aku juga gak sengaja denger obrolan kamu ama Zaenal. Selama ini kalian masih berhubungan di belakang aku. Tapi, Kita kan udah janji gak usah ikut campur urusan pribadi, so aku kira ini gak usah dibahas. Tapi, entah kenapa aku berharap kamu mengatakan semuanya terlebih dulu ke aku, biar aku tenang. Pada kenyataannya, sekarang sudah dibahaspun aku malah kecewa. Aku kira aku akan merasa lega dan puas. Tapi, malah lebih menyakitkan. Kamu...” masih dengan cerocosannya dengan Air matanya menetes, Ia langsung menghapusnya dengan senyuman.


Tanpa pikir panjang, Maru langsung menciumnya. Menciumnya dengan terus melangkah ketempat tidur. Dihempaskan istrinya ke atas tempat tidur, dia terus menciumnya dengan lembut, tangannya meraba dada, perut, hingga kedaerah bawah istrinya.

__ADS_1


Ia melepas kaos tidur istrinya yang over size, begitu juga dengan celana pendeknya.


Tak lupa dia segera melepas semua pakaiannya. Sampai kini keduanya sudah tanpa busana.


Sora tampak menggeliat dan mendesah. Maru mengangkat istrinya ketengah tempat tidur. Dia membuka lebar kaki istrinya. Sehingga dia dengan leluasa menjalankan aksi panasnya itu.


Lagi dan lagi, aku terperangkap dalam pelukannya. Kenapa aku menerima semua perlakuannya sekarang ini? Harusnya aku menolaknya, mengusirnya dari kamar ini. Benar-benar bodoh, murahan kamu Sora.


Pikiran dan tubuhnya Sora kembali berargumen. Pikiran dan tubuhnya tidak sinkron.


Sora sedikit tersentak, dia masih merasa sedikit sakit. Air matanya kembali menetes.


Dengan lembut Maru membelai rambutnya, mencium bibir, leher, dada ... dengan pinggul yang tetap bergerak.


Mereka terhanyut... menit demi menit... menit demi menit... sampai Maru mempercepat gerakannya,


“Kamu gak pakai pengamanan lagi..” dengan suara terengah Sora memulai


“Gak apa-apa...” jawabnya singkat


“kalau aku hamil...” dengan suara ******* yang terdengar vulgar.


Maru malah semakin mempercepat gerakannya. Sampai dia mencapai klimaksnya. Dia memeluk Sora dan mengerang, begitupun Sora.


Dengan mandi keringat, ia menghempaskan tubuhnya di atas tubuh istrinya yang mungil. Dan menciuminya kembali.


“hamil? Bagus dong, gue jadi bakal punya anak.” Jawabnya yang kini telah berbaring disampingnya.


“Kita gak ada rencana punya anak kan? Inget, no ****! Tapi apa sekarang..." Rengeknya.


“Udah terlanjur, kalo lu hamil kita ikuti aja arusnya.” Tandasnya.


Maru memeluk istrinya dan terus menatapnya.


“Sebenarnya kamu anggap aku apa sih?” Sora memberanikan diri untuk bertanya.


“Istri.” Jawabannya kurang memuaskan.


“Kenapa kamu terus mengendalikan aku. Kadang kamu baik, lembut, tiba-tiba kamu sangat menyebalkan. Tiba-tiba marah.” Masih penasaran.


“Lo pikir gue marah gak ada alasannya apa?” dengan terus menatap wanita yang tengah dipeluknya.


“Terus kenapa kamu gak bilang apa alasannya.”


“Lo beneran gak tahu, apa pura-pura gak tahu sih.” Tertawa kecil.


Melihat bibir Sora yang merona membuat Maru terus ingin menciumnya. Dan iapun menciumnya kembali dengan lembut, tanpa meneruskan pembicaraan diantara keduanya.

__ADS_1


~


Waktupun terus berlalu. Setelah kejadian malam itu, keduanya bersikap seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Tapi, pikiran Sora terus mengingatnya. Dia tidak percaya, keduanya telah melakukan itu. Melanggar perjanjian awal mereka.


Kecewa, Sora kecewa karena sikap Maru yang biasa saja. Dia pikir hubungannya akan ada kemajuan. Namun tetap sama saja.


Kemistri mereka tetap sama, kemistri sepasang suami istri yang terlihat biasa-biasa saja namun bisa membuat semua orang iri.


Seperti sekarang ini, Maru dan Sora datang ke pernikahan teman semasa sekolah mereka. Lebih tepatnya, teman yang cukup dikenal oleh Maru. Karena Sora, meskipun murid seangkatannya banyak, dia hanya mengenal beberapa teman saja.


Maru terlihat terus memegang tangan istrinya. Semua mata terus merasa geli melihatnya.


“Lepasin dong tangannya. Nempel terus..” Sindir salah satu temannya.


Maru hanya tersenyum seraya menghampiri teman-temannya. Tak disangka disana mereka berpapasan dengan Zaenal yang memang berada diantara teman-temannya.


Maru semakin mempererat genggaman tangannya dengan terus memandangi Zaenal. Dia sendiripun merasa aneh, kenapa dia bisa bersikap seperti itu.


Nama Sora dipanggil oleh beberapa teman wanitanya, yang juga hadir di pesta pernikahan saat itu. Terlihat sosok Zani yang ternyata memanggilnya. Sorapun izin kepada suaminya dan teman-temannya untuk menghampiri para wanita yang berada tidak begitu jauh.


Maru terus memandanginya.


“Ya... gak nyangka gue. Lu malah nikah sama tu cewek.” Salah satu temannya yang terus merasa kagum dengan Maru.


“Gue kira, cinta sejati lo Maria. Dulu lo ampe bucin banget ama tu cewek.” Teman yang lainnyapun ikut menyetujui perkataan itu.


“Tapi gak rugi juga sih. Sora, anak itu juga cantik juga ternyata. Pantes aja lu bisa berpaling. Cinta bisa berubah ternyata, tapi lo sama aja ya. Bucin.” Sendirinya.


Maru langsung sedikit tertarik dengan perkataan temannya.


“Bucin. Apaan, enggak lah.” Sedikit tersenyum, dengan sesekali terus memandangi Sora yang berada di sebrang.


“Enggak apaan? Kelihatan banget tahu.” Teman yang lainnyapun menterawakannya, tidak terkecuali dengan Zaenal yang tidak tersenyum sama sekali.


Disebrang sana terlihat para wanita sedang mengobrol sana sini. Termasuk Sora dan Zani.


“Kamu, apa kabar?” Sora memulai pembicaraan.


“Aku baik. Kamu gimana?” tanyanya kembali.


“Aku juga baik. Maaf ya, waktu kita ketemu di restoran Zaenal gak bisa menyapa kamu.” Dengan senyuman manisnya.


“Gak apa-apa. Maru kayaknya cinta banget sama kamu ya.” Pandangannya tertuju ke arah pria yang berada di sebrang sana. Zaenal.


Begitupun dengan Sora, pandangannya tertuju ke seberang sana. Namun yang dia pandangi adalah Maru. Pipinya sedikit merona karena ucapan Zani. Tidak ingin kecewa, dia langsung mengusir perasaan itu.

__ADS_1


__ADS_2