
Setelah kejadian tadi malam, Maria masih menyangka kalau dirinyalah istri dari Maru. Dengan semua kata-kata yang ia keluarkan, katanya omong kosong hasil imajinasi Maria, cukup membuat sedikit kesal namun terbesit rasabiba pada keadaan Maria sekarang.
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, hari ini akan diadakan diskusi dari keluarga besar Maru dan juga Sora perihal keberadaan Maria dan juga anaknya untuk Sora dan Maru.
Mama Maya dah Ayah Aryo rela datang dari jauh karena undangan dari sang menantu. Mama Maya sangat senang, karena Itung-itung keduanya pergi untuk berlibur.
Namun, setelah semuanya berkumpul di rumah Sora, di bangunan yang dulu dilaksanakan pernikahan keduanya, semua yang mendengarkan penjelasan Maru dan juga Sora dibuat terkejut setengah mati.
Mereka baru mengetahui, bahwa ternyata Maria sudah tinggal beberapa hari bersama mereka.
"Kamu gila apa? Kenapa kamu terima dia lagi?" Mama Maya meninggikan suaranya dan juga menampar Maru.
Sora menahan Mama Maya yang tersulut emosi.
"Kamu gak inget apa yang dia lakukan dulu sama kamu... apalagi sama istri kamu ini? huh?" Mama Maya tidak habis pikir dengan semuanya.
"Ma... jangan begini. Ini bukan salah Maru kok. Sebenarnya ini semua salah aku. Aku yang minta Maria buat tinggal disini. Aku kasihan, dia kan lagi hamil. Dia gak punya siapapun lagi." Sora berbicara dengan suara yang bergetar.
"Kenapa juga kamu kayak gitu Sora? Kamu tuh sama aja menyerahkan Maru sama wanita itu lagi. Kamu kenapa?" Mama Maya ikut memarahi menantunya itu.
__ADS_1
"Benar. Itu yang ingin Ibu tanya sama kamu. Ibu kira kamu waktu itu kamu tanya masih minta izin, tapi ternyata wanita itu sudah ada disini dan tinggal sama kalian." Ibu Renipun merasa sedikit emosi.
"Maafin aku Ma.. Bu... aku cuman kasihan sama dia. Dia bisa jadi kayak gini juga kan gara-gara aku." Sora tidak bisa menahan tangisnya.
"Kenapa gara-gara kamu?" Ibu Reni tidak mengerti dengan maksud Sora.
"Maria cinta banget sama Maru. Tapi, aku ambil Maru dari hidupnya. Makannya Maria jadi gini, semua ingatannya terpecah. Tapi, Maru selalu ada dalam ingatan dia yang terpecah-pecah itu." Sora kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Bukan salah kamu. Dia sendiri yang membuat dirinya begitu. Dia sendiri yang dulu ninggalin anak Mama.." Mama Maya sangat emosi mengingat perlakuan Maria pada anaknya itu.
Dengan tiba-tiba Maru berlutut di tengah semua orang. Dia mengakui kesalahan terbesarnya yang belum pernah dia dan juga Sora beritahukan kepada orangtua mereka.
Sora yang melihat Maru dengan beraninya mengungkapkan masa lalunya bersama dirinya ikut berlutu.
"Aku juga minta maaf. Itu semua benar. Kita waktu itu nikah cuman karena saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Tidak ada cinta. Sikap kita turut andil dalam keadaan Maria yang sekarang." Suara Sora bergetar.
Semua yang berada diruangan begitu terkejut dengan pengakuan keduanya. Terkecuali Zaenal yang sudah tahu dari awal.
"Ibu gak nyangka kamu kayak gitu Sora. Kenapa kamu main-main sama yang namanya pernikahan. Sampe cerai..." Ibu Reni sangat kesal.
__ADS_1
"Sudahlah, itu semua dimasa lalu kan. Toh sekarang Sora dan juga Maru sudah mengakui kesalahan mereka. Dan juga sekarang mereka udah saling mencintai. Mana ada yang pura-pura cinta meskipun dua tahun berpisah, bersama kembali." Kak Soni yang sedari tadi terdiam ikut angkat bicara.
"Aku cuman merasa bersalah pada Maria. Dan juga, bolehkah aku bicara seperti ini? Bicara Seolah-olah aku ingin menyalahkan Maria... Maria berniat menggugurkan kandungannya. Sedangkan aku? Aku susah payah agar bisa hamil. Makannya aku meminta Maria untuk bertahan mengandung anaknya untuk aku dan juga Maru. Bahkan aku nyuruh Maria untuk menganggap bahwa anaknya adalah pengganti anaknya aku yang udah gak ada.. yang memang karena gara-gara kesalahan aku dan juga Maria." Tangis Sora pecah.
Maru menenggelamkan wajahnya pada puncak Sora yang terus menjelaskan keinginannya dengan masih menangis.
Yang ada diruangan ikut menangis. Hati mereka sangat hancur.
"Aku udah minta Maru untuk nikah sama wanita lain agar punya keturunan, tapi dia gak mau. Semua keinginan aku ini spontan. Tapi, berdampak sangat besar. Aku mohon, izinkan kita..." Ucapan Sora terhenti karena tangisnya lebih mendominasi.
"Ayah mengerti dengan keinginan kalian berdua. Ayah terima maaf kalian. Tapi, Ayah tidak setuju kalau Maria harus tinggal sama kalian. Terlebih dia sedang mengandung. Akan ada fitnah dikemudian hari. Memangnya kamu mau nikahin Maria" Ayah Aryo yang sedari tadi diam seribu bahasa menjadi penasehat yang paling tenang.
Maru menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mau untuk menikahi wanita yang dulu sangat dia impi-impikan itu.
"Sebaiknya kita titipkan saja Maria ke yayasan yang menerima wanita hamil tanpa pendamping. Jika kita titipka dia disana, sudah pasti dia akan ditangani juga oleh para ahli, kandungannya terjamin, kesehatan mentalnya juga pasti akan ditangani. Dengan kalian yang siap menerima Maria dirumah ini, belum tentu bisa menyembuhkan Maria kan? Untuk anaknya? Dia bisa jadi anak kalin, kalian bisa adopsi anak dia."
Semuanya mengangguk tanda setuju. Terutama Maru dan Sora. Kenapa keduanya tidak bisa berpikir sampai sejauh itu. Pikirannya sangat sempit karena keadaan yang begitu cepat.
"Kalian boleh cari dimana yayasan yang ingin kalian pilih. Banyak kok. Kalian masih bisa tetap mengunjungi Maria. Kalian jangan mempersulit hidup kalian. Kalian sendiri kan yang bilang, sekarang kalian sudah saling cinta, tidak ingin ditinggal ataupun meninggalkan. Untuk itu, kalian harus berpikir jernih. Okay..?" Ayah Aryo memeluk anaknya dan juga menantunya itu.
__ADS_1