
Udara pagi dingin yang menusuk tulang kembali dirasakan Sora yang kini telah terbangun lebih awal. Keluar kamar hendak membersihkan dirinya, didapatinya Langit yang tertidur diatas sofa. Sedangkan Maru terlelap di kamarnya sendiri dengan pintu kamar yang terbuka. Sora melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, ia membangunkan Langit agar bersiap-siap untuk kembali pulang.
Sementara menunggu Langit membersihkan diri, Sora berinisiatif memasak dengan bahan-bahan yang ada di kulkas rumah itu. Sora memasak dengan niat sebagai tanda terima kasih karena Maru telah memberi keduanya tumpangan untuk tidur.
Keduanya telah bersiap untuk pulang, namun dilihatnya Maru masih terlelap.
“Apa sebaiknya kita berangkat nanti kalau Maru usah bangun aja? Masa kita gak pamit dulu?” Saran Langit yang memang masih melihat Maru terlelap.
“Gak usah. Gak apa-apa. Kita berangkat sekarang aja, mumpung masih pagi. Nanti kalau agak siang, pasti macet.” Sora menampik saran dari Langit.
“Apa kita bangunin aja? Gak sopan deh kayaknya. Udah dikasih tumpangan, tapi kita malah gak pamit dulu.” Langit merasa tidak enak hati.
“Gak apa-apa, dia pasti ngerti kok. Nanti, aku hubungi dia aja. Sekarang ayo kita berangkat, kita sarapan dulu di jalan.” Ajaknya sambil berlalu.
__ADS_1
“Terus kamu masak, itu buat siapa?” Tanya Langit heran melihat masakan yang sudah rapi diatas meja di tutup tudung saji.
“Aahh.. itu buat Maru. Ya.. sebagai tanda terima kasih. Udah Izinin kita tidur disini. Anggap aja kita pamit dengan makanan itu...” Ajak Sora kembali sembari tersenyum.
Sora dan Langit bergegas menuju mobilnya dan segera melajukan kendaraan meninggalkan pekarangan rumah.
Mendengar suar pintu tertutup, Maru segera membuka matanya. Matanya begitu merah, air mata yang ia tahan kini sedikit membasahi bantal. Maru beranjak dari tempat tidurnya, mengintip dari celah tirai. Ditatapnya Sora yang kini tengah menuju mobil sampai kendaraan itu berlalu meninggalkan pekarangan rumahnya.
Ia melangkahkan kakinya ke meja makan ulyang terletak didapur. Didapatinya hidangan yang sudah tersaji. Air matanya keluar semakin deras.
Dengan anggapan bahwa makanan didepannya adalah masakan Sora terkahir yang akan dia makan, Maru menikmatinya dengan tatapan kosong. Rasanya di mulut memang tetap sama seperti dulu, tapi perasaan dihatinya yang benar-benar hancur.
Diperjalanan Sora tampak murung. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut Sora. Langit hanya diam memaklumi Sora yang baru saja bermalam dirumah mantan suaminya. Langit tersenyum masam, sampai akhirnya Sora mengajaknya untuk sekedar mengobrol.
“Langit. Makasih ya udah mau ajak aku pulang bareng kamu.” Sora sampai lupa belum mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
“Pake makasih segala. Toh kita tujuannya sama ini...” Tertawa ringan.
“Kamu memang temen yang terbaik deh.. makasih ya..” Ujarnya kembali.
“Teman?” Langit menjelaskan ucapannya. “Teman? Sama-sama..”
“Kenapa? .. Maafin aku Langit. Tapi buat aku, kamu tetap temen aku. Aku ingin hidup sama kamu sebagai teman aja.” Sora menatap kedepan dengan sendu.
“Gak apa-apa... yang penting kamu ada di sekitar aku aja udah seneng... Akhirnya.. setelah satu tahun setengah, kamu jawab juga ajakan aku..” Langit tertawa.
“Maaf...” Sora kini menatap Langit.
Langit hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman tulus dengan sesekali menatap wajah Sora.
Langit tahu diri. Dari kejadian saat Maru kembali bertemu dengan Sora, dia bisa melihat cinta keduanya sangat kuat. Tapi, entah apa yang membuat keduanya tidak memperjuangkan kembali cinta mereka.
__ADS_1
Memang tidak akan mudah melupakan seseorang yang benar-benar sangat dicintai. Seperti Langit, yang juga mencintai Sora, meskipun dari awal dia tahu dengan jawaban apa yang akan dia dapatkan.