
Pagi hari, Sora dan semua yang ada dirumah sarapan bersama. Sora dan Maru meminta izin kepada Ibu Reni dan juga Kak Soni untuk pergi ke kota yang telah mereka tinggalkan selama dua tahun, tentunya untuk ziarah ke peristirahatan terakhir bayi mereka. Tentu saja mereka mendapat izin.
Mereka berangkat di awal pagi hari, karena Sora memang berniat hanya akan satu hari berada disana tanpa harus bermalam. Setelah keduanya saling mengungkapkan unek-unek mereka kemarin, meskipun tidak sepenuhnya diungkapkan, kini keduanya dalam keadaan suasana hati yang baik. Terutama senyuman dari sudut bibir Maru tidak bisa disembunyikan.
Maru menepikan mobilnya disebuah taman bermain dengan berbagai wahana. Tentunya membuat mata Sora membelak, bagaimana tidak tempat itu bukan tujuannya, tempat tujuannya masih jauh.
“Kok berhenti disini?” Sora celingak-celinguk bingung.
“Kita turun disini dulu.” Jawab Maru sembari membuka seat belt dan keluar turun dari kursi setir. Lalu membuka pintu kursi penumpang, agar Sora turun.
“Ayolah Maru... kita harus buru-buru sampe sana. Biar waktu kita banyak disana, aku juga kan harus mampir ke orangtua kamu juga.” Rengeknya masih duduk didalam mobil.
“Kan aku udah bilang. Hari ini juga adalah hari ulang tahun bayi kita. Kamu gak mau beli kado buat dia?” Membujuknya dengan mata yang berbinar.
Sora diam terpaku. Kado untuk ulang tahun memang lumrah. Tapi, yang ulang tahunnya juga sudah ada di atas langit. “Maru...”
“Lagian kamu juga, masa mau ketemu orangtua aku gak bawa apa-apa?” Maru mengangkat bahunya.
“Ayolah kita cuman sebentar disini kok. Sambil refreshing juga kan.” Masih membujuk Sora. Sampai Sora berhasil dibujuk dan keluar dari mobilnya.
Keduanya memasuki taman bermain dengan berbagai wahana, berbagai makanan yang di jajakan, berbagai barang yang unik dijajakan. Awalnya dia menolak untuk bermain, tapi sekarang Sora yang paling bersemangat. Ia terus berjalan sana-sini dan mengajak Maru menaiki beberapa macam wahana dimulai dari biasa saja sampai yang ekstream. Senyuman tidak luput dari keduanya.
Untuk mengisi perut yang mulai keroncongan, Sora dan Maru makan street food yang menggoda selera.
__ADS_1
“Siapa yang nolak, siapa yang paling lincah main..” Goda Maru.
Sora tersenyum malu, “Seneng banget bisa kesini lagi. Sekarang makin rame aja ya.” Matanya berkeliaran melihat area sekitar.
“Kamu pernah kesini?” Tanya Maru.
“Mmm... pernah. Bareng Langit.” Sora tersenyum kearah Maru. Senyuman canggung.
Mendengar nama Langit membuat senyuman Maru sedikit redup. Kenapa nama pria ini juga sedikit membuat Maru sensitif, tidak ada Zaenal, terbitlah Langit.
“Udah abis kan makannya. Ayo kita beli hadiah.” Ajak Sora mencairkan suasana yang sedikit menjadi canggung.
Keduanya memilah berbagai barang yang cocok untuk diberikan kepada bocah dua tahun dan juga barang-barang atau makanan sebagai buah tangan. Setelah mendapatkan barang yang kiranya pas, mereka memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka berdua disana.
Sora melihat berbagai macam tulisan digembok-gembok yang berjejer tersenyum iri. Dari atas sana keduanya dapat melihat area taman lebih leluasa. Sungguh indah.
“Kamu puas mainnya?” Tanya Maru.
“Mmm... puas banget. Seneng banget, dulu kita gak pernah kayak gini kan ya...” Sora tidak melanjutkan pembicaraannya tersadar ia mengenang masa lalunya.
“Syukurlah kalau kamu seneng. Anggap aja ini utang aku ke kamu yang gak pernah ajak kamu main kayak gini. Bukannya aku gak mau kencan kayak gini, tapi kan kamu lagi hamil waktu itu. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Ujar Maru.
Sora terdiam sejenak. “Kencan?” Hatinya sedikit berdegup lebih kencang.
__ADS_1
Maru mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Sebuah kalung dengan liontin sederhana berbentuk infinite, namun keindahan yang tertera dalam perhiasan itu tampak sangat mewah. Maru membentangkan kalung itu hendak memasangkannya dileher Sora dengan senyuman indah yang ia layangkan kepada Sora.
Namun, niatnya ia urungkan. Senyuman kembali memudar dari bibirnya. Matanya menangkap kalung dengan liontin berbagai macam benda langit berjejer di dada atas Sora. Suasana kembali canggung.
“Ahhh.. makasih. Aku simpan aja.” Sora mengambil kalung itu dengan senyuman yang canggung. “Wah .. bagus banget.” Ujarnya.
“Kamu suka?” Tanya Maru yang sama-sama menjadi canggung namun tetap berusaha mencairkan kecanggungan diantara keduanya.
“Mmm.. suka. Bagus banget. Apa arti liontin ini?” Tanya Sora.
“Tak terhingga. Cinta aku sama kamu, tak terhingga. Sampai kapanpun, aku tetep cinta kamu, Sora.” Laki-laki ini semenjak menemukan Sora kembali, ia tidak berhenti mengungkapkan perasaannya.
“Oohh.. tak terhingga. Makasih.. bagus...” Sora gelagapan.
“Apa kamu suka sama cowok itu? Langit?” Maru memberanikan diri.
Tidak ada jawaban dari Sora hanya senyuman yang bisa ia tunjukkan.
“Ayo kita lanjutkan perjalanannya. Udah siang sekarang. Nanti aku pulangnya kemaleman.” Ajak Sora berlalu sembari memasukkan kalung pemberian Maru kedalam tas selempangnya.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Maru menyempatkan diri untuk membeli sebuah gembok dan membubuhkan tulisan. Bayi dan juga tanggal lahir sang bayi yang ia tuliskan.
Keduanya melanjutkan perjalanan kembali. Maru sesekali menatap wajah manis Sora yang tidak berubah dari dulu, yang kini tengah memejamkan kedua matanya. Mungkin karena lelah, Sora tertidur pulas membiarkan Maru berkendara sendirian dalam diam.
__ADS_1