Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
49. Kehilangan Satu Nyawa I


__ADS_3

Hari yang gelap gulita telah berganti. Zaki, adik Zaenal menelepon Zaenal di pagi buta.


“Bang, gue mau nanya.” Suara baru bangun tidur.


“Tanya apaan?”


“Video yang beredar di internet itu beneran Kak Sora?” Tanyanya


“Emm.. bener. Kenapa emang?”


“Terus sekarang Kak Sora gimana?”


“Dia masih jadi saksi. Gak tahu kedepannya gimana. Udah pusing Abang nyari bukti.” Zaenal mengusap wajahnya yang lelah karena ia terus terjaga sepanjang malam di restorannya memikirkan bagaimana mendapatkan bukti.


“Kak Sora gak salah bang. Disini ada buktinya. Kamera Temen aku yang cewek gak sengaja ngerekam.” Jelasnya.


“Kamu bilang kamu punya buktinya? Bisa pulang sekarang gak? Atau kirim file nya. Atau datang ke kantor polisi disini, suruh temennya jadisaksi?” Dia tersenyum karena kini ia mendapatkan titik cerah.


“Okay bang, aku langsung kesana sama yang punya kamera. Buat jaga-jaga nanti aku kirim filenya. Soalnya harus dipotong dulu.”

__ADS_1


“Jangan jangan, jangan dipotong. Jangan diapa-apain. Kirimin seadanya aja. Eh, tapi Kamu siapin aja dua file videonya yang udah dipotong.” Pintanya.


“Okay bang. Kita kesana. Kayaknya butuh dua jam buat sampe sana.”


“Okay, hati-hati.” Zaenal menutup panggilan adiknya. Ponselnya kembali berdering. Risa.


“Zaenal, lo kesini sekarang. Gue harus pulang dulu. Anak gue sakit. Sekarang banget okay.” Suara wanita terburu-buru.


“Sekarang banget? Okay gue kesana.” Zaenal melajukan mobilnya ke rumah Sora. Di dalam mobil Zaenal menghubungi kantor polisi. Melaporkan kalau dia sudah mendapatkan buktinya. Tinggal menunggu saksinya datang saja.


Zaenal tiba di kediaman Sora.


“Maru gak pulang semaleman?” Rahangnya menunjukkan kemarahan.


“Gak. Tapi tadi barusan udah gue telepon. Berulang kali gue hubungin dia. Gak di angkat-angkat.” Cerocosnya sambil meninggalkan rumah Sora.


Zaenal memberanikan diri membuka pintu kamar Sora. Sora terlihat sangat lemah. Sora membuka matanya. Zaenal membantunya bangkit dari tempat tidurnya.


“Maafin aku, jadi ngerepotin kalian.” Meringis kesakitan.

__ADS_1


“Gak apa-apa. Tenang aja, semuanya akan berakhir. Ayo aku bantu. Mau ke kamar mandi, kan?” Zaenal memapah Sora mengantarnya sampai pintu kamar mandi.


☆☆


Di sisi lain, Maria tidak mau melepaskan Maru pergi dari tadi malam. Maria membuat Maru merasa bersalah dan memintanya tanggung jawab dan harus mau menemaninya, karena disini dia yang korban antara dirinya dan Sora, yang tentu Maru berada diantaranya. Meskipun Maru menolak dia mengancam akan menyayat tangannya kembali. Orangtua mana yang rela anaknya seperti itu, maka dari itu kedua orangtuanya berjanji akan mencabut tuduhannya terhadap Sora kalau dia mau menemani anak semata wayangnya itu.


Maru terjaga sepanjang malam. Dia harus melindungi kedua wanita yang telah ia sakiti. Ia terus berpikir bagaiman caranya. Karena masih kalang kabut, Maru pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya.


Suara getaran handphone diatas meja membangunkan Maria, ia melirik jam sudah menunjukkan jam 4 pagi hari. Ia menghampiri sumber suara nya. Risa, Sora, Risa, Sora kedua nomor ini bergantian memanggil Maru. Maria mematikan ponselnya dan menyembunyikannya di laci , ia kembali ketempat tidurnya.


Maru berdiam diri diluar ruangan kamar sekedar untuk mencari udara segar. Tak terasa kini sudah jam 5 pagi. Ia masuk kedalam ruangan mengenakan pakaiannya berniat pergi. Maria yang terbangun kembali menahannya agar Maru tetap berada disampingnya. Maru sudah merasa sangat kesal dengan tingkah Maria. Dia tetap akan pergi, namun terhenti karena handphonenya tidak bisa ia temukan. Maria hanya diam pura-pura tidak tahu perihal handphonenya.


Karena ruangan tempatnya berbaring adalah VIP banyak sekali perabotan disana yang menyulitkan Maru mencari handphonenya.


Akhirnya Maru menemukan handphonenya dalam laci dengan keadaan mati. Ia menatap tajam Maria. Lalu ia menghidupkan ponselnya.


Diperiksanya handphonenya itu. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan singkat terus berdatangan. Sora Risa terus memangggilnya. Ketika hendak membuat panggilan ke Sora, panggilan dari Risa datang.


“Lo kemana aja anj**g, masih dirumah sakit nungguin cewek sialan itu? Istri lo sendiri gak lo urusin. Semaleman dia gak bisa tidur ngeluh sakit. Dasar brengsek lo.” Risa memaki Maru dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


Maru langsung pergi keluar ruangan tidak menghiraukan Maria yang terus memanggilnya.


__ADS_2