
Mendengar anaknya dan mantan menantunya kembali bersama kembali, merupakan kabar bahagia yang didapatkan oleh Mamah Maya. Ia tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan tertawa kecil membayangkan kehidupan anaknya dan juga Sora yang kini kembali menjadi calon menantunya lagi.
Maru dan Sora melakukan hubungan jarak jauh. Sora yang berada dikota masa kecilnya dan juga Maru yang masih berada di kotanya sendiri dengan berbagai kesibukan di perusahaannya.
Keduanya tidak pernah bosan, setiap hari selalu bertukar pesan bahkan sesekali melakukan panggilan suara. Layaknya pasangan baru yang sedang dimabuk cinta.
Hubungan keduanya lancar jaya, sudah tidak ada penghalang seperti orang ketiga atau orang-orang yang tersakiti karena hubungan keduanya. Kini keduanya selalu menyelesaikan masalah dengan tenang, dan juga dengan kepala dingin. Tidak lupa, keduanya kembali berjanji untuk saling terbuka tentang apapun, tidak ada yang harus ditutupi. Menelaah kebelakang, keduanya tidak saling terbuka dan kurang berkomunikasi yang menyebabkan kesalah pahaman semakin membesar.
Sesuai janjinya, Maru meminta kedua orangtuanya untuk segera membantunya melamar Sora dengan datang ke kediaman Sora sekarang. Tentu saja disambut baik oleh kedua orangtuanya.
Dengan menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, Maru dan orangtuanya tiba di rumah Sora. Ketiganya disambut hangat oleh Sora dan keluarganya. Ibu Reni memeluk Mamah Maya dengan sangat erat, sudah dua tahun lebih keduanya tidak saling bertemu.
"Ya Ampun.. apa kabar? udah dua tahun lebih kita gak ketemu, ya." Mamah Maya terus memeluk Ibu Reni.
"Kabar saya baik. Gimana kabar kalian semua?" Ibu Reni menjawab seraya mempersilakan duduk kepada tamunya itu.
"Keadaan kita baik. Apalagi akhir-akhir ini, setelah mendengar kabar Maru dan Sora, keadaan kita semakin baik.. haha" Mamah Maya menggoda anaknya dan calon menantunya dengan tertawa ringan.
"Maksud kedatangan kami kesini, tidak lain adalah untuk mewakili anak kita, Maru agar Sora mau jadi istrinya dia." Ayah Maru mengatakan hal yang seharusnya, to the point.
__ADS_1
Ibu Reni dan Kak Soni hanya tersenyum dan kini pandangannya beralih kepada Sora yang terlihat sangat tersipu, dan juga Maru yang dari tadi tidak bisa berhenti tersenyum.
"Untuk perihal itu, kita bisa tanyakan langsung saja kepada yang bersangkutan. Sora, gimana, kamu mau terima Maru gak?" Kakaknya mewakili keluarganya menanyakan kepada Sora.
Dengan senyuman malu namun terlihat berseri, Sora menganggukan kepalanya tanda dia setuju dan menerima lamaran Maru.
"Adik saya terima. Kita juga, sebagai kakaknya dan juga Ibu, menerima niat baik dari Maru. Semoga kedepannya menjadi lebih baik dan lancar.." Kak Soni menerima lamaran Maru untuk Sora, menjadikannya sebagai istrinya.
"Kalau begitu, kita tinggal nentuin tanggal dan dimana mau dilaksanakan resepsi pernikahannya, ya kan?" Mamah Maya tidak sabar dengan keputusan itu.
"Harus diadain resepsi lagi ya? Apa gak bisa cukup dengan ijab qabul aja?" Sora menimpali.
Setelah percakapan panjang lebar antara kedua keluarga itu. Kini Maru dan Sora memutuskan untuk jalan santai di pinggir laut dengan tangan keduanya yang tidak lepas.
"Kenapa kamu gak mau ada resepsi?" Tanya Maru yang tidak mengerti dengan Sora.
"Ya.. ini kan pernikahan kita yang kedua kalinya. Kayaknya ijab qabul aja cukup deh." Sora meyakinkan Maru.
Maru dengan sigap menatap wajah Sora dengan memegangi pipi tembemnya.
__ADS_1
"Mau gimanapun, kalau sama kamu. Harus ada resepsi. Biar orang-orang tahu, kamu adalah istri aku. Lagian, ini kan pernikahan kita yang bener-bener pernikahan. Gak kayak yang dulu.." Maru kembali meyakinkan Sora dengan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Pernikahan kita yang sekarang ini, adalah pernikahan kita yang sesungguhnya. Pernikahan yang didasarkan oleh cinta kita berdua. Jadi, aku mau pernikahan kita kali ini, menjadi pernikahan yang akan memberikan kenangan indah untuk kita kelak." Maru mencium punggung tangan Sora.
Sora yang mendengarkan dan menerima perlakuan seperti itu, sedikit membuat hatinya terenyuh. Senyuman hangat ia tampilkan kepada calon suaminya itu.
Dengan tiba-tiba, Maru menundukkan tubuhnya dan berlutut dihadapan Sora. Tidak lupa, kali ini dia mengeluarkan kotak kecil, dibukanya kotak kecil itu. Tampak cincin sederhana dengan hiasan bentuk infinite.
"Would you marry me?" Maru menunggu jawaban Sora dengan senyuman genit yang dia keluarkan.
Sora hanya tertawa ringan.
"Berapa kali kamu mau lamar aku?" Goda Sora.
"Seenggaknya kali ini aku lamar kamu pake cincin, gak pake cokelat lagi. Ayo.. kamu mau jadi istri aku?" Maru mengulang kembali pertanyaannya.
Sora menganggukan kepalanya dengan air mata yang tidak dia sadari keluar begitu saja.
Maru langsung menyematkan cincin itu dijari manis Sora yang mungil. Cincin itu terlihat semakin indah bertengger dijemari Sora.
__ADS_1
Maru berdiri dan langsung memeluk Sora dengan sangat erat, dia sesekali mencium puncak kepala calon istrinya itu.