Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
6. Awal


__ADS_3

Setelah berdiri berjam-jam melayani pelanggan yang datang, akhirnya pekerjaan wanita ini selesai sudah. Diperjalanan menuju parkiran matanya mendapati Maru yang tengah berjalan masuk menuju pusat perbelanjaan. Sora terus memanggil namanya tapi tak digubrisnya, dia berlari kecil kearah pria dengan perawakan tinggi itu. Yang akhirnya membuatnya tersadar.


“Mau beli apa? “tanyanya terengah-engah


“Baju. Mau beli baju.” dengan ketusnya menjawab.


Terlihat jelas bahwa wanita ini mengumpat dalam hatinya, dengan bibir seperti orang baca mantra. Lagi badmood tapi gk gitu juga kali, pikirnya. Daripada ketinggalan angkutan umum, pikirnya lebih baik buru-buru pulang dan membalikkan arah langkahnya menuju pintu keluar lagi. Tiba-tiba ada tangan yang meraih tangannya. Sontak wanita inipun terperanjat kaget.


“Temenin gue beli baju,.. “ dengan ekspresi dan nada bicara yang sulit diartikan. Sangat datar. Sora ditarik dengan telapak tangannya yang lebar, semua jemarinya yang mengepal tenggelam ditelan tangan Maru.


“ Aku mau pulang sekarang, nanti keburu malem! Susah nyari angkutan umunya.. “ sedikit berteriak.


“ Gak apa-apa nanti gue anterin lu sampe pulang, sampe depan pintu. “ bercandanya masih dengan datarnya.


Pria ini memnintanya memberitahu tahu toko baju yang trendi. Dan mengantarkannya ke lantai dua. Karena memang toko tempat dia bekerja kebanyakan pakaian untuk wanita, baju untuk pria tidak terlalu menonjol. Dengan tiba-tiba dia meminta Sora untuk memilih baju untuknya.


“Ngapain aku yang pilih. Yang mau pake kan kamu, kamu pilihlah yang menurut kamu bagus, sesuai selera kamu. “ dengan herannya kenapa dia kayak gitu.


Tapi, secara tidak sadar wanita ini memilihkannya pakaian yang menurutnya cocok untuk tubuh yang tinggi dan juga tegap itu. Karena baju disana sangat bagus-bagus, Sora mencoba bertanya style apa yang dia ingin pakai.


“Buat ke kondangan, resepsi pernikahan. “ jawabnya datar. Dengan terus memilah baju yang ada didepan mata.


Akhirnya matanya tertuju pada kemeja berwarna biru tua, lengannya bisa dilipat sampai dibawah sikut. Cocok, untuk tubuhnya yang tegap, dadanya yang bidang, dan tangannya yang panjang. Segera ia memperlihatkan baju itu. Tak disangka langsung anggukkan yang terlihat. Diapun langsung membeli celana jeans hitam. Dan membayar pakaian itu.


“Kondangan siapa sih, spesial amat. Nyampe harus beli baju baru” tanyanya masih heran.


“Ada pokoknya, orang penting. “yang kini sedikit tersenyum.


Keduanya menuju parkiran. Pria itu memberikan satu helmnya.


Kenapa gak beli sama Maria aja pacarnya, banyak yang ingin dia tanyakan, tapi gak sopan juga karena bukan urusannya. Mungkin mereka masih berantem dengan yakinnya.


Tiba-tiba diperjalanan pulang dia membelokkan motornya ke restoran milik Zaenal. Wanita ini langsung melotot.


“Kenapa gak langsung pulang, nanti Ibu khawatir kalau telat pulangnya,”


“Bentar doang, gue traktir lu makan. Sebagai tanda terima kasih udah pilihin gue baju yang cocok”, sambil menyuruhnya turun dan membuka helmnya.


Namun wanita itu tetap terdiam karena kesal, diapun membantu membuka helm yang di pakai oleh Sora dan menariknya kedalam restoran Zaenal.


“Tinggal telpon aja orangtua lu, kasih tahu lagi ketemu sama temen dulu”, perintahnya. Sorapun menelepon Ibunya, izin pulang telat. Dan sudah di duga. Banyak pertanyaan yang di ajukan olehnya.


“Udah mau tutup kali, cuman ada bakso doang” kemunculan pemilik restoran datang.


“Dari kapan disini ada bakso,? “ tanya Sora

__ADS_1


“ Baru dua hari yang lalu kok. Bakso aja gak apa-apa ya..? “ dengan senyuman Zaenal yang enek dilihat.


“ Yaudah, bakso dua, punya gue di yamin.. “ diam sejenak, kedua pria ini menatap Sora “ tauge aja “ kedua pria itu berbarengan.


Dia kaget, karena mereka masih ingat style bakso kesukaannya.


Tak lama, Zaenal membawa nampan berisi 3 mangkok bakso, dua teh manis dan juga air putih. Mereka bertigapun makan bakso, dengan air putih yang hanya untuk wanita ini sendiri.


Zaenal bertanya-tanya kenapa mereka pulang berdua dan agak malem. Setelah mendengar pernyataan kita, diapun bertanya,


“Kenapa gak sama Maria aja? Biar sekalian pake baju couple“ tanyanya


Aku hanya mengedipkan mata kearahnya, diapun mengerti dan langsung tidak meneruskan omongan itu.


Setelah kenyang keduanya berpamitan pulang, di ambang pintu Zaenal menghampiri dan tersenyum


“Kamu gak pake jaket, nanti masuk angin.! “ sambil mengambil jaket miliknya yang tertenteng di kursi.


Sora awalnya menolak, tapi dia langsung menutupi bahu kecilnya dengan jaketnya yang kebesaran itu, dan membantu memakainya.


“Kayaknya dia masih berantem sama Maria, minggu kemaren aku liat Maria nangis. Terus dia kejar. Gak tahu kenapa. “ padahal Zaenal tidak bertanya, dan hanya menggulung tangan jaket yang kepanjangan dilengan.


Sampai dirumah, ternyata Ibunya sudah menggu di depan pintu. Marupun langsung bersalaman sopan, sambil meminta maaf karena membuat putrinya pulang telat. Di luar dugaan, dia membalas Maru dengan senyuman. Aku hanya heran dan langsung menyuruhnya untuk pulang.


Hari-hari berganti, dengan pekerjaan yan sama waktu istirahatpun tiba, Sora makan siang dengan memainkan ponsel miliknya. Hingga akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuat matanya terbelak hampir keluar. Dia membaca undangan ke pernikahan Maria dengan lelaki dengan nama yang bertuliskan bukan MARU yang dikirim lewat grup chat alumni.


Selama kerja sampai waktunya pulang, hanya berpikir bagaimana perasaan Maru. Kasihan, pasti sedih. Tiba-tiba dateng sepasang pria, ya tidak lain Zaenal dan juga Rendi. Mereka langsung mengajak untuk membeli baju, dan lagi-lagi, baju buat kondangan. Padahal dia sudah bersiap untuk pulang.


“Pasti buat ke kondangan Maria, kan? “ mengangkat sebelah alisnya. Zaenal hanya tersenyum, dengan Rendi yang mengangguk dengan bibirnya kedepan.


“Ngapasih, pake baju yang ada aja. Gak Maru gak kalian berdua.. “


“ Ini alasannya kita mau pake baju baru yang bagus, gue ini cowok. Tahu gue, apa yang dia rasakan dan apa yang pengen dia tunjukkin.“ cerocos Rendi dengan telunjuknya mengarah ke atas, sedikit lebay.


“Aku cuma ngikutin dia doang, “ Zaenal dengan mengikuti langkah Rendi yang juga diikuti Sora.


Merekapun memilih baju, Zaenal meminta baju couple dengan Sora kepada pelayan. Namun Sora menolak, tapi Zaenal bilang harus mau, untuk menunjukkan. Entahlah, menunjukkan apa maksudnya. Akhirnya mereka selesai belanja, dan menuju parkiran. Setiba di parkiran terlihat Maru yang melintas di depan mereka.


“Hai..” Sora dengan senyumannya...


“Tuh lu pulang bareng Maru, gue anterin Sora “ Zaenal meminta Rendi untuk menaiki motor Maru. Namun dengan cepat sesosok Maru menarik tangan Sora dan membuka jok motornya untuk mengambil helm.


“Gue aja yang anterin Sora, lagian lu kejauhan anter Sora” langsung memberikan helm kepadanya.


Dengan sigap Rendi langsung menaiki motor Zaenal. Kalah cepat, batin Zaenal.

__ADS_1


Disepanjang perjalanan tidak ada kata yang terucap dari keduanya, hingga akhirnya Maru buka suara “Gue gak apa-apa kok. “ Sora hanya terbelak.


“Lu pasti banyak yang mau ditanyain, itu jawaban gue sebelum lu nanya. “ sambungnya, yang membuat wanita ini berpikir apa terlihat jelas kalu dirinya sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi diantara mereka . Sora hanya tersenyum dan memintanya menambah kecepatan, karena dia lupa belum izin pulang telat kepada Ibunya. Dan seperti biasa, sang Ibu sudah menunggu di depan pintu.


Hari dimana yang di tunggu telah tiba. Banyak yang datang kepernikahan wanita yang kini telah menjadi mantan Maru. Diantara mereka da Risa dan suami, dan pasangan lainnya. Tak lupa Zaenal yang dateng bareng Sora, karena memang Zaenal yang minta. Juga Rendi pastinya. Tamu pentingnya adalah Maru. Hampir semua mata yang mengetahui hubungan Maru dan Maria tertuju kepada Maru. Maru hanya bisa senyum, tapi dalam hati ingin sekali berteriak dan mengumpat mereka semua.


Berbeda dengan Zaenal, dengan senyuman yang terlihat jelas menghiasi wajahnya. Karena badannya yang tinggi memakai baju senada dengan Sora yang tingginya hampir di bawah bahunya.


“Jadian ni? “ kata Risa nyamber ke telinga Sora setelah mereka memberi salam dan ucapan salam ke pasangan pengantin itu.


“Maksud?” Sora mengangkat bahunya. Lantas Risa langsung menunjuk pakaiannya dan tak lupa pakaian Zaenal,,


“aahh.. Ini Bagus, kan? Suka aja gayanya. Lagian ni cewek gak ngerti tujuannya kesini.! “ jawab Zaenal dengan satu alis terangkat tak lupa senyumnya.


Ketika sesi bersalaman dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, terlihat mata Maru dan Maria bertemu. Terlihat sangat jelas, mata mereka yang berkaca-kaca. Namun mereka hanya bisa menahan tangisnya. Hanya senyuman yang kembali ditunjukkan oleh Maru.


Hari berlalu begitu saja. Karena hari ini ada acara di pusat perbelanjaan, jadi tokopun ramai pengunjung. Pulang telat, tak apa lumayan ada lembur. Dengan rutinitas biasa, menaiki angkutan umum di sore yang cukup padat. Terlihat sesosok pria yang dikenali duduk ditanah, banyak yang memeperkihatkan dengan tingkahnya itu. Oh no.. Itu Maru. Diapun langsung turun meskipun masih sangat jauh ketempat tujuan.


“Kamu ngapain? Duduk di tanah, mata kosong.. Kamu .. Motor kamu di mana? Kamu kecopetan?” teriaknya khawatir. Pria itu tetap tak bergeming


“Kenapa diem aja? Ini tempat lumayan sepi lho... Kamu gak takut? “ masih dengan khawatir dan juga takut karena tempatnya memang sepi.


Sora memberanikan diri untuk lapor polisi. Namun tangan Maru yang lebar langsung meraih tangan kecilnya.


“Gue gak apa-apa, Cuma pengen sendiri. “ jawabnya santai.


Tercium bau menyengat dari mulutnya. Dia mabuk? Batinnya... Sora langsung memboyongnya ke taman kecil disana. Dan pergi ke mini market untuk sekedar membeli air mineral untuknya.


“Ayo pulang.. “ ajaknya. Namun dia hanya tersenyum dan menyuruh temannya ini pulang duluan. Tapi mana tega dia liat dia begitu. Secara, seorang Maru yang sangat sangat baik tiba-tiba bisa mabuk.


“Aku gak tahu kenapa, tapi ini bukan kamu. Maru yang aku kenal bukan kamu.”


“Dia sangat cinta orangtuanya, dia memilih orangtuanya. Hhaahaa.. Harusnya gue gak boleh cemburu kan, gimana juga mereka orangtua dia.." jawabnya tertawa dengan air mata yang mengalir dipipinya.


Tanpa sadar ikut emosional, namun tidak ingin tahu lebih banyak lagi tentang mereka. Tapi, tanpa bertanya dia kembali mengoceh,


“Katanya suaminya dokter. Ya, latar belakangnya bagus. Kerjaannya menjajnjikan. Gue cuma pegawai kantoran biasa, tidak sepadan dengan keluarganya. Lu salah Ra, cinta memandang status. Karena harus hidup realistis, itu semua dibutuhkan oleh Maria dan keluarganya, dan memang yang dibutuhkan itu gak ada dalam diri gue. Gue gak mau sendiri.“ dengan nadanya sedikit marah.


Sora menyuruhnya untuk menetralkan alkohol ditubuhnya.


“Aku, pengen sendiri. Itu yang selalu aku pikirkan. Tapi, aku lihat kamu mencintai wanita dengan sepenuh hati kamu, bikin aku juga jadi berpikir pengen punya pasangan. “ dengan senyuman kearahnya.


“Tapi, sekarang lihat kamu kayak gini, aku jadi pengen sendiri lagi. Kenapa? Aku takut kalau aku diposisi kamu, aku juga takut kalau jadi diposisi Maria. Dia juga pasti merasa sakit dan bersalah. Ayolah, kamu gak sendirian kok." dia masih memperhatikan tanah yang diinjaknya,


“Kamu tahu gak, aku memilih untuk sendiri, agar tidak saling menyakiti. “ sembari mengangkat telpon dari Ibunya, ya ampun gak sadar hari dudah semakin gelap.

__ADS_1


Wanita ini mengajaknya pulang dengan taksi online, menurunkannya di rumahnya. Tidak lupa dia sedikit menjelaskan apa yang terjadi kepada orangtua Maru, dan langsung bergegas pulang kerumahnya.


__ADS_2