Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
71. Pulang IV


__ADS_3

Sampai dirumah yang dulu telah ditinggalkannnya, Sora hanya bisa melihat dengan nanar keadaan rumah yang masih sama seperti dahulu. Foto pernikahan keduanya masih tergantung mengapit jam dinding ditengahnya.


Maru memasuki kamarnya dan mengambil baju untuk Langit. Selagi langit membersihkan dirinya. Maru mempersilakan Sora untuk mengambil bajunya sendiri.


“Kamu ambil sendiri aja bajunya. Mau yang mana.” Sembari menunjuk ke lemari pakaian yang terbuka.


Sora menelaah setiap sudut kamar. Masih tetap sama. Meja rias, masih tetap sama. Isi lemari, masih tetap sama. Sora menitikkan air matanya.


“Aku bilang buang aja semuanya. Kenapa masih ada semuanya?” Dengan mata yang semakin memerah Sora menatap Maru.


“Kenapa harus dibuang. Aku tahu suatu hari kamu pasti pulang kesini. Buktinya sekarang.” Ujar Maru dengan senyumannya.

__ADS_1


Maru terus menatap wajah Sora yang tengah memilah baju yang akan ia kenakan sebagai baju ganti. Ketika Sora membalikkan badannya hingga keduanya saling berhadapan. Maru tanpa izin mencium bibir Sora dengan lembut. Tanpa perlawanan Sora hanya terdiam tanpa membalas ciuman Maru sampai Maru sedikit menggigit bibir Sora yang menyebabkan Sora sedikit membuka mulutnya. Ciuman Maru menjadi sedikit lebih liar. Sora dengan segera menghentikan Maru dengan mendorongnya.


“Kita gak boleh kayak gini. Jangan ulang kesalahan kita lagi.” Ucapnya dan bergegas keluar dari kamar. Namun tangan kekar Maru menahannya.


“Kesalahan? Kamu menganggap semuanya kesalahan?... Padahal aku anggap semuanya cinta, cinta yang penuh perjuangan.” Maru menahan air matanya yang terus meronta keluar.


“Maru. Kamu tahu sendiri kan. Kita itu egois. Karena cinta kita, ada orang yang tersakiti.”


“Siapa? Maria? Zaenal? Langit?” Maru menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Sora tetap menggelengkan kepalanya. Air matanya tidak bisa dia tahan sehingga mengalir dengan sendirinya.

__ADS_1


“Aku tetep gak bisa Maru... Aku harap hubungan kita sampai disini aja. Kita masih bisa berhubungan sebagai berteman kan...” Ujar Sora pipinya basah akan air matanya.


“Berteman? Kamu pikir aku bisa anggap kamu teman?” Maru sedikit meninggikan nada bicaranya.


“Kalau kamu gak mau anggap aku sebagai teman, sekalian aja kita jadi orang asing. Gak perlu saling menghubungi. Kita benar-benar tidak saling mengenal. Kamu gak mau kan itu. Jadi, ayolah kita berteman aja..” Sora terus meyakinkan Maru.


“Aku pilih jadi orang asing aja. Kita gak saling kenal.” Maru dengan percaya dirinya.


“Okay... kalau gitu kita sekarang orang asing. Kamu jangan hubungi aku. Kamu jangan dateng kerumah aku. Kamu jangan temui aku lagi...” Sora masih dengan nada bicaranya yang dia jaga.


Sora sedikit kecewa karena ternyata Maru memilih menjadi orang asing yang tidak perlu saling menghubungi daripada menjadi teman yang masih bisa saling berhubungan. Padahal itu keinginannya sendiri. Karena dia tidak mau ada orang-orang tersakiti kembali karena cinta keduanya.

__ADS_1


“Tapi, asal kamu tahu Sora... Kalau kita gak sengaja bertemu atau berpapasan lagi, aku bakal ajak kamu kenalan lagi. Atau bahkan lamar kamu langsung sekalian...” Maru melos meninggalkan Sora yang sudah berada diambang pintu.


Ketiganya berada disatu atap, tepatnya dirumah Maru yang dulu ia tempati bersama Sora. Maru meminjamkan kaosnya pada langit, mengingat mereka tadi tersiram kuah. Sementara Sora sudah terlelap lebih dulu. Tubuhnya sangat lelah dengan aktivitasnya yang memaksanya untuk banyak bergerak, ditambah dengan kejadian tadi sore dengan Maria. Emosi Sora naik turun, pagi-pagi dia sangat bahagia karena bisa jalan berdua dengan Maru sampai menjelang siang kebahagiaan itu berubah dan membuatnya terlihat seperti wanita lemah kembali.


__ADS_2