
Harari-hari berlalu, Sora masih dengan morning sick nya. Meskipun tubuhnya semakin lemah karena hamil muda, ia tetap bekerja seperti biasa.
Dan juga Maru masih tidak mengetahui tentang kehamilan istrinya. Karena ternyata masih Sora belum mengatakan apapun tentang kehamilannya itu. Yang Sora tanyakan hanya tentang perceraiannya.
“Kapan sidang perceraiannya?” Sora bertanya, karena dia merasa suaminya masih belum mengungkit kembali tentang perceraian. Dia bertanya seraya memakan makannya yang berjajar dimeja makan. Ia makan sendiri. Karena Maru berada di ruangan sebelah dengan terus menatap layar laptopnya.
“Masih belum gue serahin.” Masih tetap menatap layar laptop.
“Hah? Kan aku udah tanda tangan juga, apalagi yang kurang?” Sora sedikit gelisah
“Masih ada hal yang harus gue urusin.” Singkatnya.
Ya.. Maru harus masih menunggu sampai hatinya mantap. Tanpa alasan, dia merasa ragu. Dia ragu untuk bercerai dengan Sora, dia mulai terbiasa dengan kehadiran Sora di hidupnya. Meskipun Maria sudah berstatus janda. Dan kini wanita itu menunggu duda Maru.
Maru terus didesak dengan pertanyaan yang sama oleh kedua wanita yang kini berada di kehidupannya. Namun, kini Sora terasa lebih mendominansi dirinya dibandingkan dengan Maria. Dia terganggu dengan Sora yang terus bertanya tentang perceraian.
Maru awalnya berpikir akan sedikit kesulitan mendapatkan persetujuan perceraian dari Sora. Tapi ternyata sangat mudah. Sekarang yang perasaan Maru yang tidak tenang karena terus ditanya tentang perceraian. Seolah-olah Sora yang mengajaknya untuk bercerai, padahal dirinya sendiri yang pertama kali mengungkit tentang perceraian.
Maru merasa dia sekarang serakah, karena dia mulai jujur pada dirinya. Dia serakah karena ternyata dia ingin memiliki keduanya. Sepertinya dia sulit untuk melepaskan siapa diantara keduanya.
Dari sudut pandang Sora, ia mulai merasa resah, karena kalau terus di tunda, dia takut Maru akan segera mengetahui kehamilannya. Bahkan dia telah merapikan beberapa pakaian kedalam koper. Dia berniat untuk pulang kerumah orangtuanya sambil menunggu panggilan untuk sidang.
Saking gelisahnya, tanpa sadar Sora setiap hari selalu bertanya tentang perceraiannya. Dan karena itu, membuat Maru sedikit jengkel. Dia yang awalnya ingin bercerai, kenapa sekarang keadaannya seperti terbalik.
__ADS_1
Karena hari ini Maru libur, dia memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan yang belum sempat dia kerjakan di kantor. Ia membutuhkan gunting, mencari-cari dikamarnya tak tampak.
Ia mencari di kamar istrinya, namun masih tak mendapatkannya. Terlihat koper dan juga tas yang rapi.
Dia begitu cepat , tidak seperti yang dipikirkan... dia benar-benaringin segera berceraidariku..
Sambil tersenyum kecut ia membuka laci meja rias istrinya. Sampai matanya tertuju ke kotak di dalam laci. Berpikir akan menemukan apa yang dicarinya, ia membuka kotak itu....
Namun, yang ditemukan membuatnya shock, tangan dan lutut nya lemas.. bergetar. Beberapa testpack yang menunjukkan hasil positif, dan kertas tertuliskan diagnosa hamil atas nama Sora.
Tidak bisa berpikir jernih, dia ingin memastikan semuanya.
Setelah sang istri pulang dan membersihkan tubuhnya, seperti biasa ia akan menanyakan hal yang sama.
“Gimana? Udah diserahin suratnya?”
“Kenapa ditunda terus?.. Sebaiknya kamu cepetan deh. Dalam waktu dekat aku bakal pulang ke rumah Ibu aku. Dan jelasin semuanya, kan perceraian kita jadi perfect.” Mengangkat bahu dan alisanya.
“Tujuan lo ingin cepat-cepat cerai apa sih?” tanya Maru.
“Lha... Kan kamu yang pengen. Harusnya aku dong yang tanya. Kamu sendiri yang bilang, semakin cepat semakin baik.” Merasa dipojokkan.
“Kalau gue bilang gak jadi cerai, gimana?”.
__ADS_1
“Kamu kenapa lagi sih? Kamu tuh maunya apa? Ini itu berubah lagi... Bisa gak kamu jangan buat aku bingung.” menjadi kesal.
“Pokoknya udah, kita cerai aja. Sebelum hubungan ini semakin terlalu jauh. Aku juga udah males sama kamu, yang gak jelas.” Meringis..
Kemudian Maru meletakkan satu testpack diatas meja yang sebelumnya dia ambil dari kotak. Sora tidak berkutik, dan hanya memandang wajah Maru. Wajahnya memerah matanya memerah...
“Kenapa lo gak bilang sama gue?” merendahkan nada bicara...
“Bukannya gak ngasih tahu ... aku Cuma nunggu waktu yang tepat aja.” Suaranya bergetar
“Kapan? Kapan waktu yang tepat?” memegang bahu Sora.
Sora terdiam, dia berpikir... bagaimana ini..
“Sekarang kan kamu udah tahu... jadi ya udah... tolong kamu percepat proses perceraian kita. Okay!”..
“Lo udah cerita ke Zaenal kita akan cerai? Dia nyuruh lu cepet-cepet cerai sama gue? Bayi itu...?” tanpa melanjutkan kata-kata, dia menatap perut dan beralih ke wajah Sora, dengan masih memegangi bahunya.
Sora Tersenyum dengan sinis..
“Terserah kamu... Anggap aja gitu, anggap saja sesuai apa yang kamu pikirin. Ini.. ini yang bikin aku gak mau bareng ama kamu lagi. Kamu yang maha benar!” beranjak menuju kamar tidur.
Kenapa dia masih bersikeras untuk bercerai meskipun keadaannya tengah mengandung? Apa dia tidak menghargai aku sebagai ayah si bayi?...
__ADS_1
Dia mengingat kertas pernyataan dokter tentang kehamilannya. Dia ingat, tanggal yang tertulis disana adalah hari dimana dia pulang dengan dipapah oleh Zenal..
Jangan-jangan?