Temanku, Suamiku

Temanku, Suamiku
103. Maaf


__ADS_3

Esok hari tiba, semua orang terbangun dengan pikirannya masing-masing, namun tidak lupa dengan kewajiban yang biasa mereka laksanakan.


Sora menyiapkan sarapan, kali ini dia menyiapkan sarapan untuk empat orang. Zaenal membantu Sora dengan menata peralatan makan di atas meja makan. Maria menunggu duduk di kursi dengan tenang, layaknya anak kecil yang sedang menunggu bagian makanannya.


Sora meghidangkan masakan yang telah selesai ia buat. Maru datang terakhir dengan setelan rapi ke meja makan, mata Maria berbinar melihat Maru yang sudah berada di ruangan yang sama dengan dirinya.


"Sayang... kamu kemana aja, kok lama, baru ketemu.." Maria bangun dari duduknya dan langsung memeluk erat tubuh Maru.


Ketiga pasang mata terperanjat, ketiganya menatap Maria yang masih terus memeluk Maru. Maru yang dipeluk, sangat terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Maria.


"Kamu ngapain, Maria.." Maru melepaskan tangan Maria.


"Kamu kok gitu sih,, kenapa? Karena ada Zaenal? Gak apa-apa, dia tahu kok. Tapi, kenapa ada Sora?" Mata Maria yang tadinya berbinar berubah menjadi sedikit sinis.


"Kamu ngomong apa sih?" Maru sedikit kesal, lebih tepatnya Maru khawatir kalau istrinya akan tersakiti.


"Dia berhalusinasi, dia bilang kalau kalian berdua udah nikah. Dan lo udah cerai sama Sora." Zaenal menjelaskan apa yang ia dengar dari Maria tadi malam.


Sora duduk dengan tenang. Memang ia merasa sakit melihat Maria yang memeluk Maru dan memanggilnya sayang, tapi Sora mengerti dengan keadaan Maria, ia terus berusaha untuk memahami semuanya.


"Udah... ayo kita makan aja." Sora mengajak semuanya untuk memulai ritual sarapan pagi.


Selepas usai menyantap sarapan, Maru langsung berpamitan untuk pergi ke kantor. Maru dan Sora memutuskan untuk membicarakan perihal dengan keluarganya esok hari, bahkan Maru sudah mengundang orangtuanya untuk datang jauh ke tempatnya.


Namun, baru Maru melangkah beberapa langkah, Maria yang sedari tadi menatap Maru tiba-tiba perutnya terasa begejolak, dia merasa ingin mengeluarkan isi perutnya yang baru dia isi.

__ADS_1


Maria langsung berlari menuju kamar mandi dan terduduk menghadap closet, mengeluarkan semua isi perutnya.


hhueekk... huueekk...


Sora membantu Maria dengan sedikit memijat tengkuk lehernya dan juga punggungnya. Sedangkan Zaenal dan Maru hanya diam mematung di tempat, tapi masih bisa mendengar suara Sora dan juga Maria.


"Kenapa aku mual banget?" Maria bertanya pada dirinya sendiri selepas mengeluarkan semua isi perutnya.


"Wajar... namanya juga hamil muda... gak apa-apa, keluarkan aja semuanya.." Sora terus mengusap punggung Maria.


"Aku hamil? Kenapa aku hamil? Aku kan belum nikah?" Tiba-tiba Maria sedikit histeris, Sora kaget dan kedua laki-laki yang sedari tadi diam menghampirinya.


Mata Maria menangkap Maru, ia berdiri dan kembali memeluk Maru.


“ Aku udah nyakitin kamu lagi, aku udah jahat lagi sama kamu.” Maria terisak.


Bak di sambar petir, Maru merasakan de javu. Terang saja, semua kata-kata yang keluar dari mulut Maria pernah ia dengar ketika keduanya masih menjalani hubungan dibelakang mantan suami Maria dan juga dibelakang Sora. Hati Maru benar-benar hancur.


Maru membalas pelukan Maria, dia menangis.


"Maafin aku... aku mohon kamu sadar.. Maria.." Maru memeluk erat Maria. Air matanya lolos dari matanya.


“ Karena sikap kamu yang terus begini, semakin buat aku seperti orang yang jahat buat kamu!”


Lagi-lagi Maru mendengar sepenggal ucapan yang pernah Maria ucapkan pada dirinya ketika Maria memberitahukan berita kehamilan dirinya.

__ADS_1


Maru melepaskan pelukannya dari Maria. Maru menghampiri Sora yang terus memandanginya. Masih dengan air matanya yang mengalir, Maru memeluk Sora dengan sangat-sangat erat.


"Maafin aku... Maafin aku..." Suara Maru bergetar, seraya terus menciumi puncak kepala Sora dan beralih pada setiap inci wajahnya.


Sora membalas pelukan suaminya, air matanya ikut lolos dari matanya. Entah kenapa Sora tidak merasa sakit karena cemburu, melainkan ia merasa sakit melihat suaminya yang tampak tersiksa.


Akhirnya Maru benar-benar berpamitan untuk pergi ke kantor, meskipun sebenarnya sudah telat. Di ambang pintu, Maria memanggilnya dan kembali memeluknya.


"Jangan telat ya pulangnya.." Dengan suara yang lembut.


Maru tidak menjawab apa-apa, dia hanya mengusap puncak kepala Maria dan menganggukan kepalanya. Mariapun melepaskan pelukannya dan melambaikan tangannya.


Mobil Maru meninggalkan pekarangan, namun baru beberapa meter melaju, Maru dihadang oleh lelaki yang ia kenal.


Langit. Langit menghadang Maru dan meminta Maru untuk keluar.


Maru keluar dari mobilnya.


"Apa maksudnya peluk cewek lain sedangkan istri sendiri ada di hadapan sendiri. Terlebih dia mantan sendiri." Tanpa basa-basi, Langit langsung menyerang Maru.


Maru yang enggan untuk melayani serangan Langit hanya menepis tangan Langit yang memegangi kerah kemejanya itu.


"Kenapa? Mau mengulang kembali seperti apa yang dulu terjadi? Mau nyakitin Sora lagi? Mau bikin Sora terpuruk lagi? Mau bikin Sora kayak orang hilang akal lagi?"


Kata-kata hilang akal yang Maru dengar telah menusuk relung Maru. Kedua wanita yang terus berada dalam hidupnya mengalami sesuatu yang katanya 'hilang akal' karena dirinya.

__ADS_1


"Kalau gak tahu apa-apa jangan ikut campur, jangan asal tuduh." Maru berniat pergi, namun lagi-lagi ditahan oleh Langit.


"Ooyy... tenang.. tenang... bicara baik-baik.." Zaenal tiba-tiba datang memisahkan keduanya.


__ADS_2