
Maria kini mulai terbiasa hidup di yayasan yang fasilitasnya lumayan itu. Maria mendapatkan penanganan yang sangat baik. Penanganan kehamilannya maupun penanganan mentalnya yang kini sedikit huru-hara itu.
Maru dan Sora sering mendatangi Maria untuk memastikan keadaannya. Dan juga untuk memberikannya support, agar mental dan ingatannya yang terpecah-pecah bisa kembali lagi jika keduanya hadir.
Untuk keadaan Maria, kini ingatannya sesekali datang. Namun, mungkin karena Maria masih tidak ingin menerima dan percaya akan kenyataan hidupnya, ia kembali menutup diri.
Maru dan Sora sangat sabar menerima keadaan Maria. Terutama Sora. Bagaimana tidak, sesekali Maria masih menganggap Maru adalah pasangannya. Dan yang lebih parahnya lagi, terkadang Maria menginginkan Maru berada di sisinya dengan memeluknya, atau memberikan kehangatan lainnya. Maru menolak mentah-mentah semua keinginan Maria itu. Maru ingin tetap bersikap real, tanpa ada kepalsuan. Agar Maria bisa cepat-cepat menerima kenyataan hidupnya. Kenyataan dimana bahwa dirinya dan Maria sudah tidak memiliki hubungan seperti dahulu, dalam artian keduanya bukanlah sepasang kekasih maupun suami istri, dan juga kenyataan bahwa Maria tengah mengandung bayi, yang mana bayinya akan menjadi anak Maru dan juga Sora.
Usia kandungan Maria sudah memasuki usia tujuh bulan. Artinya Maria sudah tinggal di yayasan kurang lebih lima bulan lebih. Dan selama itu pula Maru dan Sora memberikan perhatian kepadanya. Kondisi Maria semakin membaik, seperti sekarang ini. Maria sedikit tersadar dan mengingat kepingan ingatannya yang terpecah.
"Maru, aku bukan hamil anak kamu.." Maria menatap kosong dibangku taman, ditemani oleh Maru dan juga Sora yang memang sedang menemuinya.
"Iya, kamu bukan hamil anak aku Maria." Maru memberikan tanggapan.Pada awalnya Mru sangat enggan menerima atau menjawab pertanyaan Maria yang memang semuanya sudah tahu apa jawabannya. Namun, demi kesehatannya Maru mau merespon agar Maria tidak merasa diabaikan.
"Kamu tahu siapa anak aku?" Maria kembali bertanya masih dengan tatapannya.
"Aku gak tahu. Harusnya kamu yang lebih tahu siapa Ayah bayi kamu ini." Maru kembali meresponnya dengan Sora yang masih tutup mulut.
"Dia pergi. Bukannya aku gak tahu, tapi dianya yang gak mau aku ataupun bayi ini." Ucapan Maria ini membuat Maru dan Sora membulatkan matanya.
"Kamu tahu siapa Ayah bayi kamu?" Sora dengan lembut bertanya pada Maria.
__ADS_1
"Tapi, aku juga kurang yakin. Karena dia bilang inin bukan anak dia." Maria merespon pertanyaan Sora. Maria tersadar akan adanya suara lain selain Maru, iapun melirik Sora dan terus menatapnya.
"Sora? Kamu kesini? Sama Maru?" Maria kembali terlihat bingung. Hanya anggukkan yang Sora berikan.
"Kalian kembali bersama lagi? Dari kapan?" Maria terus menatap Sora.
"Udah lama, kita kembali lagi udah hampir dari tiga tahun yang lalu." Sora menjelaskan dengan sangat hati-hati.
"Kenapa aku gak tahu?" Meskipun ungkapannya adalah pertanyaan, namun Maria mengucapkannya layaknya pernyataan.
"Kamu tahu kok, Maria. Kamu tahu semuanya." Sora menerima tatapan dari Maria, tidak ada tatapan benci dari keduanya.
"Kita disini buat temenin kamu, biar kamu tahu. Kamu gak sendirian. Dan juga, buat matiin kesehatan kamu, bayi kamu juga, bayi kita." Sora tersenyum tulus menggenggam lengan Maria.
"Anak kita?" Maria kini sedikit tersadar dan tidak kosong lagi. "Kenapa anak kita?"
"Kita kan udah janji, bayi kamu itu buat kuta berdua." Sora masih dengan senyuma tulusnya dan juga ucapannya yang lembut.
"Jadi anak kalian? ha... gila apa? Ngapain aku kasih anak aku sendiri? Gak... ini anak aku, ya tetep anak aku." Tiba-tiba Maria meninggikan suaranya.
Sora dan Maru sangat terkejut. Maru langsung menahan Sora karena Maria menghempaskan tangan Sora yang tadi menggenggamnya.
__ADS_1
"Maria, kamu tenang dulu." Maru menenangkan Maria, namun terlihat jelas sari raut wajahnya bahwa dirinya sangat emosi.
"Kalau kalian terus datang kesini cuman buat ambil bayi aku, mending kalian pergi sekarang juga dan jangan pernah kembali lagi." Maria kembali meninggikan suaranya seraya mengelus perutnya yang sudah sangat buncit itu.
"Tapi kamu udah janji, janji akan memberikan anak kamu itu buat kita. Daripada kamu menggugurkan atau membuang bayi kamu itu." Sora sedikit tersulut emosi.
"Ha... menggugurkan bayi aku sendiri? Mana mungkin, waktu kehilangan bayi aku yang baru beberapa saat diperut aku aja sakitnya bukan main, sakit batin dan juga rohani. Lah.. ini sekarang? Mending kalian pergi sekarang juga kalau cuman mau ganggu aku." Maria masih emosi.
"Sayang... kamu tenang dulu. Kamu jangan sama-sama emosi. Ingat, kita harus memaklumi semuanya dulu sekarang." Maru menenangkan Sora yang matanya mulai berkaca-kaca.
Sora hanya bisa diam menahan rasa sakitnya dan juga menahan emosinya.
"Yaudah, kita pergi dulu. Sekarang ayo kita masuk dulu." Ajak Maru pada Maria. Maria ikut melangkah mengikuti Maru dan diikuti oleh Sora.
"Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan hubungi kita aja. Kamu minta tolong sama pengurus disini." Maru juga menenangkan Maria.
"Buat apa aku hubungin kalian berdua. Aku baka hubungin orangtua aku lah.." Maria sangat sinis.
"Maria... kita sekarang disini bukan hanya semata-mata karena kita benar-benar ingin. Kamu harus ingat dan terima kenyataan kamu. Orangtua kamu udah gak ada, dan yang mengurus kamu sekarang itu kita berdua. Kita berdua adalah pihak keluarga kamu disini." Maru menempatkan tangannya pada pundak Maria. Lagi-lagi Maru selalu berkata jujur tanpa ada yang harus ditutupi.
Maria yang mendengarkan, matanya mulai memerah dan menangis histeris. Maru memeluk Maria dengan sangat tulus. Meskipun pelukannya memang tulus, tangan Maru masih menggenggam tangan Sora tanda meminta pengertiannya dari Sora.
__ADS_1